December 30, 2008

outbond kronologi


Dulu kita tak tau sekarang jadi satu
Itulah hebatnya muslim teen
Dulu kita tak kenal sekarang jadi kenal
Itulah hebatnya muslim teen

Kini kita berjalan berdekat2an
Kau bantui diriku dalam kesusahan
Kini kita berjalan berdekat2an
Itu semua karena saying..

Persahabatan bagai kepompong
Selalu bersama saat suka dan duka
Persahabatan bagai kepompong
Berbagi cinta karena Allah ta’ala..

Takbir.
Allahu akbar!!!


Tanggal 27 kemaren iqra club sama Moslem teen community ngadain outbond di banjarbaru.
Tim outbondnya dari yayasan ukhuwah..

widiw,, seru banget

kami (aku+peserta outbond akhwat) berangkat jam setengah 8 dari mesjid sabilal, yang paling seru.. kami tuh naik truk ke banjarbarunya..
hoho…

perjalanan dari banjarmasin ke banjarbaru sekitar 1jam-an..

sampai di TKP kami langsung disuruh baris di sebuah tanah lapang untuk pembukaan..

MCnya adalah kakak yang aku kenal waktu outbond di sabilal waktu itu..

Acara selanjutnya adalah pemberian sambutan dari kak muhajir (ketum iqra club), kak bambang (pembina muslim.teen), kak akbar (ketua pelaksana outbond), sama seorang kakak dari tim outbondnya..

Seperti biasa, aku ngambil posisi paling depan supaya bisa leluasa mengamati situasi yang terjadi..

Di belakang kakak2 yang berjejer rapi aku uda ngeliat sesosok makhluk berkulit putih dan memakai topi yang juga putih. Dalam hati aku bertasbih tak henti2, memuji kekuasaan Allah yang telah menciptakan keindahan lewat makhluknya yang bernama lelaki, hoho….

Kemudian si topi putih pun mengambil posisi..

Cerita pun berlanjut ke acara ta’aruf, kakak2 yang berjejer rapi di depan kami memperkenalkan diri. Dari nama2 yang aku dengar antara lain; kak saiful, kak ahmad, kak rosyid, kak sairini, kak jamilah, kak dwi, dan kakak2 lainnya..

Dari situ aku tau kalau si topi putih bernama kak amin dan bertindak sebagai seksi kesehatan, hoho…

Selanjutnya si MC mulai bertingkah untuk meramaikan suasana, dia menanyai kami tentang nama2 para kakak yang berjejer rapi di depan kami semua..

Yang menarik saat itu ialah ketika si MC bertanya denagan lantang;

“Yang petugas kesehatan siapa namanya…???!!!”

“KAK AMMIIIEEENNN…!!!” koor kami para akhwat dengan semangat menggebu.

“ya, yang akhwat paling semangat ya!” tandas si MC sambil lalu, dengan tanpa perasaan membongkar sebiji kecil centil sisa puber kami yang belum menguap, hoho… ^o^ …

***
Kemudian kami, 53 akhwat yang berasal dari segenap sekolah yang ada di banjarmasin, banjarbaru hingga martapura di bagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama ada 18orang, kelompok kedua ada 18 orang sedangkan kelompok ketiga ada 17 orang.

aku, atul, alin, eka, atuz, via, daya, melian, sifa, siti, nina, si’a, yani, diana, lili, eky, raisa, rasyidah, masuk kedalam kelompok1 dengan rasyidah sebagai ketuanya..

kemudian seorang kakak dari yayasan ukhuwah menyuruh kami untuk mencoba flying fox lebih dulu. Dengan santai dan semangat 45 kami menuju tempat yang dimaksud. setelah berbingung2 ria membuat semacam safety untuk diri kami masing2 akhirnya eky yang siap lebih dahulu menjadi pencoba pertama, selanjutnya tibalah giliranku sebagai pencoba ketiga.

Tanpa rasa takut aku menaiki tangga yang akan membawaku hingga keatas pohon, namun ternyata sampai di tengah, tangga yang kunaiki bergoyang2 karena hanya diidikat sekadarnya dengan tali yang sama untuk membuat safety kami.

Sebenarnya aku bukan phobia ketinggian, namun saat itu entah kenapa rasanya aku ingin berbalik saja.
Kalau saja aku tidak ingat untuk menjaga wibawaku sebagai eks ketua akhwat dihadapan raisa dan juga martabatku sebagai akhwat pemberani di depan teman2 baruku, bisa dipastikan aku sudah kembali.

Sampai di atas, aku langsung memeluk pohon demi melihat betapa tingginya posisiku waktu itu. Kemudian seorang penjaga mempersilahkanku untuk segera meluncur. Ragu2 aku mengumandangkan takbir dan meluncur.

Begitu cepat dan semakin cepat, hingga aku merasa akan menabrak pohon di depanku, namun untunglah tali rem segera ditarik jadi meskipun kakiku sempat terseret di tanah, aku tak jadi menabrak pohon.

Sang pohon pun selamat.

***

Game selanjutnya ialah line bridge.

Tidak terlalu susah, hanya meniti seutas tali dengan berpegang pada seutas tali yang lain. Meskipun sepatu kedsku yang beralas rata sedikit membuatku cemas lantaran takut terpeleset.

Sama halnya seperti meniti tangga di flying fox tadi, tali yang kutiti bergetar ketika aku mencapai pertengahan jalan. Aku tak tau apakah hal itu karena ikatannya yang kurang kuat atau disebabkan getar dari tubuhku sendiri. Tapi pada intinya, game ini berhasil aku lewati nyaris tanpa hambatan.

Kemudian tibalah pada game yang seringkali menjadi momok menakutkan bagi hampir seluruh peserta, khususnya para akhwat.

Spider web

Game ini ditakuti bukan hanya karena tingkat kesulitannya yang tinggi. kehadiran sang pak dokter alias kak amien di area game itu tampaknya juga menjadi factor pendorong.

Bukan apa, kehadiran prince charming disaat wajah2 kami sedang mengekspresikan rupa2 mengejan dan menghimpun kekuatan seperti orang melahirkan sudah tentu merupakan hal yang tidak diharapkan.

Tapi mau bagaimana lagi, game ini memang merupakan game yang paling banyak menguras tenaga dan sepertinya agak berbahaya. Jadi kehadiran petugas keamanan memang benar2 diperlukan untuk berjaga2.

Sebenarnya aku lebih suka duduk2 saja, menyemangati teman2ku yang tengah berjuang merayapi jaring2 biru demi memeluk batang pohon diatas sana yang tak ada bagus2nya. Sembari sesekali melirik kak amien yang mengulum2 senyumnya menyaksikan hebohnya kami menyemangati..

Whoho…

Soal kak amien ini, sebenarnya raisa lebih addict dariku. Dialah yang mencetuskan sebutan pak dokter untuk kak amien. Terdengar centil, persis seperti dirinya.. hehe.. (peace sa ..)

Yah, pada akhirnya aku harus maju untuk berjuang seperti teman2ku yang telah maju lebih dulu.
Setelah mengucap doa selamat panjang2, aku pun naik merayapi jaring itu pelan2. Sampai di tengah perjalanan aku mulai pasti, yakin bisa menuntaskan game ini.

Sampai di penghujung jaring. Segala optimisku mulai terurai pelan2, persis ketika aku mulai tadi.

Rasanya nihil, bisa menaikan tubuhku yang tak langsing ini di atas batang pohon. Berkali2 aku mencoba hingga akhirnya ingin menyerah.

Namun seperti biasa, kakak2 dari tim outbond tak pernah menyerah menyemangati jiwa2 putus asa kami.

Satu hentakan kucoba tegak diatas jaring, namun aku terduduk lagi.

Sekali lagi mencoba.

Sekali lagi gagal.

Kuat2 aku memeluk sang batang dengan kedua tangan. Kulihat kak alya tersenyum sambil menyemangati. Raisa dan rasyidah pun tak mau kalah menyemangati, sesekali menertawai. Kurasakan wajahku pias, memerah menghimpun kekuatan.

Aku mencoba sekali lagi.

Kegagalan mengekeh sekali lagi.

Di hadapanku menyerah tengah tersenyum damai, nyaris kugapai, andai saja raisa dan rasydah tidak berujar;

“Umiiii…!!! abi menantiiii…!!!”

Teriakan duo raisa-rasyidah itu membuat bayangan menyerah terurai, tergantikan oleh rupa si akhi yang tengah tersenyum bangga penuh kedamaian.

Begitupun aku masih sempat bertanya dengan lugunya; “Dimana?!?”

kemudian serangkaian tawa pun pecah bersama sekumpulan komentar yang terdengar memenuhi telinga.

Tawa itu seolah membawa atmosfir baru bagiku, dengan segenap kekuatan dan takbir yang kuteriakan dalam diam. Kuangkat tubuhku ke atas betang pohon yang telah dipenuhi lilitan tali temali. Selanjutnya aku menghorizontalkan tubuh, tiarap melintang memeluk sang batang dalam posisi yang dikatakan raisa sebagai “posisi paling tak pewe”.

Tapi tak apa.
Karena bagaimanapun,
sang menyerah telah mengaku kalah.
kegagalan telah menelan kekeh terakhirnya.
sang jaring telah percundangi wanita.
dan yang paling berharga ialah telah berhasil kubuktikan pada diriku sendiri bahwa aku pemberani.

Dalam posisi paling tidak pewe itu. Dengan pongah telah berhasil kunyatakan dalam heningku sendiri.

Kau lihat akhi, mujahidahmu memang pemberani.

Saat ini aku baru saja sadar, bahwa itulah yang seringkali orang sebut sebagai;
THE POWER of LOVE.

Whehehe....

***

Aku diturunkan dalam keadaan tepar namun penuh kepongahan.
Sampai di bawah aku langsung dititah untuk makan karena hari telah siang. Selesai makan dan shalat kami dikumpulkan lagi ditengah tanah lapang. Setelah itu, barulah peperangan sesi 2 di lanjutkan.

Jika pada sesi pertama kami di hadiahi serangkaian game high impact yang menguras tenaga. Maka pada sesi kedua, kami disambut game2 low impact yang menguras otak namun cukup menyenangkan.

Game pertama dari sesi low impact ini ialah sejenis game ta’aruf yang menggunakan bola. Game ini dirancang sedemikian rupa hingga akhirnya kami dapat saling mengenal dan mengingat nama.
Pada awal sesi, kami diperintahkan untuk membuat yel2 dan menamai kelompok kami sendiri. Dalam 2 menit, segala tetek-bengek mengenai nama dan yel2 harus selesai. Jadilah, yel2 kami terbentuk dengan segala keterbatasan waktu dan kapasitas otak. Kami membuat yel2 dengan menggunakan lagu kepompongnya sind3ntosca dengan lirik yang dikarang semau kami.
Hoho…

Dulu kita tak tau sekarang jadi satu
Itulah hebatnya muslim teen
Dulu kita tak kenal sekarang jadi kenal
Itulah hebatnya muslim teen

Kini kita berjalan berdekat2an
Kau bantui diriku dalam kesusahan
Kini kita berjalan berdekat2an
Itu semua karena saying..

Persahabatan bagai kepompong
Selalu bersama saat suka dan duka
Persahabatan bagai kepompong
Berbagi cinta karena Allah ta’ala..

Takbir.
Allahu akbar!!!


Agar sesuai dengan lagu, akhirnya kami menamai kelompok kami KEPOMPONG.
Hoho…

***

Game selanjutnya ialah game ‘bos berkata’ dan ‘ikuti saya’ (ini kunamai sendiri), game ini sukses membuat wajah kami coreng moreng bak tentara penyerang. Sebab yang kalah harus merelakan wajahnya dicoreng dengan cat air yang berwarna hijau.

Tak seorangpun sampai pada akhir permainan dengan wajah tanpa coretan.
Hoho… tak apalah.

Permainan yang paling kusuka ialah game terakhir yang kunamai ‘the ranjauz’, hoho..

Dala permainan ini terdapat 35 kotak dalam 7tingkat, setiap tingkat terdiri atas 5 kotak. Dari 5 kotak itu, 3 diantaranya berisi ranjau. Kami dinyatakan menang jika ada salah satu dari kami yang berhasil melewati 7 tingkatan tersebut tanpa terinjak ranjau.
Setiap orang dalam kelompok memiliki 2nyawa, permainan dirancang sedemikian rupa sehingga diperlukan kecerdasan dan strategi jitu untuk menang.

Sayangnya, tak satupun dari kami berhasil melewati kotak2 itu tanpa terinjak ranjau.

Setelah game itu selesai, kami bersiap membersihkan diri.
Shalat ashar dan berkumpul di aula untuk penutupan. Di sana di umumkan para pemenang sekaligus penyerahan hadiah beserta piagam secara simbolis. Yang paling membahagiakan ialah bahwa ternyata kelompok kami yaitu kelompok kepompong di daulat menjadi kelompok terbaik dari 2kelompok lainnya.
Hohoho…

Setelah penutupan selesai, acara berfoto pun dimulai.
Setiap makhluk yang memiliki kenarsisan berlebih dapat dengan damai menyalurkan segenap kenarsisan mereka. Tak terkecuali aku.
Hoho..

Begitu piagam diberikan, kenarsisan pun kian menggila. Tiap pribadi berfoto dengan bangga gembira dengan piagam mereka masing2..

Beberapa jam kemudian, kami pulang dengan wajah lelah yang sumringah.

***

Pengalaman outbond itu ga akan pernah aku lupakan.
Kami semua, seolah disatukan oleh persamaan aqidah yang mendaulat kami sebagai saudara.
Takbir berdentum dimana2, seolah menyemangati kami untuk selalu bangkit dan jangan menyerah.

ALLAHU AKBAR !!!
ALLAHU AKBAR !!!
ALLAHU AKBAR !!!

Gak cuma itu aja. Serangkaian game yang dilewati juga turut memberikan arti tersendiri bagi setiap pribadi.
Setidaknya bagiku.

lewat flying fox aku belajar untuk menjadi pemberani. Terkadang hal yang terlihat begitu menakutkan sebenarnya adalah hal yang menyenangkan untuk kita lalui. Kita hanya harus melihatnya lebih dekat dan mengabaikan takut yang mengendap, membiarkannya pelan2 menguap.

Lewat game ‘bos berkata’ dan ‘ikuti saya’. Aku di beritahu bahwa berkonsentrasi itu penting, sama halnya seperti kejujuran. Tak apa meski kejujuran membuat wajah kita harus coreng moreng, sebab coretan2 yang dibuat kejujuran itu lebih baik dan lebih mudah dibersihkan dibandingkan noda yang dibuat oleh kebohongan.

game ‘the ranjauz’ telah sukses menamparku, bahwa orang belajar dari kegagalan mereka.
Aku jd semakin paham akan makna kesuksesan, bahwa sejatinya kecerdasan dan strategi itu hanya bagian kecil dari kesuksesan. Kunci kesuksesan sebenarnya ialah ketika orang mau belajar dari kegagalan mereka dan tidak menyerah pada kegagalan itu sendiri. Terkadang kesalahan itu penting untuk mendidik kita. Bukan supaya kita terbiasa jadi orang gagal, tapi supaya kita mau belajar hingga tidak berbuat kesalahan yang sama.

Sedangkan dari game ‘spider web’, aku belajar untuk jangan pernah menyerah. Seberapapun tak mungkinnya sesuatu menurutku. Jangan mudah tergoda untuk berkata tidak bisa. Dan jangan mau kalah pada kegagalan. Sebab kalimat ‘kegagalan adalah kemenangan yang tertunda’ bukanlah sekedar ucapan penghibur bagi para pecundang yang sok bijak. Tapi kata2 itu memang benar adanya, bukankah sudah merupakan sunnatullah bahwa selalu ada kelapangan di balik kesempitan. kita hanya harus mengimaninya, maka ia akan menjadi nyata..
umm.. aku juga tambah percaya, bahwa kekuatan itu memang ada, THE POWER of LOVE,, hehe...


Coretan tambahan:

Meskipun rapotku ga seperti yang aku bayangin, aku gapapa. Insya allah aku ikhlas.
Bener kata tita, bahwa Allah memberi yang ana perlu, bukan yang ana mau.
Allah emang selalu ngeliat ikhtiar hambaNya, hanya saja terkadang hukum di dunia itu ga bisa adil, cuma di akhirat nanti kita bisa ngedapetin apa yang bener2 kita perjuangkan.

2 comments:

  1. Assalamu'alaikum ukhty..,
    akhirnya ketemu jg blognya!
    senangnya jd blogger!
    PeNGeen!!hehe

    SMANGAT!!!

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum ukhty..,
    akhirnya ketemu jg blognya!
    senangnya jd blogger!
    PeNGeen!!hehe

    SMANGAT!!!

    ReplyDelete