May 21, 2017

#INDIANSPOUSE: Perempuan Dalam Pernikahan


Love Marriage or Arranged Marriage?

Ini pertanyaan paling umum yang kerap dilontarkan kepada pasangan suami-istri. Umumnya pasangan suami-istri di India memang dijodohkan yang mana dari beberapa aspek nggak sepenuhnya merugikan. Pernikahan yang diatur (arranged marriage) pada dasarnya dilakukan akibat tradisi pacaran yang masih dipandang tabu bagi sebagian besar komunitas di India, khususnya komunitas muslim. Haram, kalo suami saya bilang, padahal mah dia sendiri juga pacaran :P

Dalam keluarga hindu, sistem perjodohan cenderung lebih saklek karena terkait dengan ilmu perbintangan dalam kepercayaan mereka. Jadi kalo ada perempuan sama laki-laki saling suka tapi ramalan bintang mereka buruk, ya bye-bye deh. Ada juga yang bisa disiasati dengan ritual buang sial, contoh: menikahi binatang atau tumbuhan agar kesialannya jatuh ke suami/istri pertama (si binatang/tumbuhan) baru kemudian si gadis bisa menikahi orang biasa.


Saya nggak tahu banyak kasus dalam keluarga hindu, cuma kayaknya kasus pemberontakan memang  lebih jarang. Buktinya lihat aja komunitas hindu-India yang bermigrasi ke Indonesia, rata-rata keturunannya masih dinikahkan dengan orang-orang sesama imigran tanah Hindustan. Berbeda dengan keluarga Islam atau Kristen yang beberapa telah memberi kebebasan memilih pasangan hidup ke anak-anak mereka, contoh terdekat ya keluarga suami saya. hehe..

Meskipun bukan berarti love marriage itu bisa didapat begitu saja, tentu ada dramanya masing-masing. Haha.. ibarat nonton film shahrukh khan tapi nggak ada adegan bergoyang kan kurang afdol, ye nggak?

Sesama orang Indonesia yang menikahi pria India pasti mengerti banget soal ini, Ada yang awalnya nggak disetujui sampe harus kawin lari. Nikah di negara ketiga dan baru direstui mertua sampe dah beranak tiga.

Adaaa cerita kayak gitu mah.

Belum lagi cewek-cewek Indo yang nangis bombay karena hubungan kandas akibat si cowok India takut nggak dapet warisan keluarga. Nah yang kayak gini sih biarin aja lepas, itu tandanya si cowok emang nggak bener-bener cinta kamu, sis.

Nggak usah jauh-jauh pernikahan Indian-Foreigner ya, kakak kedua suami saya aja yang nikah dengan sesama india muslim pake acara kawin lari hampir setahun karena keluarga si cowok nggak setuju. Aroma kawin lari juga mulai tercium pada salah satu sepupu Ka Salam yang baru 18 tahun, duh, dek! Belom juga dapet ijazah tapi ortunya udah gencar nyariin dia calon suami.

Nah masalahnya si adek ini udah punya cowok tapi si bapake kurang sreg. Alesannya rumahnya kecil lah, apa lah, ya di satu sisi dapat dipahami, mungkin si Om pengen anak perempuannya hidup enak, karena banyak juga kasus menantu perempuan yang malah di-abuse dan disuruh kerja banyak sementara mertua santai-santai. Tapi kan di sisi lain, kalau memang mau anaknya hidup nyaman kenapa nggak ortunya aja yang ngurusin? kenapa ngebet buru-buru mau dinikahin?

Nah, lho.

Lah, memangnya kalo udah nikah harus sama mertua ya, Mel? Nggak bisa tinggal mandiri?

Ini satu lagi pertanyaan yang sering saya dapetin, emang harus tinggal sama mertua?
Yah, umumnya sih gitu. Kalau cewek-cewek India sih udah mengerti betul tradisi itu, jadi ya bagi mereka tinggal sama mertua itu ya udah sewajarnya. Kecuali kalau suami mereka kerja di gulf country (negara-negara timur tengah) dan mereka bisa ikut suami, ya biasa mereka ngikut. Tapi banyak juga kasus daughter in-law yang tetep tinggal sama mertua sementara suaminya kerja di gulf.

Loh, kok gitu? Yaiyalah, kan katanya setelah menikah perempuan itu milik suaminya sementara si suami masih milik ibu yang melahirkannya, jadi semisal si kangmas kudu ke negara lain buat cari nafkah, si istri ya tetep sama mertuanya dong. Ye nggak?

Nggak sependapat? Saya juga enggak sih, hehe..

Tapi kan berbeda pendapat bukan berarti harus menyalahkan pendapat yang lain. Nyatanya cewek-cewek India sendiri kebanyakan terima-terima aja, walaupun saya tahu banget beberapa dari mereka menerima itu sebagai unconveniece circumstances yang harus mereka jalani dengan tabah karena memang sudah "kodrat"-nya. Nggak heran kan, rumah orang India itu besar-besar, ya namanya juga rumah untuk tiga generasi, hehehe..

Walaupun sebenarnya di kultur Indonesia ada juga tradisi yang hampir mirip. Misalnya saja dalam kultur masyarakat batak dimana anak perempuan harus mengikuti keluarga suami sebagai ganti sinamot (mahar) yang telah dibayarkan laki-laki ke keluarga perempuan.

Baca juga: Hari Kartini & Kebebasan Perempuan

Ya tapi kan kalo di India si cewek yang bayar dowry (mahar) ke cowok, kok kayaknya gitu banget, udahlah habis ratusan juga buat dowry eh masih harus pisah sama orang tua sendiri. Sedih ya. Ini sumpah saya sedih loh, serius, bukannya nyinyir. Saya mah ngapain nyinyir, orang saya nikah tapi menang banyak. Mau nyinyir pun nggak ada hak.

Kalau pun ada yang mau saya nyinyirin, saya cuma mau nyinyir keputusan mahkamah agung India yang akan mengabulkan tuntutan cerai seorang suami apabila istrinya memaksa tinggal berpisah dari orangtuanya yang lanjut usia. Silahkan cek beritanya di The Hindu: India grants divorce to man whose wife refused to live with in-laws.

dan keputusan mahkamah agung ini memang terbukti kontroversial kan
buktinya yang nyinyirin juga banyak

Eh tapi ada juga kok yang nggak bayar dowry dan nggak tinggal sama mertua, contohnya ya kakak ipar saya, padahal setelah dapet restu, mertuanya beberapa kali udah minta dia untuk tinggal sama mereka sementara suaminya kerja di Qatar, tapi si kakak ipar lebih milih ngontrak rumah dan mengabaikan nyinyir para tetangga.

Banyak ibu-ibu Indonesia yang menikah dengan sesama Indian pun begitu. Umumnya mereka memilih hidup terpisah dengan mertua, walaupun ada juga yang nggak masalah tinggal sama mertuanya. Lagi-lagi itu kembali ke pilihan masing-masing. Nggak semua mertua India itu segalak ibunya Baldev di serial Veera ya.

Baldev, Veera dan Bumer nyinyir



May 18, 2017

Stockholm & My First Cruise Ship

If you're still up when the ships in the port prepare to set sail
Comb the beach and put those blue flowers up in your ponytail
***Captains and Cruise Ships, Owl City***

Helsinki dingin dan kelabu saat saya memandanginya dari balik kaca jendela yang basah. Sore hari di penghujung musim gugur waktu itu, gerimis turun tipis-tipis bersama kabut tebal berair melingkupi seluruh kota.

“Ini dia, akhirnya,” kata saya dalam hati sembari menempelkan pipi pada kaca jendela mobil yang dingin. ”Helsinki!”

Bulan kedua saya berada di Finlandia, ini pertama kalinya saya ke Helsinki. Bertahun-tahun tinggal di Aceh pada masa-masa konflik dan tsunami membuat nama Helsinki sungguh tak asing lagi sedari saya kecil.

Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai ho(s)t dad saya memasuki sebuah area parkir terbuka tepat di sisi kanal. Rombongan kami berangkat dari Pertunmaa menuju Helsinki dengan 3 mobil, terdiri dari keluarga Kappanen (7) dan keluarga Mäntynen (7) plus dua anggota tambahan yaitu Elsa dan salah satu teman dekat anak tertua keluarga Mäntynen. Totalnya 16 orang.

Silja Serenade
Kapal Silja Serenade yang akan kami tumpangi dijadwalkan berangkat pukul lima sore, menempuh perjalanan mengarungi laut baltik selama kurang lebih 17 jam dari pelabuhan Olympia dan akan menepi di Stockholm selama 7 jam untuk kemudian berlayar kembali ke Helsinki pada jam yang sama. Jadi total perjalanan yang akan ditempuh kurang lebih selama 41 jam.


Saat menaiki kapal, saya pun langsung merasa seperti Rose de Witt Bukater dalam film Titanic. Lol. Disambut oleh Kapten dan awak kapal serta sesosok badut karakter yang memancing kehebohan anak kecil, suasana penyambutan penumpang betul-betul penuh suka-cita. Tak lupa disediakan pula booth foto di dekat pintu masuk lengkap dengan fotografernya. Foto-foto tersebut nantinya akan dicetak dan dipajang di koridor kapal dan bisa kita beli dengan harga 10 euro.

Sleeping Arrangments

Selama pelayaran, penumpang dapat tinggal di dalam cabin yang bisa dipesan saat reservasi tiket. Ada begitu banyak tipe cabin yang tersedia, dari mulai yang berukuran 9, 11, 14, 18, 25 hingga 75 meter kuadrat. Harganya pun bervariasi dari seharga dua jutaan  hingga belasan juta rupiah per malamnya, Tersedia juga kabin khusus untuk penumpang handicapped, penderita alergi dan yang membawa binatang peliharaan.

Cabin yang saya tempati bertipe Promenade dan berada di dek 9, harganya 374 euro untuk dua malam dan bisa ditempati sampai empat orang. Tipe Promenade ini memang yang paling laris karena harganya yang nggak terlalu mahal dan akses visual via jendela ke Promenade.

Promenade di dek 7

Entertainment

17 jam di kapal? Gilak! Apa nggak mati bosan?
No-no-no-no!
Hiburannya justru ada di kapal ini. Dari mulai kids playroom hingga pool&spa. Belum lagi berbagai macam acara hiburan yang selalu berbeda dalam setiap pelayaran. Dari pertunjukan sirkus afrika hingga pertunjukkan kabaret, plus konser artis ibu kota. Mana mungkin bosan.

Area favorit saya tentu saja ruang bermain anak. Disini saya bisa ikut menggambar dengan kertas dan pewarna yang telah disediakan, nguping anak-anak kecil ngobrol pake bahasa swedia atau sekedar menontoni ayah-ayah tamvan menjaga putra-putri mereka sementara para istri menghilang di duty free. Haha..

Shopping

Memang nggak salah, kesempatan berbelanja di kapal pesiar ini sungguh sayang tuk dilewatkan. Berbagai macam barang dari brand terkenal dijual dengan harga 15-30% lebih murah dibanding harga normal. Apalagi di Finlandia apa-apa terkenal mahal, jadi wajar kalo mak-emak pada kalap.


Dari mulai parfum, make up, skincare, jam tangan sampe jewellery juga semuanya diskon..kon..kon. Selain berburu barang branded, disini juga kita bisa nemu beberapa produk snack yang nggak dijual di Finlandia, kayak oreo (iya di Finlandia nggak ada oreo) dan beberapa varian cokelat impor produksi negara Eropa barat yang murah-murah dan nggak tersedia di supermarket on the shore. *lirik Fazer cokelat asli Finlandia yang superenak tapi kok harganya bikin enaknya terdiskon 10%*

Yah, walaupun tak bisa dipungkiri, segede-degenya diskon tetep aja jatuhnya di saya jadi nggak hemat karena yang hemat itu cuma windows shopping.

Sini Sabotage dan JVG

Gempor keliling kapal pesiar tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa konser akan segera di mulai. Beberapa bocah SD dengan wajah terlukis "SINI" di pipi kiri dan "JVG" di pipi kanan langsung berjalan menuju pomenade dengan terburu-buru. Saya pun tak mau kalah ikut-ikutan melukis SINI dan JVG dengan cat air dari playroom di masing-masing pergelangan tangan lengkap dengan lambang hati bertabur glitter. Padahal ngefans pun tidak, mendengar namanya saja baru hari itu. -_____-


Beberapa jam sebelum konser
sempat diadakan meet n greet dan signing session
tapi karena saya anaknya kampungan,
baru pertama kali naik kapal pesiar dan mau dadah-dadah 
cantik ala-ala syahrini dari dek terbuka saat kapal
berangkat jadi lah saya MASUK ANGIN.  Nyahahah
padahal yang didadahi juga kabut tebal kayak gini *hhhhhh*
Tapi saya cukup menikmati konser Sini Sabotage dan JVG ini, kok, walaupun sebelumnya saya nggak pernah tahu lagu-lagu mereka. Entah kenapa saya ikut terbawa suasana para fans yang nonton konser.

The Crowd
Mak-emak dipojokkan aja antusias. Masa saya enggak.
-__________-

Awalnya saya menonton konser dari Promenade. Berdiri diantara kerumunan ABG berpakaian neon, menjerit dan berjingkrakan. Tubuh kuntet saya bisa dengan mudah nyelip sini sana hingga baris paling depan. Memasuki lagu ketiga, saya memutuskan balik ke cabin biar bisa nonton konser bareng Peppi, Minttu dan Elsa dari balik jendela.

JVG, Jare and VilleGalle
G A N T E N G

Waktu akhirnya JVG masuk stage, entah kenapa saya jadi tambah brutal. Apalagi waktu Jare dan VilleGalle mulai tunjuk-tunjuk ke atas ngasih fans service ke orang-orang yang nonton dari jendela kabin. Uwaahh, menjerit lah saya berasa saya yang ditunjuk-tunjuk. Apalagi cuma saya yang pake hijab kan, pastinya beda sendiri, pasti paling kelihatan *CUIH perasaan aja. #berharap*.
Padahal mah saya nggak tahu aja, kali doi nunjuk-nunjuk pas bagian ngerap nyumpahin orang.


tetep happy mesti ra ngerti

Management Tallink Silja Line memang selalu mengundang artis-artis tertentu dalam setiap pelayaran. Host family saya memang langganan tiap tahun pergi bersama keluarga-keluarga yang lain, dan biasanya memang saat syysloma alias auntumn break yang menandai masuknya musim dingin. Nah, sepanjang musim dingin, laut Baltik ini akan membeku jadi orang kalo mau ke stockholm tinggal skating dan yang namanya musim dingin di negara-negara Nordik dan Skandinavia itu lamanya bisa sampai setengah tahun.

Bbrrrrr!


Stockholm

Kapal yang kami naiki berlabuh di Stockholm beberapa jam setelah kami sarapan. Alhamdulillah cuaca cerah dan tidak terlalu dingin. Sesampainya di stasiun metro, kami langsung membeli tiket sekali jalan zona A seharga 36krona (54k idr) dan turun di Gamla Stan.

Gamla Stan berada di sebuah pulau kecil yang menjadi pusat kota Stockholm

Menyusuri pusat kota Stockholm sangat menyenangkan. Kanal-kanal lebar yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah dari abad ke-17 dan 18 serta jalan-jalan kecil berbatu membuat saya seperti berada dalam labirin kota di abad pertengahan. Konon, kota tua Stockholm bahkan telah mulai ada sejak abad ke-13.



 

Melewati Stockholm Palace, saya menemukan pengawal kerajaan berseragam biru berjaga di depan pintu. Istana yang konon terkenal dengan penampakan The White Lady ini merupakan kediaman resmi anggota keluarga kerajaan sekaligus juga tempat diadakannya acara-acara kenegaraan. Terdapat 1.430 ruangan dan 600 jendela di dalam istana berarsitektur baroque yang luar biasa indahnya.


Tak hanya itu, pada dinding bagian luar istana kita juga dapat menemukan kolam-kolam kecil yang diatasnya diukir nama-nama raja Swedia terdahulu layaknya batu nisan. Kalau melihat ke dasar kolam, kita bisa melihat kumpulan koin krona yang dicemplungkan para turis.
Salah satu kolam di area luar 

Setelah puas keliling kota, destinasi berikutnya apalagi kalau bukan belanja. Lagi-lagi, karena harga barang-barang di Stockholm lebih murah daripada di Finlandia. Kami pun segera melangkahkan kaki menuju pusat perbelanjaan. Dan yang dibeli adalahh.. jeng jeng.. BONEKA BAYIK!

Haha.. nggak ngerti lagi sama ibuk host saya. Katanya sih boneka Ruben Barn asal Swedia ini asli handmade dan lembut banget. Berat dan bentuknya pun mirip banget sama rupa bayi asli. Saya sampe melongo waktu host-mom ngasih liat kelamin boneka yang bentuknya ikut 3 dimensi. Astaga!
Cus lah si ibuk beli 4 boneka, padahal mah di rumah udah punya dua.

Beberapa saat kemudian ternyata hujan turun deras banget. Padahal sebelum pergi saya udah liat-liat forecast dan katanya Stockholm bakal cerah. Huuu..

Berhubung hujan dan laper, Heikki cus beli makanan dari supermarket dan kita pun ngemper sambil ngemil *sebenernya sih makan siang* sambil nunggu hujan berenti. Padahal waktu itu lagi rame banget secara kami ngemper di dekat pintu masuk mall plus depan jalan masuk stasiun metro. Wkwkkw.. untuk nggak ada yang ngelempar koin.

Ngemper don't care

Eh, ada dedek gemes yang lagi street performance di emperan mall.

Akhirnya Makan ENAK!

Sekembalinya ke kapal kami langsung siap-siap untuk buffet dinner. Akhirnyaaa! Setelah selama ini cukup puas mengganjal perut dengan croisant, muffin, es krim, puding, biskuit, jeruk, pisang, apel dan KERIPIK KENTANG, ini lah saatnya pesta pora! Haha.. sebenernya ada banyak sih restauran yang berjejer di Promenade, tapi karena saya pelithemat, rasanya nggak rela aja gitu keluar uang berlebihan buat makan di restoran. Secara, biaya makan di negara Skandinavia itu bisa dua kali lebih mahal dibanding makan di negara eropa lain.

Kalau soal makan, memang host-family jarang banget makan di restoran. Bahkan hampir nggak pernah malah, kecuali satu kali dan itupun ditraktir abangnya host-mom. Biasanya kalau lagi di luar kami lebih milih makan di tempat murah meriah kayak Subway, McD, atau IKEA.  Perut kenyang, kantong aman,

Lahh di kapal pesiar gini manee adeee IKEA, jadi lah dari kemarin makan malem, sarapan dan makan siang cukup ganjel perut sama makanan dari supermarket. Kenyang kok kenyang :D #sudahbiasa #rahasiadiet #dietsuksesalamelyn #dietkere

Untuk buffet dinner, untungnya Heikki udah pesen kupon saat reservasi jadi harganya lebih murah dibanding beli on board. Sebenernya dapet juga sih kupon sarapan seharga 11 euroan. Tapi ya sarapannya bule itu paling apa sih? Yang spesial juga paling omelet. Biar judulnya buffet, kalo sarapan mah tetep aja isinya makanan supermarket. Lol

Buffet dinner TERPUAS. Banyak asian food. Aaahhh.. pengen nangis saya.
Walaupun Peppi hampir muntah liat saya makan kerang sama udang.
Maklum Finlander umumnya cuma makan ikan beromega tinggi, haha
Jadi kali nggak ngerti mereka kalo kerang sama udang bisa dimakan.
Untung di sana nggak ada kepiting, bisa bisa syok mereka liat saya makan kepiting.
Host family juga sukses terbengong-bengong liat saya makan pake sumpit.
Ya ampun. #mendadakalien


Hiburan lagi.

Setelah kemarin puas dihibur dengan penampilan rap dari Sini Sabotage dan JVG, panggung yang ada di tengah promenade semalam telah hilang, berganti dengan garis batas melingkar dan tali-temali yang menjuntai dari langit-langit hingga lantai. Yep, It's circus time!





Begitu acara sirkus usai, acara hiburan berpindah ke Atlantis. Kalau saya bilang, Atlantis ini semacam pub yang kids friendly karna di sana banyak banget balita nongki-nongki cantik. Haha.. 


Pertunjukan pertama adalah penampilan cabaret yang mengusung tema Lady Gaga. Sebagaimana temanya tarian-tarian yang dibawakan diiringi medley lagu-lagu terhits Lady Gaga. Jujur saya kurang faham sih gimanan alur ceritanya karena kendala bahasa. Dan ini juga pertama kalinya saya nonton pertunjukan kabaret, so I can't say it was the best.

Saya cuma bisa bilang pertunjukkannya menarik dan menghibur. Jelas sekali kelihatan profesional, kostum penarinya seronok tapi nggak ada kesan erotis sama sekali. apalagi ada mas-mas dengan kegantengan Darren Criss campur Reza Rahardian, wahhh..






Karena kamera keburu mati jadi saya nggak punya foto-foto saat pertunjukan. Mau uplot foto yang diambil dari hp jadul resolusi 2mp dalam kondisi low light kok ya kayaknya nggak berfaedah banget. Yasudahlah ya.

Moomin Disco. 

Sebenernya acara berikutnya cuma joget seru-seruan bersama Moomin (kiri) dan Pikku Myy (kanan).
Keduanya merupakan karakter dari serial kartun paling terkenal di Finlandia.
Disini anak-anak kecil happy banget karena bisa joged-joget heboh bareng karakter kartun favorit mereka. Nggak cuma anak-anak sih, orang dewasa pun juga ikut joged-joged bergembira sepanjang malam. Kaki saya aja sampe nyut-nyutan. haha.. Semua orang kelihatan benar-benar menikmati hari terakhir mereka di kapal ini. Acara dansa-dansi selesai saat sebuah lagu berirama waltz diputar, jomblo-jomblo melipir ke tepian,  diganti oleh pasangan kakek nenek yang saling berpelukan sembari meliuk gemulai.

Kecuali Mandi dan Lotta, yang berdansa tango dalam iringan musik slow

Atlantis pun ditutup.

Pulang

Pukul 10 pagi, kapal yang kami naiki berlabuh di Helsinki. Sama seperti ritual kedatangan, peristiwa kepulangan pun tak kalah menarik. Setidaknya pertanyaan saya soal buat apa membawa koper untuk liburan 3 hari 2 malam terjawab sudah. Alasannya tentu saja untuk barang belanjaan. Apalah saya yang pergi pesiar cuma pake tas gendong kecil yang udah penuh sama kolor dan baju ganti untunglah ada tote bag.

Dan bahkan koper aja nggak cukup, gengs! Beberapa cowok kelihatan mendorong trolley yang isinya berdus-dus bir dan kotak wine.

April 21, 2017

Hari Kartini & Kebebasan Perempuan

Jujur saja, dulu saya juga sering ikut nyinyir dalam kontroversi Hari Kartini.
Kenapa Kartini? Apa hebatnya Kartini? Apa yang luar biasa dari berbalas surat dengan para penjajah sementara kita punya Cut Nyak Dhien yang bertempur melawan penjajah. Tidakkah perempuan dengan tombak sudah pasti lebih keren dibanding perempuan dengan pena?

Begitu pikir saya dulu.

Baru saat menonton film Kartini dua hari lalu rasanya pikiran saya terbuka. (Baca review lengkap film Kartini disini) Alasan kenapa hari Kartini perlu ada.

Sebab bukankah setiap pertempuran punya perangnya masing-masing. Cut Nyak Dhien lahir 31 tahun lebih dulu ketimbang Kartini tetapi Cut Nyak Dhien jelas-jelas telah memiliki kemewahan ikut bertempur di medan perang sementara Kartini masih terpasung dalam pakem perempuan lahir-pingit-menikah-mati.

Singkatnya Cut Nyak Dhien telah merdeka lebih dahulu. Cut Nyak Dhien bahkan punya pilihan menolak pinangan Teuku Umar sementara Kartini yang puteri bupati masih harus rela berjalan jongkok untuk menemui ayahnya. Lantas pertempuran macam apa yang harus diperjuangkan perempuan-perempuan jawa yang kastanya sudah otomatis jatuh di bawah laki-laki bahkan sebelum mereka dilahirkan?

Saat tinggal di Malappuram saya sering memperhatikan perempuan-perempuan yang saya temui. Apa rasanya hidup menjadi mereka? diajari cara mengurus rumah semenjak kecil, lalu dinikahkan saat berumur 18 tahun. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, perempuan cukup pandai mengurus rumah dan mengenyangkan perut suami. Kebanyakan bahkan nggak bisa memilih ingin menikahi siapa. Lalu setelah itu mereka diboyong ke tempat mertuanya, memasak, menyapu dan mengepel rumah.

Apa rasanya?

Sudah gitu masih pakai terlilit hutang bank untuk biaya dowry segala. Susah payah minta izin hanya untuk main ke rumah orang tua sendiri tapi saat mereka hamil, mereka dipulangkan ke orangtuanya untuk "beristirahat". Bahkan saat menulis ini aja saya kepingin nangis.

Seperti mesin pencuci baju yang di'istirahat'kan dulu saat lagi macet. Begitukah?

Mereka bilang itu tradisi.
Mungkin selamanya saya nggak akan bisa mengerti bagaimana mereka bisa hidup seperti itu. Apa artinya bernafas tiap hari dalam tradisi yang mengekang? Mungkin selamanya saya nggak akan bisa paham.

Masih terasa jelas juga tatapan iri mereka saat tahu pernikahan saya atas dasar cinta. Nggak banyak perempuan India di daerah saya yang memiliki kemewahan semacam itu. Salah satu tetangga yang sedang hamil 5 bulan mengelus perutnya sambil menatap saya sendu, "saya dulu juga punya pacar tapi orangtua saya nggak setuju,"

Entah kenapa tiba-tiba saya sangat bersyukur Indonesia punya Kartini.

Perjuangan Kartini adalah perjuangan membebaskan perempuan. Kebebasan baginya mungkin cuma nggak perlu capek jalan jongkok dan bisa menuntut ilmu. Kebebasan bagi perempuan Malappuram mungkin hanyalah hak membuat pilihan. Kelihatan sepele, but that's the luxury they can't afford.

Pada akhirnya perang melawan penjajah memang tidak bisa dibilang mudah, tapi bukankah perjuangan melawan akar tradisi kita sendiri juga termasuk perang?

Yang mungkin -mungkin loh ya- sedikit lebih sulit.

Karena membenci orang lain itu mudah, tapi apa yang lebih sulit dari harus membenci bagian dari diri kita?

Untuk itu lah saya rasa Hari Kartini perlu ada, untuk mengabadaikan sosok Kartini yang mati muda dan semoga inspirasi Kartini tetap hidup dalam diri kita.

Selamat ulang tahun, Kartini.