November 2, 2008

La tahZaN

Beberapa hari ini aku kembali mikir.
apa aku uda terlalu jauh mencampuri urusannya?
apa kini aku uda sampai pada batas privasinya?
atau mungkin saat ini aku uda melewati batas privasi itu?

tapi aku bener2 cemas mikirin dia.
aku ga bisa menahan diri untuk ga turut campur.
entah kenapa feelingku bilang kalau antara mereka tuh ada yang ga bner.

aku memang diam.
tapi aku yakin, dia pasti tau bahwa diamku bukan pertanda setuju.
aku yakin, dia pasti menangkap isyarat ketidaksukaan dalam diamku.

rasulullah diam ketika ada sesuatu yang tidak dia sukai namun tetap dibenarkan.
aku ga tau apakah hubungan mereka dibenarkan.

mereka hanya teman.

haha.. sebuah pernyataan yang membuatku tertawa dan bertanya

benarkah?

hh.. yang pasti semua ini tak hanya menimbulkan prasangka, tapi telah memudarkan kepercayaanku pada saudaraku sendiri.

aaaarrrrrrgggghhhh..!!!!!!!!!!

seharusnya ini ga boleh terjadi.
dia pasti kecewa jika tau aku ga percaya padanya..

hh.. aku harus percaya..!!
harus percaya..!!

toh, dia telah cukup dewasa untuk membedakan baik dan buruk.
benar dan salah.

tapi cinta bisa saja membuat orang buta.
yang benar bisa jadi salah,
yang buruk bisa jadi baik,

aaarrrgggghhh..!!!

sekarang aku harus buat apa?

ini ga seperti kasus rahma yang kunasehati dua kali kemudian kubiarkan sebab dia tak juga paham.
ini bukan tentang rahma yang pernah kami tangisi bersama.
ini bukan tentang rahma yang pernah kami peringatkan kemudian kami tinggalkan karena merasa telah gugur kewajiban.

tapi ini tentang dia.
saudari sekaligus sahabatku.

hh.. mungkin Allah sedang menguji ikrar kami dulu..

bahwa kami akan saling mengingatkan jika ada salah satu dari kami yang salah arah.

bahwa seorang dari kami akan tetap berdiri dan mengulurkan tangan ketika salah satu dari kami terjatuh.

bahwa kami akan tetap menoleh dan menunggu ketika salah seorang dari kami memanggil dan tertinggal dibelakang.

bahwa kami tidak boleh marah ketika diingatkan.

dan bahwa kami harus tetap mengulurkan tangan meskipun yang tengah terjatuh itu tidak mau menyambutnya.

aku pernah terjatuh dan dia memenuhi ikrarnya.

kini dia tengah terjatuh, dan seharusnyalah aku tetap mengulurkan tangan.

ini bukan sekedar untuk memenuhi ikrar.
tapi ini lebih karena kepedulian terhadap saudariku yang tengah terjatuh.

sudah cukup segala kesedihan.
yang diperlukan sekarang adalah tindakan..

No comments:

Post a Comment