January 5, 2009

palestine oh,, palestine.. aku menangis untukmu...

Tanggal 30 kemaren aku ikut aksi solidaritas buat Palestine yang di adaain KAMMI. Waktu dapat undangan buat berpartisipasi dalam aksi itu aku seneng banget. Waktu itu aku ngerasa partisipasi aku dalam aksi itu adalah sedikit bukti bahwa aku peduli. Makanya aku agag sedikit ga terima waktu baca postingan ayub di bulbo fs yang nyeritain betapa ingin tertawanya dia ngeliat orang2 yang ngadain aksi2 gag jelas kayak gitu. Menurut dia, aksi kayak gitu tuh cuma bikin macet sama rusuh doang. Gag memberi apapun untuk kebaikan palestin.

Yah, akhirnya aku langsung reply dan bilang kalo aksi kayak gitu emang bikin macet, tapi dari situ kita bisa sedikit nampar orang yang awalnya ga peduli jd lebih peduli, paling gag untuk ngeluangin sedikit waktu mereka untuk berdoa, dari aksi itu kita bisa ngumpulin dana buat dikirim ke sana. Jadi bukan cuma bikin rusuh.

Ternyata, yang gag setuju sama ayub gag cuma aku aj. Si giat juga akhirnya memposting tulisan bernada sama denganku di bulbo itu. Meskipun tulisannya jauh lebih bijak dan lebih calm down dibandingkan punyaku yang begitu menggebu2.

Tapi belakangan aku jadi sadar. Bahwa seharusnya aku gag harus terlalu berbangga hanya karena partisipasiku dalam aksi solidaritas itu. Bahwa sebenernya apa yang aku lakukan itu sedikitpun tak ada apa2nya jika dibandingkan dengan segala penderitaan yang harus dialami oleh rakyat palestin itu sendiri.

Laparku yang ditingkahi terik siang itu tak ada apa2nya dibanding lapar yang dirasakan oleh rakyat palestin yang kata si captain, mereka sampai harus memakan rumput karena blokade jalan yang dilakukan Israel.

Sama sekali gag ada apa2nya.

Sempat kemaren2 aku pengen banget jihad ke palestin. Sebenernya keinginan itu didorong oleh keadaan rumah yang semakin gag enak karena perang dinginku dengan si papa. Awalnya aku pikir seandainya aku bisa kesana, paling ga keberadaanku bisa sedikit berguna. Daripada aku di rumah ini, hanya dijadikan kambing hitam yang tak ada gunanya kecuali hanya sebagai bahan tertawaan mereka saja.

Tapi syukur alhamdulillah. Aku telah diberikan hidayah dari Allah SWT bahwa bisa jadi disana aku hanya akan menyusahkan mujahid yang lain saja. Akhirnya aku memilih untuk tetap bersabar di rumah ini, toh sebentar lagi aku akan kuliah dan segera hengkang dari ini rumah. hohoho…

Tak apalah, darisini pun aku masih bisa mengirimkan doa2ku demi keberhasilan para mujahid dan kekalahan Israel.
Dari sirah nabawiyah yang kubaca (dan belum selesai), aku semakin yakin bahwa doa itulah senjata kaum muslim yang sebenarnya. Segala perjuangan itu hanya sebagai ikhtiar yang akan mengkasualitaskan hasil akhir. Tapi bukan berarti tidak penting, tapi justru paling penting karena tangan2 Allah itu bekerja secara ilmiah (kata kak endralip4, ilmiah disini maksudnya logis dan dapat diterima akal sehat, tidak harus rasional).

Karena bagaimana pun aku percaya, sunnatullah pasti berlaku untuk siapapun-dimanapun-kapanpun.

Sebenernya kemaren2 aku pengen mengkronologikan sebab musabab perang dinginku dengn si papa. Tapi ntah kenapa sekarang hal itu jadi gag terlalu penting. Malahan akhir2 ni aku sadar bahwa bagaimanapun aku tetap harus bersyukur. Meskipun pada akhirnya aku gag bisa berbangga bahwa papa adalah ayah terbaik di seluruh dunia, tapi paling ga nasibku gag seperti nasib banyak anak perempuan lain yang harus rela diterobos batas rahimnya oleh ayah kandungnya sendiri.
Naudzubillah…


coretan tambahan:
kalo gag dipersulit, minggu depan temenku mau ke palestin buat jadi tenaga medis.. tolong doain semoga gag ada masalah di perbatasan.
semangggaattt ya mas najib..!!!

ALLAHU AKBAR !!!

1 comment:

  1. salute to palestine...
    salam kenal y...
    nanggroe...

    ReplyDelete