January 5, 2009

observer and analist

Jam telah menunjukkan nyaris jam 1 pagi. Postingan ini aku buat semata agar aku tidak tertidur di dalam masa penantianku menunggu waktu sahur.
Postingan ini sendiri diilhami oleh buku edensornya andrea dan sekelebat kalimatnya mengenai ‘life observer’ als pengamat kehidupan.
Untuk itulah akhirnya jemariku tergerak diatas kibor komputer untuk sedikit menganalisis prilaku dan sifat2 dari beberapa orang yang kukenal.
Dan akhirnya setelah melalui proses musyawarah yang rada panjang, terpilihlah 2 orang korban yang beruntung.

Sebelumnya penting untuk diluruskan bahwa postingan ini bukan untuk mendzalimi siapapun. Namun apabila ada pihak yang merasa terdzalimi, saya mohon keikhlasannya untuk mendoakan kemenangan umat muslim. Sebab konon, orang yang terdzalimi, doanya sangat dijabah oleh Allah SWT.

Baiklah langsung saja kita masuk pada maksud inti dalam postingan ini.

Di nimbuzz aku kenal 2 orang akhi yang menurtku menarik.
Bukan karena apa2, tapi karena pola pikir mereka yang sering menantang arus.
Mereka adalah akhi rangon(29thn) dan seorang akhi yang bernick mantan nik 4…. (ga hapal nicknya). Usia keduanya kurasa tak terpaut jauh.

Aku mengenal rangon dalam masa berkabungku sehabis membaca surat ukhti fatimah yang dikirim oleh captain lewat message fs. Waktu itu aku bercerita (dalam hal ini, yang bersangkutan lebih merasa ditodong) ke rangon mengenai seorang ukhti yang bunuh diri di penjara abu ghuraib karena tak tahan terus menerus diperkosa secara massal oleh tentara2 b**i. (mengingatnya membuatku ingin berkabung lagi, hikz..)

Disitu seorang akhi berkata; “bagaimanapun dia salah karena uda bunuh diri, harusnya dia bisa sabar, karena pertolongan Allah itu pasti akan datang. Dengan begitu dia udah gagal.” Katanya tanpa perasaan (menurutku).

Mendengar itu, aku serasa terbakar. Karena aku pun mungkin tak sanggup bertahan ketika harus tinggal di ruangan pengap dalam keadaan telanjang dimana setiap malam para serdadu akan mendatangi dan menindihiku satu persatu2. tentu saja saat itu pilihan untuk mati jauh lebih menggiurkan dari apapun.

Tapi seorang rangon tiba2 bersabda, “bukan, yang gagal bukan dia. Justru yang hiduplah yang telah gagal.”

Entah bagaimana caranya, sebaris kalimat itu memiliki khasiat yang sangat aneh karena berhasil membuaku sedikit terhibur sekaligus membuatku mewek hingga berhari2.

Sejak saat itu aku menyebutnya ‘the wise rangon’. Hohoho…

Rangon adalah orang yang selalu berhasil melihat sesuatu dengan sangat objektif. Bahkan kalau bisa, aku ingin menyebutnya terlalu objektif. Sedikit aneh karena sering menantang arus. Misalkan saja sewaktu para user ramai2 mengomel tentang room2 islam yang banyak di boom oleh user noni, dan ujung2nya menyalahkan user noni tersebut. Rangon justru dapat objektif dengan tidak terlalu mempersalahkan para pengeboom dan mengajak kita untuk lebih mawas diri dan intropeksi.
Menurutnya sesuatu ada, karena ada sesuatu yang memancingnya, semua hal tak lepas dari hukum sebab akibat yang selalu berkaitan satu sama lain. Hal ini berlaku dalam situasi apapun. Itulah yang dapat aku simpulkan berdasarkan pengamatan dan proses berpikir yang cukup panjang.

Sifat inilah yang sangat aku harapkan untuk dimiliki oleh my parents..

Tapi beberapa hari ini aku justru sering ribut sama rangon, hal ini (menurutku) karena sifatnya yang terlalu objektif dan tabiatnya yang terkadang terlalu cepat mengambil hipotesa atas suatu yang belum diketahuinya secara utuh atau bisa jadi karena watak keras kepalaku dan sifatku yang cenderung sangat mempertahankan sesuatu yang sangat kuyakini.

Contohnya saja sewaktu diskusi kami tentang gaza.
Aku seperti yang lainnya tentu saja mengutuki Israel karena bukti2 kebiadabannya telah sangat terang. Tapi, rangon dengan begitu objektif memaparkan pendapatnya (yang berdasarkan SEDIKIT informasi dariku) lengkap dengan segala hukum sebab akibat, bahwa sesuatu itu ada karena terdapat sesuatu yang memicunya.

Entahlah yang mana yang benar,(aku lebih suka menggunakan ‘yang mana’ bukan ‘siapa’ karena menurutku diskusi itu bertujuan untuk mencari kebenaran bukan sumber kebenaran). Tapi akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri perdebatan karena kupikir hal ini hanya akan merusak tali ukhuwah yang telah terbina.

Sedangkan dengan akhi yang satu lagi. Sebut saja si zandilac.
Sangat jelas bahwa dia memang sering memiliki pikiran yang agak menantang arus, hal ini aku simpulkan berdasarkan pertemuan kami di sebuah room islami. Dalam hal ini aku belum bisa memaparkan sebabnya, karena pertemuan kami baru beberapa kali dan itupun belum terlibat diskusi.

Tapi berdasarkan analisisku, zandilac ini punya sifat yang agak berbeda dengan rangon meskipun mereka sama2 menantang arus.

Kalau rangon bisa dengan mudah mengambil hipotesa berdasarkan sedikit informasi yang di dapatnya dan menurutku cenderung langsung mempercayai informasi tersebut. Zandilac justru akan bersikap sangat kritis terhadap informasi yang didapatnya. Bahkan cenderung untuk tidak mempercayainya.

Yah, sayangnya hanya sedikit yang dapat kusimpulkan tentang dia karena sosoknya masih begitu misterius.

No comments:

Post a Comment