December 11, 2008

don't judge a book by the tittle, huh..

Tugas karya tulisku tampaknya semakin jauh dari kata kelar. Mengingat ini uda masuk ujian akhir semester. Itu artinya buku2 Agus Mustofa galuh bakal nginep di rumahku lebih lama dari yang aku rencanain. Untunglah tu buku masih setia mejeng di atas mini kompo disamping komputer di kamarku.
Meskipun kemarin2 sempet ada kejadian tegang juga mengenai tu buku.

Jadi, ceritanya si mama tu ngeliat buku om Agus yang judulnya “Ternyata akhirat tidak kekal” yang lagi nongkrong dengan damai di atas mini kompo. Malemnya, langsung deh tu si mama beraksi menanyakan keberadaan tu buku.

Mama : “buku apa tu? Ada2 aja orang bikin buku sesat kayak gitu. Kok bisa lah ga dilarang sama pemerintah.”
Aku : “hah?! kenapa juga dilarang?, orang bukunya bagus kok,”
Mama : “mana da bagus buku kayak gitu, masak katanya akhirat tidak kekal. Orang uda jelas di Al-Qur’an dibilang akhirat itu kekal kok.”
Aku : “makanya baca dulu bukunya, baru tau maksudnya apa.”
Mama : “hh.. mama sebaik liat judulnya aja uda ga mau bacanya. Ngapain baca buku sesat kayak gitu.”
Aku : “tu lah mama, belum apa2 uda su’udzon. Belum tau apa isinya uda bilang yang macem2. maksudnya disitu tuh, akhirat ga kekal karena akhirat merupakan ciptaaan Allah. Padahal di semesta ini Cuma Allah yang kekal. Jadi jika sewaktu2 Allah ingin membinasakan akhirat, suka2nya Allah dong. Orang Allah yang bikin kok, kita mah, sebagai manusia nurut aja maunya Allah tu apa.”
Mama : “loh, orang uda ada kok di Al-qur’an bahwa kehidupan dunia ini ga kekal. Yang kekal hanya kehidupan akhirat.”

Sampai disini perdebatan semakin memanas karena papa mulai ikut2an. Sebenarnya tu buku aku pinjem sebagai referensi untuk bikin tugas karya tulis titahnya bu fuji. Aku ngangkat tema mengenai proses penciptaan manusia yang tertera di Al-Qur’an sekaligus membandingkannya dengan berbagai penemuan yang telah di dapat oleh ilmu pengetahuan modern. Aku tu Cuma mau buktiin kalau Al-Qur’an itu emang bener2 sempurna, mencakup seluruh sendi kehidupan umat manusia.

Lanjut ke perdebatan tadi, akhirnya papa bilang,

“Iya, tapi konteksnya disini tuh apa yang ada di dalam Al-Qur’an bukan apa yang akan terjadi nanti. Kalau misalnya kayak gitu, kan Cuma praduganya si pengarang aja.”

Aku yang dari dulu uda ga suka sama sifat ortuku yang seringkali menjudge sesuatu tanpa memahami betul sesuatu itu. aku langsung mikir bahwa inilah saatnya aku sadarkan mereka. Dan karena aku belum terlalu membaca mengenai perkara negeri akhirat dalam buku om agus itu, akhirnya aku coba untuk mengalihkan topic ke perkara penciptaan manusia yang menjadi tema karya tulisku.

Terus aku bilang;
“Iya, Agus Mustofa itu emang controversial kalo nulis buku. Coba liat buku2nya, ternyata akhirat tidak kekal, ternyata adam dilahirkan…”

“Hah, tengoklah, ternyata adam dilahirkan. Padahal kan uda jelas2 adam itu manusia pertama.” potong mama sebelum kalimatku selesai. Dalam hati aku girang, pancinganku disamber ikan.

Langsung aja aku bilang,

“tapi kan dia ga asal ngomong bikin hipotesa kalau adam itu dilahirkan. Semuanya itu berasal dari firman allah yang bilang bahwa sesungguhnya penciptaan isa itu seperti penciptaan adam –Q.S Ali-Imran:59- padahal kita tau kalau isa itu dilahirkan oleh maryam yang ga punya suami.”

“terus siapa yang ngelahirin adam?” tanya mama kayak nantangin.

“itulah, kan ada di Al-Quran waktu allah bilang ke malaikat kalau dia mau nyiptain khalifah di muka bumi, terus malaikat ga se7 dengan bilang kenapa engkau akan menciptakan makhluk yang sentiasa membuat kerusakan dan pertumpahan darah? –Q.S Al-Baqarah:30- Dari situ kita harusnya mikir, kenapa malaikat bisa tau kalau makhluk yang akan diciptakan allah itu akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah? Ga mungkin kalau malaikat bisa lebih pinter dari allah. Nah, dari situ si Agus Mustofa mikir kalau bisa jadi sebelum adam diciptakan telah ada makhluk seperti manusia (tapi bukan manusia) di bumi. Terus bisa jadi dari rahim makhluk setengah manusia itulah adam dilahirkan sebagaimana isa dilahirkan oleh maryam. Dan kenapa makhluk itu dibilang setengah manusia, karena makhluk itu belum punya ruh, belum punya kesadaran akal budi. Jadi adam tetap manusia pertama.” Cerocosku panjang lebar kayak trance.

“ah, iya.. mengenai peristiwa kelahiran isa. Ternyata kedokteran modern telah membuktikan bahwa peristiwa itu bisa terjadi dan disebut pembuahan parthenogenesis…”

“nah itu maksud papa ngelebih2in!”potong papa tiba2. “maksudnya, pengarang itu uda ngelebih2in suatu hal yang sebenernya ga perlu. Kayak ilmu2 modern itu, harusnya pengarang ga usa ngebawa2 perkara itu kedalam soal agama.”

Disini aku agak tersinggung karena papa menyebut kata pengarang, bukan penulis. Seolah2 membuat sebuah buku itu hanyalah pekerjaan karang mengarang biasa saja.
Benar2 seenaknya.

“lagipun kalau uda terbukti mungkin, memangnya ada perempuan yang ngalamin itu selain maryam?” si mama angkat bicara.

“kata buku itu pernah terjadi pada perempuan lain, tapi ini memang jarang banget, perbandingannya 1:1000” kataku.

“pada intinya, kita itu harus berpegang pada al-quran dan sunnah. Apa2 kalau mau tau sesuatu itu, cari di al-quran, kalau ga ada cari di hadist. Hadistnya pun harus yang shohih, kalau ga salah itu namanya dari bukhori muslim.”

“terus kita juga jangan asal menerjemahkan sesuatu, soalnya al-quran itu bahasanya tinggi. Ada ayat2 yang jelas, dan ada juga ayat2 yang hanya allah yang tau maknanya. Kita ga usa aneh2 yang jelas aja kita kerjakan. Kalau dari buku2 kayak gitu kan Cuma pemikiran manusia yang belum tentu bener. Uda gitu… bla..bla..bla.. makanya kalau pilih buku itu hati2.. bla.. bla.. bla.. hati2 sesat.. bla..bla..bla… juga ikut2 pengajian… bla…bla…kayak di binje.. ada pengajian ini.. itu… banyak tetangga kita yang jadi ga bener gara… bla.. bla.. bla..”

Selanjutnya yang terjadi adalah aku diceramahin dan pembicaraan malah mulai menjurus ke ghibah.. Aku langsung tau kalau semua ini ga bakalan worth it. Jadi aku memilih diem sambil ngedumel di dalam hati. Beginilah basibku sebagai anak. Bukankah orang tua memang selalu bener?

Huh..

Padahal apa anehnya kalau kita mencari ilmu dari buku? Bukannya kalau kita yang bego ini baca sendiri dari al-qur’an bisa ja salah tafsir. Menurutku sih, ini jauh lebih berbahaya. Uda gitu apa salahnya om agus uda nyantumin penemuan terbaru perihal parthenogenesis. Bukannya bagus, jadi kita tau bahwa tangan2 allah itu sebagian besar bekerja tanpa mengabaikan hukum2 kausalitas yang berlaku.

Mungkin mama or papa ingin mengenang berbagai peristiwa para nabi itu sebagai suatu keajaiban yang membuktikan kebesaran allah. Tapi harusnya mereka ga lupa bahwa sebagian orang yang belum merasakan kebesaran itu butuh kebenaran. Coba bayangkan betapa banyak orang kafir yang masuk islam di karenakan berbagai penemuan modern yang ternyata relevan dengan ayat di dalam al-quran.

Mereka jadi sadar bahwa hal2 yang baru ditemukan pada abad ini ternyata telah dijelaskan berabad2 yang lalu di dalam al-quran. Mereka jadi membenarkan bahwa al-quran itu memang benar2 firman tuhan, bukan karangan manusia belaka.

Yah, pada akhirnya aku sadar bahwa sesungguhnya ini semua hanya perkara persepsi dan kekhawatiran ortu pada anaknya.
Jadi kupikir yasudahlah..
Sebagai manusia, kadang kita merasa berhak menilai benar dan salah karena merasa memiliki akal untuk menalar.

Bisa jadi benar.
Tapi sejatinya dalam beberapa hal kita tidak akan pernah tau pasti benar dan salah, sama sepeti kita yang hanya bisa menerka baik dan buruk.
tapi kita tetap memiliki hak absolute untuk meyakini yang mana yang benar dan yang mana yang salah.
Sekalipun kita tidak tau pasti.

Dalam hidup kita dipaksa untuk selalu memilih, akal dan rasionalitas itulah satu2nya modal kita untuk menentukan pilihan disamping perasaan yang terkadang perlu untuk dipakai.

Tapi seandainya ada seorang pakar tassawuf yang kelihatan sangat brilian lewat tulisan2nya yang juga memberi pencerahan, kemudian seorang manager bank yang shalatnya pun masih seperti jaring nelayan. Masing2 bercerita padaku tentang makna agama menurut mereka.

Menurutmu, siapa yang akan lebih kupercaya?

coretan tambahan:

suatu ketika waktu kutanyakan pada mama apa dia meyakini bahwa hawa dicipta dari tulang rusuk adam beliau berkata itu benar. Padahal setelah aku gali secara lebih, tulang rusuk itu adalah penafsiran para ahli yang ditambahkan pada catatan kaki –Q.S al araf:189- dan mengenai inipun masih banyak perdebatan yang terjadi. Tapi paham yang menyatakan bahwa hawa dan adam terlahir kembar itu lebih bersinar dimataku. Buktinya saja anak2 mereka qabil dan iqlima, habil serta labuda. Mereka kembar dua-dua.

Sisi positifnya ialah bahwa ternyata benar kata agus mustofa, masih banyak kalangan yang menerjemahkan ayat2 al-quran dengan cara yang sangat sederhana bahkan cendrung primitive menurutku. Syukurlah, semua itu terbukti.

Tapi sekali, setiap orang punya hak untuk memilih apa yang akan mereka yakini.


Wallahu’alam.

1 comment:

  1. Agus Mustofa's books? Hmmm.. saya punya banyak koleksinya.
    Kalau boleh saya ingin sedikit curhat. Selama belasan tahun, sejak duduk di bangku SMA, saya sibuk mencari jati diri saya, sibuk mencari makna dan tujuan hidup, serta "sesuatu" yang maha besar dan membuat semesta ini ada.
    Karena saya terlahir islam, saya mencoba membaca banyak seputar Islam dan pemikirannya. Namun rasa gelisah dan kehausan saya belum terobati.
    Sampai akhirnya 2 tahun lalu saya tertarik dengan buku "Ternyata Akhirat Tidak Kekal". Sempat kaget, dan, yang jelas, penasaran, saya putuskan untuk membelinya. Subhanallah! KEhausan dan kegelisahan saya terobati. Saya menjadi lebih paham akah makna hidup dan DZAT Tauhid yang meliputi segala sesuatu di semesta ini. Saya semakin yakin akan keberadaan ALLAH, dan semakin yakin bahwa hanya untuk beribadah kepada ALLAH lah kita hidup di dunia.

    ReplyDelete