October 13, 2010

brotherhood

malam dua hari yang lalu, aku dan tika diajak kak ela -anak s2 yang baru ngekos di Mahendra Bayu- main-main. kami pergi naik mobil adiknya yang udah tiga tahun dijogja. ke alun-alun. naik sepeda berlampu warna-warni. yang aku pengen bahas bukan apa-apa yang kami lakukan di alun-alun tempo hari itu. tapi soal sesuatu yang menyerikanku.

ngeliat kak ela sama adeknya, aku iri luar biasa. juga cerita-cerita tika tentang sandi. kemudian teringat galuh dan galih. aku masih saja terheran-heran bagaimana seorang kakak bisa begitu dekat dengan adik laki-lakinya dan bagaimana bisa adik laki-laki begitu menjaga kakak perempuannya.

aku jadi ingat tio.
iya, adik laki-lakiku yang ganteng item itu.
yang selisihnya cuma 11 bulan dariku itu.

hubungan aku dan dia memang nggak bisa dibilang sangat baik juga. paling nggak, enggak sedekat yang semestinya mengingat umur kami yang terhitung sebaya.
aku berusaha menghibur diri dengan berpikir hubungan kami memang udah nggak baik pada awalnya. menabah-nabahkan hati untuk percaya bahwa begini pun juga nggak apa-apa.

lalu aku teringat pertengkaran-pertengkaran dulu yang memboroskan hati. yang membikin nyeri. memutar lagi detik-detik dimana kami pernah begitu ingin saling mencakar. imbas dari kontinuitas rasa kebas yang menjalar.

barangkali, sebelum saat ini, dulu bertahun-tahun yang lalu aku memang pernah mengutuki keberadaannya. meski tanpa sadar. nyaris tak terasa bahkan. setipis serpihan gelas pada benang yang diam-diam mampu memotong layang-layang.

waktu itu, aku hanya tau, untuk beberapa hal, di telingaku, namanya terdengar seperti tumpukan sebab yang membuat masa kecilku agak menyusahkan dan sedikit menyedihkan.

aku tau, keberadaannya di rahim mama ketika baru dua bulan aku keluar dari rahim yang sama, sama sekali bukan salahnya. bukan titahnya juga yang membuat mama berhenti menyapihku di bulan ke 6 usiaku. bukan rengekannya yang lantas menjadikanku kakak ketika aku bahkan belum lagi hapal seperti apa rasanya menjadi anak.
bukan. bukan. bukan.
sejujurnya aku memang enggak punya alasan layak yang dapat membenarkanku membencinya.

ah.. sebenarnya memang tidak pernah ada alasan yang membolehkan kita membenci seseorang. sebab bukan sikap oranglain yang menentukan bagaimana perasaan kita ke orang itu. tapi perasaan kita lah yang menentukan bagaimana sikap kita.
itu yang sekarang kupercaya.

barangkali, dulu itu aku memang sudah tidak suka dia.
kedatangannya yang tiba-tiba, rengekannya yang selalu menyedot perhatian seisi rumah, segalanya otomatis memaksaku untuk tidak boleh egois bahkan sebelum aku mengenal lima huruf yang menyusunnya. tiba-tiba aku sudah mendapati diriku menjadi anak perempuan yang diminta untuk selalu berbagi dengan adik lelaki pertamanya, atau terkadang mengalah kalau sedang sial.
berbagi suapan sarapan, berbagi mainan, berbagi ayunan, berbagi punggung papa, berbagi sepeda, berbagi tangan mama.

waktu itu aku belum siap berbagi tapi aku menuntut terlalu banyak pada diriku sendiri. yang aku tau semua orang akan senang mendapat adek baru. maka seharusnya lah aku begitu.

aku ingat, dulu aku sering diungsikan ke tempat wak nana. mungkin mama terlalu repot mengurusi anak sekali dua. jadi, aku yang dianggap paling tidak rewel sering diungsikan ke rumah saudara.
aku ingat ketika mama mengajarinya membaca sementara aku di depan mereka, bertumpu pada satu meja yang sama, mengerjakan pr ku sendiri, bersusah payah menahan iri.
aku ingat bagaimana aku setengah mati cemburu mendapati papa yang membangga-banggakannya karena bisa naik sepeda lebih dulu dibanding aku.
dan aku juga masih ingat, sejauh ketika aku mulai bisa mengingat, aku tidak pernah merengek apapun. iya, apapun!

yang jelas, sekarang aku dan tio sudah sangat jarang bertengkar. sudah tidak pernah lagi saling mencakar. memang belum sedekat mbak ela dengan adiknya, belum seperti galuh dan galih ataupun tika dengan sandi.
tapi,
di hari ulang tahunnya 12 oktober kemarin, meski tak terlisan, meski tak tersampaikan.
aku berharap semoga untuk selanjutnya, kami berdua bisa LEBIH saling menyayangi lagi.

sekarang waktunya mandi.

Mahendra Bayu kamar 14
21:16

5 comments:

  1. jangan biasain pada saling berantem napah... apalagi sama saudara sendiri :)

    ReplyDelete
  2. hmm...mungkin kantong plastik harus memulai menunjukkan rasa sayang ke adik2nya, nanti pasti mereka akan memberikan balasannya...entah sekarang, entah nanti.

    ada kemungkinan, rasa sayang dan kasih antar saudara itu tidak berwujud perhatian secara langsung, tetapi perhatian tidak secara langsung. kalau boleh mencontohkan, saya dulu pernah membuat aturan di rumah tidak boleh menonton tv pas magrib. adzan magrib mengalun, tv harus mati dan ketika adzan isya' mengalun tv baru boleh hidup. peraturan ini, saya terapkan di rumah, padahal ada bapak dan ibuk.
    Mungkin kedua adek saya tidak suka dengan saya gara-gara peraturan itu, tetapi saya yakin, besok mereka akan tahu, bahwa kakaknya ini mencintai mereka dengan cara yang berbeda.

    ReplyDelete
  3. suatu saat kamu bakal merindukannya...

    dan akan menyayanginya sangat.

    aku pernah gitu soalnya mel, sama mbakku jauh,
    tapi sekarang deket banget.

    ReplyDelete
  4. suatu saat kamu bakal merindukannya...

    dan akan menyayanginya sangat.

    aku pernah gitu soalnya mel, sama mbakku jauh,
    tapi sekarang deket banget.

    ReplyDelete
  5. suatu saat kamu bakal merindukannya...

    dan akan menyayanginya sangat.

    aku pernah gitu soalnya mel, sama mbakku jauh,
    tapi sekarang deket banget.

    ReplyDelete