September 19, 2010

nyaris tiga bulan

iya. nyaris tiga bulan
ternyata untuk ngelepasin apa yang udah kita biasain selama nyaris tiga bulan ini gak semudah yang kusangka. iya.. akhirnya aku mesti balik ke jogja.

awalnya kupikir, aku bisa lapang-lapang aja waktu pamitan ma sodara-sodara. tapi waktu nyalamin nenek tiba-tiba aja pengen nangis, juga waktu pamitan sama Akhiyan, keponakanku yang masih beberapa bulan. tapi aku tau saat itu aku nggak boleh nangis. malulah! wong disitu nggak ada yang nangis. hee hee

hal pertama yang aku lakukan begitu sampai di jogja setelah perjalanan melelahkan karena delay yang nyaris 4 jam ialah berberes kamar. nggak cuma sekedar berberes, tapi juga merubah tata letaknya. aku perlu suasana yang benar2 baru untuk menyambut semester baru ini. aku nggak boleh melupakan alasan untuk apa aku menyebrangi laut, memisahkan diri dari keluargaku dan tinggal terpisah bermil-mil jauhnya.
nggak boleh. nggak boleh lagi!

waktu berberes kamar, kembali terlintas tentang satu hal yang selalu mengetuk-ngetuk kepalaku sejak dua bulan lalu.
bahwa cukup banyak yang aku korbankan demi kehidupan nyaris tiga bulan ini.
banyak acara fakultas maupun jurusan yang aku lewatkan, ramadhan di desa, acara penyambutan mahasiswa baru, buka sahur bareng temen-temen sejurusan, open recruitmen saman dan segudang acara seru lainnya. yang aku sayangkan ialah fakta bahwa saat ini aku buta sama sekali bagaimana rupa-rupa adek tingkat pertamaku.

yah, aku nggak bisa bilang semua itu sepadan.
memang sedikit menyesal, tapi aku udah menjatuhkan pilihan, jadi hidup tetap harus di lanjutkan. toh, pada faktanya aku selama tiga bulan ini aku bukannya tidak senang.

tiga bulan kemarin itu bener2 ibarat recharge semangat. pemulihan penat.
dan aku benar-benar suka apa-apa yang aku lakukan selama nyaris tiga bulan itu. meskipun nggak pernah benar-benar bisa dikategorikan sebagai pekerjaan yang bermanfaat juga.

Klimaksnya ketika aku di kampung halaman. disitu baru aku sadar betapa tinggal bersama keluarga itu sangat-sangat menyenangkan. gang tempatku tinggal dihuni oleh seluruh saudara papa beserta anak-anak mereka. aku benar-benar menikmati saat bisa bermain sepeda, membuat kue bersama kakak-kakak papa yang selalu bisa membuatku merasa nyaman dan selalu tahu apa-apa yang aku butuhkan.
juga saat-saat bermain 'nyambit tutup botol pake sendal', semacam permainan antah berantah yang kumainkan bersama sepupu sepupuku yang masih sd,

sekarang, jika kuingat-ingat lagi. bau tanah halaman itu seperti aroma bayi.
ah.. aku rindu saat-saat melumerkan hati keponakanku yang terangkuh, Muhammad Hilmy Zaki dan saat-saat menenangkan menghayati senyum adiknya yang begitu dermawan mengurai tawanya, Akhi.

iya! belum belum aku sudah rindu rumah.

2 comments:

  1. Muhammad Hilmy Zaki

    nama yang bagus, hehe

    ReplyDelete
  2. percayalah! tak ada intervensiku dalam pemilihan nama itu. ;pp

    ReplyDelete