November 2, 2008

tentang kita.. perempuan.

ini aku copy dari postingan seorang saudaraku yang sangat peduli pada kita, perempuan.
postingan ini dia dedikasikan untuk semua perempuan di seluruh dunia yang dia(dan aku cintai)


Assalamualaikum Wr. Wb.
Ya, gak pernah bosan bagi ana utk selalu ingin menyatakan rasa cinta kpd kalian.
Terinspirasi dr berbagai permasalahan yang masuk di redaksi ana. (Berasa punya majalah deh, =p) Rata-rata masalahnya sama, sadar ta’aruf kelamaan tapi takut melepas; masih sayang (hwaduhh, =’(, lepaskan saja.. ); khawatir untuk selanjutnya tidak menemukan yang sebaik dia, dll.

Mngkn kita harus merubah pola pikir dan beralih dari

“Bagaimana mendapatkan dia?”

menjadi

“Bagaimana saya mempersiapkan pernikahan dengan sukses sehingga mendapatkan yang lebih baik daripada dia di sisi Allah?”

Inilah yang kdng membuat kita terlena dan seolah membuta dengan pe-er dakwah lainnya, bahwa permasalahan ummat masih banyak yg belum terselesaikan dan mana mungkin kita mampu ikut menyelesaikannya satu-persatu sementara kita sendiri masih ‘terikat’ dgn janji-janji palsu atau lebih jelasx : ‘taaruf’ gak syar’i dan sangat jauh dari ridha Allah Yang Maha Mengetahui atas segala perbuatan hamba-Nya.

Bukan, bukan maksud ana ingin mengatakan bahwa pernikahan itu akan membuat semangat semakin memburuk dan merasa bahwa itulah buah dari kontribusi dakwah yang dilakukan selama ini. Bukan sama sekali.

Memang karena pernikahan itu menyempurnakan separuh agama. Disebut sebagai separuh agama, karena ianya adalah masalah ‘aqidah. Tentang bagaimana kita berpresepsi terhadap Allah, diri kita, dan pernikahan itu sendiri.

Selayaknya sebuah hadist Rasulullah,

Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu." Muttafaq Alaihi

Bahkan, ternyata Allah lebih cinta kpd remaja yg menikah karena takut akan terlempar ke dalam kemaksiatan –Dgn kata lain ingin menjaga kesucian diri-
Segala keindahan Islam yg membungkus pernikahan tentux berdasarkan Syariat Allah, karena hanya Allah SWT saja yg mengetahui sesuatu yang baik dan pantas bagi hamba-Nya.

Namun, ukhti-ukhti fillahku. Tentang janji-janji itu. Antum sekalian jangan pernah terlena. Demi Allah, percayalah bahwa kita sudah mempunyai seseorang yang telah ‘dipaketkan’ khusus untuk kita. Telah tertulis di Lauh Mahfudz-Nya segala kepastian yang akan diberikan untuk kita.

Dan itulah letak istimewax Islam, saat Allah memerintahkan kepada kita untuk menjauhi zina (Sepaham kita, zina bermacam-macam, bukan? Termasuk zina bathin ato zina hati yang membuat hati kotor dan mengacaukan keimanan), menundukkan pandangan, berpuasa, dll. Ana kira sepatutnya memang kita pasti sudah mengetahui bahkan hafal kaidah-kaidah ato etika Islam dalam menangani pergaulan.

Tapi sekali lagi, saudaraku. Begitu banyak tipu muslihat setan yang senantiasa mencoba menggelincirkan kita. Sekalipun HANYA tausyiah, namun waspadalah bahwa dalam tiap-tiap laki-laki dan perempuan selalu ada potensi untuk saling menarik. Atau –afwan- meski hanya sebuah friendster milik seseorang yang ‘menggetarkan’ yang terpampang dengan penuh kesengajaan di box featured friend kita. (Hayo, cek featured friend masing-masing!)

Bukan, memang tak pernah ada interaksi fisik di sini, tapi rasax zina hati pun tak kalah berbahaya efeknya, kan?

“Kenapa sih kok disuruh menundukkan pandangan dan gak boleh pacaran dalam Islam?”

Hwahhh, itulah istimewa dan hebat serta dahsyatx peraturan Allah SWT yang setelah dianalisis ulang memang benar-benar subhanallah.

Allah mengerti sekali bahwa hati manusia itu lemah dan seringkali bertindak sesuai hawa-nafsux, maka tegakah kita ketika saat ini kita tengah menjanjikan sesuatu atau bahkan mejalin hubungan nonsyar’i dengan seseorang yang belum tentu menjadi pasangan kita? Tegakah kita saat di masa yang akan datang, kita hanya akan memberikan sisa cinta –Hanya SISA- kepada dia yg seharusx menerima rasa itu sepenuhnya dari kita –karena dialah Tulang Rusuk sesungguhx dan dialah ‘hadiah khusus’ dari Allah- setelah kita mencintai atau mencurahkan kasihsayang dan perhatian kepada orang lain yang sama sekali TIDAK PANTAS mendapatkanx?

Silakan jawab sendiri, dan resapilah, seberapa tega antum menghancurkan keindahan pernikahan antum di masa yang akan datang dgn perbuatan antum saat ini.
Ngeri kan? Masa sih kita mau-maux, bahkan dgn santai perlahan-lahan mencoba mengikis dan menghancurkan keagungan dan keindahan pernikahan sendiri?

Eh, masih ada yang komentar,

“Oke kalau begitu. Mmm, tapi misalkan yg kita cintai saat ini memang orang yang akan jadi jodoh kita sebenarnya gimana? Berarti gak papa dong berinteraksi berlebihan dengan dia, toh ujung-ujungnya juga dialah yang akan bersama kita dalam pernikahan.”

Yeah, berarti ini kembali lagi ke masalah barakah dan ridha Allah yang akan menaungi kita. Tentunya meski dialah jodoh kita, kita tetap mendapatkan dosa karena telah menikmati fase-fase mawwaddah sebelum waktunya.

Uhm, akhi Salim dalam sebuah bukunya berkata,

“Analogikan saja seperti semangkuk sup hangat yang rasanya tak sedap lagi setelah kita dengan sengaja memakan bumbu-bumbunya lebih dulu.”

Bener, kan? Sup hangatx jadi pahit dan sama sekali ga berasa tanpa bumbu, begitu juga dengan pernikahan yang kegiatan-kegiatanx –meskipun hanya kegiatan kecil dan terkesan tak berbahaya- telah kita lakukan lebih dulu dan tanpa ikatan yang diridhai Allah SWT.
Dan seandainya kita memang sudah sangat yakin bahwa dia memang jodoh kita, LEPASKAN SAJA! Klo udah jodoh mah, ampe ke andromeda juga mah gak akan lari, atuh neng .. Ya gak? Dan seandainya lagi bukan dia, berarti Allah SWT akan menggantix dengan yang lebih baik lagi. Yakinlah!

So, akhwat-akhwatku tercinta di berbagai belahan dunia. Jangan sekalipun, terbutakan matamu oleh interaksi-interaksi bahkan janji-janji yang sama sekali tidak jelas juntrunganx.

Tetaplah waspada, Ukh. Pelihara dan jagalah dirimu karena sebuah hadist Rasulullah mengatakan,

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: "Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat." Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Duh, ternyata ada yang komplain lagi,

“Apa-apaan sih nih, ini nih generasi muda Islam terlalu banyak diajak memikirkan pernikahan gini akibatnya mereka melupakan tugas-tugas besar peradaban. IPTEK tertinggal, korupsi kita terdepan, kesejahteraan masyarakat terbengkalai … !”

Cerdas banget pertanyaannya, kan? Sebenarnya justru pernikahanlah yang akan mendewasakan kita dan jangan sekali-kali berpikir bahwa kita ikut berjuang karena ingin mendapatkan jodoh shalih dan setelah mendapatkannya, seolah-olah kita berpikir bahwa di situlah akhir perjuangan selama ini.
Sepertinya jika sudah menikah, di sanalah akhir segalanya karena apa yang diinginkan sudah tercapai dan akan sulit sekali untuk kembali ke dalam dunia dakwah karena sibuk di rumah tangga.

Salah!

Marilah bersedih saat pernikahan kita justru menghentikan teriakan-teriakan takbir selama ini.

Sering-seringlah membuka sirah-sirah sahabat Rasullulah dan lihatlah bahwa sebelum menjadi panglima di usia 18 tahun, Usamah ibn Zaid telah menikah dengan Fatimah binti Qais di usia 16 tahun.
Atau sebelum menjadi duta ke Madinah, Mush’ab ibn ‘Umair Al Khair telah menikah dengan Hamnah binti Jahsyi.
Dan sebelum mengambil peran-peran besar di sisi Rasulullah, ‘Ali ibn Abi Thalib RA telah lebih dulu menjadi menantu beliau.
Demi Allah, mereka saja telah lebih dulu berhasil memimpin keluarga sebelum sukses memimpin dakwah.

Dan izinkan ana meminjam jawaban seseorang,

“Sebenarnya ya terserah kita mau berpikir tentang pernikahan sejak kapan. Apakah sejak sekolah, sehingga pola pikir kemandirian dan kedewasaan terbangun segera sehingga saat kuliah bisa berpikir ttg rumah tangga ato bahkan hanya mau memikirkan pernikahan saat usia sudah 60 tahun. Terserah. Hanya saja setiap akhwat maupun ikhwan akan lebih suka menikahi mereka yang telah mempelajari ilmu-ilmunya dan telah melakukan persiapan sejak dini dibandingkan mereka yang tidak peduli dengan ilmu pernikahan karena takut mengganggu kegiatan ‘penting’ lainnya.”

Ya, mungkin memang keindahan sebuah pernikahan akan lebih menyentuh mereka yang telah penuh persiapan dan kesiapan sejak dini kali ya.

Maka, ukhti-ukhti fillahku .. Dalam Islam, Ilmu mempunyai kedudukan di atas amal. Artiny, tidak mungkin kita melakukan sesuatu tanpa mempelajari ilmunya. Karena kita tidak pernah tahu, kapan Allah akan menurunkan keputusanny untuk kita. Takkan ada yang rugi jika kita memulai persiapan dan mencari ilmu sejak dini dan segera jauhilah hal-hal yang akan menghancurkan sedikit-demi sedikit pernikahan antum di masa depan.

Ingat, jangan senyum dan tertawa (bahkan bangga & bahagia) saat kita dengan sengaja mulai menghancurkan keindahan pernikahan sendiri.

Akhirnya selalu yang terbaik selayakny ...

wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) …
The Holy Al Quran – An Nuur : 26

Wallahualam.

Kesalahan murni dari ana, Kebenaran hanya datang dari Allah SWT.

NB :
-Insya Allah gak akan produktif menjalani hubungan haram & berhenti jadi budak ‘cinta’ palsu. (Hweek, Gak percaya? Ato mau muntah? Muntah aja, ana udah duluan kok, hehe)
-Pengen berbagi pemikiran aja, semoga bisa jadi inspirasi.
-Mudah-mudahan ana gak dibilang sok tahu karena ngomongin masalah di atas.
-Mudah-mudahan ana gak dibilang terlalu dini membicarakan masalah pernikahan.
-Siapapun yang ngebaca, Semoga Allah tetapkan pasangan yang terbaik untukmu, saudaraku. Amin! – ayo aminkan semua! =) -
-I’m loving all girl on this earth, Lillah!
-Ada masukan? Silakan beri komentar,

Wassalamualaikum Wr.Wb.


itu dia postingannya, semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment