October 28, 2008

Ketika kita diuji..

Setelah semua perbedaan dan perdebatan yang berhasil kami(aku+galuh) satukan dan selesaikan. Akhirnya aku sampai pada 1titik dimana aku benar-benar takut kehilangan dia. Aku benar-benar ga tau jalan mana yang kelak akan dia tapaki. Tapi aku lebih gak tau lagi sikap apa yang harus kuambil seandainya dia memilih jalan yang salah. Dan aku akan semakin gak tau ketika harus mulai mencari lagi sebuah tongkat yang akan kudaulat sebagai penguat.

Mungkin bukan gak tau, tapi emang gak mau.

Perjalanan kami uda cukup panjang, nyaris 3tahun. Dan jalan yang kami tapaki juga gak mudah. Bukan Cuma kesenangan buah kekompakkan itu yang berhasil kami kecap. Tapi perdebatan-perdebatan panjang dan melelahkan juga harus kami alami untuk menyatukan perbedaan. Jadi jangan harap aku akan dengan begitu mudah menyerah pada orang yang disebutnya lelaki bodoh itu. Jangan harap aku sudi mengerti pada apa yang entah dengan kamus mana sehingga bisa disebutnya cinta.
Yah, mungkin yang tengah melandanya kini memang benar cinta, tapi cinta seperti apa?


Well, mungkin aku ga bakal secemas ini kalau situasinya gak kayak gini.. Entah kenapa, firasatku bilang kalo perasaan mereka sama. Masalahnya adalah aku gak tau apa si lelaki bodoh itu mau repot-repot mengerti mengenai adab meramu cinta yang syar’i. Sekarang, aku cuma bisa berharap bahwa masih ada sekantong kesadaran yang tersisa dalam kepalanya.


Ah, ukhti….
Bagaimana bisa semuanya jadi serumit ini?


Hanya tak ingin kau jatuh

Ceritakan padaku ukhti..
Dengan apa dapat kubantu kau untuk mengakhiri.
Karena aku sungguh tak mengerti..

Nanti akan kutanyakan pada malam.
Dengan apa api ini dapat padam.
Asal kau di ujung sana tak tinggal diam.
Membiarkan dirimu terbakar hingga remuk-redam.

Atau nanti aku akan tanyakan pada angin ribut
Dari tanah kumuh mana rasa itu kau pungut.
Sebab disini aku cemas oleh segala tau.

Bahwa mawaddah itu kian merayu dimatamu

Bahwa hasrat itupun kurasa mulai menggebu

Tapi cinta tetap harus menunggu
Sebab kita telah sama-sama tau
Untukmu
Untukku
Belumlah halal meski kita memaksa sang waktu.

Bukan, ini bukan sekedar balasjasa
sebagai pengganti nasehatmu tatkala aku terlena
pada sengenggam rasa yang dibawanya
Kau hanya harus tau
bahwa aku hanya tak ingin kau jatuh...

No comments:

Post a Comment