February 16, 2009

gelogelogelo..

Suatu hari Sayidina Ali dan anak buahnya sedang
melakukan perjalanan menuju sebuah desa. Kemudian
tersiar kabar bahwa desa yang mereka tuju sedang
diwabahi sebuah penyakit menular. Ketika itu Ali
langsung membalikkan Untanya dan memutuskan untuk
tidak melanjutkan perjalanan. Malah memilih
pulang. Kemudian seorang dari mereka berkata;
“apakah kita lari dari takdir Allah ya Ali?”
Kemudian Ali menjawab, “ya. Kita memang lari dari
takdir Allah. Tapi sekarang kita sedang menuju
takdir Allah.”


Cerita ini bikin aku bingung soal menyoal takdir.
Apa itu berarti manusia bisa merubah takdir mereka?

Well, aku uda lebih dari ngerti kalo jodoh, maut, rezeki itu uda ditetapkan dan ga bisa dirubah lagi. Tapi gimana dengan hal2 kecil yang keliatannya ga penting?

Misalnya aja suatu pagi aku disuruh milih mau sarapan bubur ayam ato lontong sayur. Trus aku milih bubur ayam. Apa itu berarti pagi ini aku memang ditakdirin untuk makan bubur ayam? Tapi gimana kalo seandainya aku milih lontong sayur?

Bukankah itu berarti aku yang memilih takdirku sendiri?

Terus gimana dengan janji Allah yang bilang bahwa DIA tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya sendiri.
Jadi yang merubah takdir itu siapa sih? Allah atau kita?
Kemaren2 sempet nanya2 juga sama temenku di Nimbuzz perihal ini. tapi jawabannya seringkali bikin aku ga puas. Tapi akhirnya, setelah berapa lama akhirnya aku sadar kalo ga seharusnya aku mikirin hal ini.

Cuma bikin puyeng. Dan kayaknya ga terlalu berguna juga.
Ga perlulah kita bertanya2 siapa yang memutuskan takdir2 kita. Mungkin memang tangan2 kita yang merubah takdir2 tersebut. Tapi kan dengan kehendak Allah juga.
Yah, pada intinya kita tetap harus berikhtiar dan

terus berjuang untuk mengetahui takdir kita.
Ga usah mikir ribet2.
Berjuang, berikhtiar, berdoa.
Dan takdir itu akan sampai dihadapan kita.

Hidup jangan dibikin ribet.
Simple life simple problem kan?!

Oiya, tanggal 17 bulan Mei nanti si akhi ulang taun. Aku pengen ngasi dia Al-Quran saku yang bisa dibawa kemana2 itu. Makanya ini lagi nabung dan belajar hidup hemat. Whehe..

Meskipun hari ultahnya masi lama, tapi dikepalaku uda terancang sebuah scenario penyerahan hadiah.
Rada sinting emang, tapi aku tergelitik memuntahkan scenario yang aku rancang sendiri itu disini.

Aku uda ngebayangin bakal ngasi hadiahnya tanggal 16 aja, karena tanggal 17 itu kan hari minggu.
Sebelomnya harap diperhatikan bahwa scenario ini baru ada di dalam kepalaku aja dan belom bener2 kejadian.

Jadi ceritanya, pas mau pulang sekolah aku papasan sama si akhi. Terus aku tiba2 negur,

Aku : Eh, **** (nama dia), besok kamu ulang taun kan? (sambil senyum dimanis2in)

Dia : (tampang bingung campur kaget), Iya.

Aku : Nih.. (sambil ngasi kado yang uda dibungkus rapi jali dengan gerakan anggun)

Dia : Apa nih? (senyum campur bingung).

Aku : Hehe..(senyum2 jail) surat cinta.

Dia : Hah?! (kaget stadium akhir)

Aku : (dengan santai) ntar dibuka aja dulu. Kalo ga suka ga papa. Mau dikembaliin juga ga papa. Tapi kalo bisa sih diterima kadonya.

Dia :...(ga bisa ngebayangin mukanya)

Aku : yauda deh ya, aku duluan. Assalamualaikum. (langsung ngacir)

Terus malemnya dia SMS,

“jazakillah kadonya ya ukhti. Tapi kok tadi bilangnya surat cinta? Sampe kaget ana.”

Aku bales,
“hehe.. maksudnya surat cinta dari sang pencipta. Sering2 dibaca ya surat cintanya, biar ana juga kecipratan pahala. semoga bisa jadi orang yang lebih baik. Selamat ulang tahun. Sukses selalu.”

THE END.

Haha.. sinting banget kan.
Sejauh ini sih baru semangat ngebayangin, ga tau deh entar berani apa ga. Apalagi waktu ngucapin frasa ‘surat cinta’ itu, waduh.. ga yakin deh kayaknya.
Soalnya selama ini, pas2an sama dia aja ni badan uda langsung beku aja kayaknya.
Tapi aku pengen banget ngasi dia Al_Quran saku, untuk kenang2an.

Ghag!!

Yah, yang penting masih semangat menabung.
Ayo mel, berjuang!!

Eh, iya. Besok sebagian besar temenku bakal ikut tes SMUT (Seleksi Masuk Unlam Terpadu). Semoga semuanya bisa lulus seleksi dan jadi apa yang kalian cita2in.

Oiya, bagi kalian yang mungkin baca posting ini. menurut kalian, Al Quran saku buat si akhi, bagusnya warna apa yah??
Ayo kasi saran, tapi jangan ada yang ngusulin warna pink yah.
Hehe..

Wassalam.

6 comments:

  1. Warna coklat bersulam emas/warna hijau tua bersulam emas. Itu menurutku yang bagus. But kalau untuk tanda cinta sih, nggak tahu yah!salam kenal

    ReplyDelete
  2. >mbak aisha_< bukan tanda cinta mbak, sebagai tanda persahabatan aja. kalo tanda cinta sih entarbuat suamiku aja, ahhakk..

    >mbak ely_< iya, kepikirannya juga warna cokelat. makasi sarannya, akan saya pertimbangkan.(beugh..!! ghayak si melyn)

    ReplyDelete
  3. Salah satu karunia yang tuhan berikan kepada kita adalah kebebasan memilih dan tentu saja didalamnya termasuk memilih takdir .... memilih bukan berarti hasilnya harus sama dengan apa yang kita pilih .. let say kamu dah milih bubur ayam untuk sarapan pagimu tapi masih ada kemungkinan lainnya khan ? ..misalnya begitu kamu dah siap mau makan ..tiba-tiba piringmu jatuh dan bubur ayammu tumpah ... dalam menjemput takdir sepertinya kita harus dapat membedakan antara :menentukan pilihan , menyerahkan diri secara total terhadap sang maha penentu dan berpasrah diri :
    beda penyerahan diri secara total dengan pasrah adalah :

    Penyerahan diri secara utuh adalah ibarat menyiapkan lahan sebaik mungkin untuk ditanami bibit baik kehidupan dan bersiap diri dengan segala kemungkinan rasa atas hasil buahnya ..ini adalah manifestasi dari Iyya kanakbudu waiyyakanastain sementara kepasrahan adalah sikap ketidakberdayaan yang harus dihidupkan dihati dalam setiap menerima segala kemungkinan yang tidak sesuai dengan kehendak kita dengan satu keyakinan bahwa ALLAH lebih tahu apa yang terbaik bagi kita.

    so : kamulah yang memilih untuk menentukan takdirmu ..urusanmu hanya ichtiar dan hasilnya serahkan pada yang maha tahu.

    ReplyDelete
  4. perlu baca berkali2 untuk ngerti bedanya penyerahan diri dan pasrah.

    tapi akhirnya yang bisa aku tangkep adalah, penyerahan diri itu adanya diawal ketika kita mulai berikhtiar, tapi pasrah adalah sikap yang harus kita ambil ketika ketetapan itu telah datang, ato bisa dibilang nrimo, ato lebih tepatnya lagi ikhlas.

    gitu ya om??

    segala ikhtiar kita adalah jalan yang pada akhirnya akan mempertemukan kita pada takdir kita.
    dan kalopun pada akhirnya segala ikhtiar kita tadi ga ngasih hasil akhir seperti yang kita harapkan, jangan anggap ikhtiar kita itu sia2. paling ga, ikhtiar kita itu uda jadi sebuah jalan yang mempertemukan kita pada takdir kita. sebab untuk menemukan kita, jalan itu harus ada.
    -diilhami dari analogi 'bubur ayam jatoh'-

    ReplyDelete
  5. Mel: warna maroon! hehehe, cuma karena saya suka warna itu aja :)

    Hayo...jadinya berani gak kasi kado ultah? Kalo saya jadi kamu...jawabannya 'jadi dooong' :)

    ReplyDelete