October 14, 2010

b i r a *session kedua

gerimis turun ketika kami sampai di bira waktu itu. orang-orang ramai menyesaki pantai. hari itu hari sabtu, penginapan dan cottage sekitar pantai banyak yang penuh. banyak bule-bule berseliweran. sungguh-sungguh mengingatkanku pada sabang.
badan yang kelelahan, ditambah perut yang kelaparan membuat kami idem saja mengikuti papa yang langsung melajukan mobilnya mencari penginapan.

harga penginapan di sana bervariasi, berkisar antara 200ribu hingga 500ribuan. semua bergantung posisi dan kondisi. tapi ada satu penginapan yang paling dekat pantai dengan kondisi tidak mengecewakan dan dengan harga yang bagiku menakjupkan. menakjupkan karena kurasa terlalu murah mengingat segala keunggulannya. dan tentu saja, penginapan macam ini yang selalu dicari. kurasa, karena hampir selalu penuh, orang-orang akan merasa sangat beruntung bisa menginap di penginapan ini. yang kuingat namanya seperti nama sebuah perusahaan finance, adira atau aldira, aku lupa. 1 cottage yang bisa dihuni maksimal 6 orang dihargai 250ribu. sayang, waktu kami kesana, semuanya sudah dipesan.

setelah beberapa kali menyatroni penginapan demi penginapan, dibantai hujan besar sampai kebasahan.
akhirnya dengan terpaksa kami memilih satu penginapan yang sejak awal kami hindari. masih berada satu wilayah dengan penginapan adira aldira yang kubilang itu. namun tentu berbeda kualitas. cottage yang kami dapat kondisinya kurang terawat, banyak kambing dengan gerombolannya berwara-wiri, namun pengolahnya ramah dan baik hati, cottage-cottage pink itu dihargai 350ribu. jika membandingkannya dengan adira *atau aldira* tentu harga ini menjadi tidak masuk akal.

selesai menuntaskan urusan perut dan mencuci perangkat makan, kami pun menuju pantai dengan wajah cerah. aditya sudah gaya dengan celana renang dan pelampung kuning kebanggaannya. padahal hari waktu itu sudah sangat sore, tapi siapa pula yang dapat menahan keinginan anak bungsu laki-laki berusia 4,5 tahun macam dia?
maka jadilah, kami sekeluarga berjalan beriringan bersama aditya yang mencolok dengan pelampung terangnya. B-)

tapi.. ketika sampai disana.
jrengg-jreeenggg...
air laut sudah surut jauh.
sudah surut sangat jauh!


awalnya kami mengira pantai bira memang surut seperti ini keadaannya.
daripada kecewa, yasudah, kami memutuskan untuk poto-poto narsis saja. Evil GrinEvil GrinEvil Grin

sore hari, banyak penduduk sekitar yang mengeksplorasi pantai. bocah-bocah pengumpul kerang atau para ayah yang mencari cacing pantai untuk umpan. ketika air laut sedang surut seperti ini, kita dapat melihat dengan jelas para penghuni laut pinggir pantai dari mulai ikan-ikan kecil, rerumputan hingga karang-karang yang berhamburan.







kami menghabiskan waktu di pantai sampai hilang warna kunyit di langit. senja di pantai itu benar-benar subhanallah. mungkin memang bukan tanpa tandingan, tapi kerennya ampun-ampunan.




setelah beberapa menit selesai adzan maghrip, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. menyiapkan amunisi untuk hari yang akan datang dengan perasaan senang.

Heart BeatHeart BeatHeart Beat
*to be continued

ditulis sambil mengerjakan PR Bahasa 'Ammiyah di kamar 14 Mahendra Bayu
pukul tujuh lewat satu.

4 comments:

  1. wihhhhh sansutnya muantapppp, jadi pengen kesanaaaaaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
  2. sunsetnyaaa mantaaaabbbbbbbbbb!!! subhanallah. btw kok sore2 pantai surut sih? bukannya harusnya pasang?

    ReplyDelete
  3. @mba quin: iyaaa.. bingung juga. mungkin uda terlalu sore. disana subuh2 baru air pasang lagi. barudeh tu, nelayan2 pada pulang bawa ikan. hegeyyy..

    @fai: aslinya lebih mantaps fai. beneran deh! aha..

    @secangkir teh: hehe.. subhanallah bgt kan? *takjup.

    ReplyDelete