October 24, 2010

manusia paling tidak peka

kalau memang ada manusia paling tidak peka di seluruh alam semesta. barangkali memang akulah orangnya.
itu yang dibilang tika. sekaligus apa yang mulai aku yakini juga.

hermin bilang aku ini manusia happy. kayak gak pernah susah. kayak gak pernah punya masalah. tapi siapa sangka justru disitulah masalah terbesarku; sangat jarang mempermasalahkan sesuatu.

selama ini aku hidup dengan menganut paham bahwa kita tidak akan menjadi masalah bagi orang lain asalkan kita tidak mengganggu kepentingan dan menghambat aktifitas orang tersebut. kupikir, itu saja sudah cukup. tapi ternyata ada hal-hal lain yang belum bisa aku mengerti yang faktanya ternyata dapat menjadi masalah juga. bukan hanya masalah menjadi beban atau mengganggu kepentingan, tapi soal kenyamanan.

aku tipe orang yang sangat jarang merasa terusik. kalau memang merasa terganggu dengan orang tertentu, pikiran yang muncul di kepalaku tak lain "ahya, mungkin sifatnya memang gitu"
iya, bagiku memang lebih mudah bertoleransi daripada memboros-boroskan hati. memaklumi bagiku selalu sepuluh kali lebih mudah daripada menghabiskan energi untuk ngedumel sana sini. meskipun pada faktanya, keduanya tidak membuat perbedaan apa-apa.

barangkali, karena jarang merasa terganggu inilah yang membuatku jadi sangat jarang merasa kalau ternyata udah bikin orang lain terganggu kenyamanannya. ini juga yang sering membuat orang-orang di sekitarku salah paham. aku bukannya memang berniat mengusik mereka, aku hanya tidak tahu saja kalau ternyata telah membuat mereka terganggu kenyamanannya.

kata hilmy, aku mesti lebih sering memposisikan diri sebagai oranglain. usul brilian yang dalam praktek minta ampun susahnya. iya, aku memang sebaiknya lebih rutin memposisikan diri sebagai oranglain. belajar untuk tidak terus berpikir dari sudut pandangku saja, karena melihat ketidakpekaanku yang sudah sampai tahap luarbiasa menurut tika mau tak mau membuatku berpikir bahwa jangan-jangan aku sudah terlalu berfokus pada diri sendiriku saja.
haa.. memangnya siapa kau pikir dirimu melynda?
dunia tidak berputar mengelilingiku, jadi atas dasar apa aku layak berharap agar nilai-nilai yang dianut orang lain berpatok pada apa-apa yang aku amini.

tidak! tidak ada dalil sama sekali.

sebenarnya aku bukan orang yang akan khawatir dengan penilaian orang lain. aku bukan orang yg akan uring-uringan hanya karena disebelin. terlebih dengan alasan tidak masuk akal yg tidak bisa kupercaya yang seringnya hanya salah paham biasa.

kurasa, kita memang tidak akan pernah bisa membuat semua orang menyukai diri kita. akan selalu ada pihak-pihak yang tidak puas, tapi itu sama sekali bukan salah kita. karena pada faktanya kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak, kan?
kita hanya harus terus berbuat baik ke orang lain tanpa pandang bulu, itu yang terpenting menurutku.

ini juga yang kurasa menjadi sebab aku jarang merasa bermasalah dengan orang lain. sebuah tanda yang belakangan kusadari berarti aku jarang merasa sudah berbuat salah ke oranglain. ini yang jadi masalah.

selama ini aku cukup bersyukur karena di sampingku selalu ada tika yang berdaya guna ibarat traffic light prilaku yang bisa menyalakan lampu hijau,kuning atau merah untuk mengingatkanku.

dialah, yang memberitahuku ketika aku dinilai salah di saman. dia yg selalu memberikan isyarat entah melalui apa saja untuk menyadarkanku ketika lingkungan beranjak mengancam, ketika misalnya ada beberapa teman yg mau mengerjaiku dan aku tanpa firasat apapun mau-mau saja jadi korban kejailan mereka, atau pada kejadian-kejadian lain yang tak jarang.
cubitannya lah yang selalu berhasil membuatku kembali menelan kata-kata yg sudah di ujung lidah.
iya. aku merasa benar2 beruntung punya tika yang dianugerahi kesensitifan tidak hanya pada kulitnya, tapi perasaannya juga.

tapi di sisi lain aku sadar. aku gak bisa selamanya bergantung pada peringatan tika. ga mungkin aku berharap tika terus memberitahuku tentang mana yg bisa diterima dan mana yang salah. lama kelamaan dia pasti lelah. persis seperti apa yang pernah dikatakannya di satu malam. "gimana mau dikasih tau, orang dah sama-sama gede!"

yihaaaaa!
menggigit seperti diguyur air dari batu es yang mencair. tapi kupahami ini sebagai satu-satunya cara yang bisa membuatku sadar. tidak ada pilihan lain, sebaiknya aku memang harus mulai belajar.
belajar peka, belajar untuk tidak lagi terus bertanya "apa yang salah?" pada tika, belajar menerjemahkan kondisi situasi, belajar untuk melakukan apa-apa tidak berdasar opiniku pribadi, belajar menempatkan diri, belajar berempati, belajar bersikap yang benar.

tepat seperti apa yang hilmy pernah katakan, "karena sikap kita, adalah menjelaskan, agar orang lain tidak salah paham."


akhirnya selesai ditulis hari rabu pukul 6:o7 di antara jeda belajar untuk UTS Nahwu
setelah terperam di draft sejak berhari2 yang lalu.

2 comments:

  1. luar biasa...
    itulah ungkapan dariku kepada kantong plastik ketika selesai membaca postingan ini...
    kejujuran dan keberanian mengakui diri sendiri...
    semoga perubahan yang diinginkan adalah lebih baik...
    GO TRANSFORMATION
    *a structuralis view

    ReplyDelete
  2. selp transpormation (kata orang sunda, :D)

    banyak-banyaklah baca bukunya john gray!

    ReplyDelete