November 3, 2010

antara pak jawat, percakapan arab dan hari jum'at

aku masih ingat cerita ini. meski rasa-rasanya sudah begitu lama, tapi di kepalaku cerita ini masih basah. barangkali ini macam cerita yang baru akan kulupa hanya jika aku terkena amnesia.

pagi itu sejuk.
aku di jembatan budaya merapalkan kata2 dengan khusyuk.
hari itu UTS perdana di semester pertama, ujian lisan pula.
jembatan budaya ramai oleh teman2 sekelasku yg juga melakukan hal sama meski motifnya beda2, ada yang karena semalam belum belajar, ada yg hanya untuk mengisi waktu menunggu giliran.

aku bahkan masih ingat di kursi yg mana dan sebelah mana waktu itu aku duduk.
matahari di belakangku mulai memanas dan aku masih saja khusyuk,
menghapal belasan kosa kata yg mulai memenuhkan kepala tanpa banyak terpengaruh oleh hp ku yg pagi ini hilang di bis kota.

kupikir waktu itu, barangkali aku memang kurang memberi, masalah diomelin papa bisa dipikirlah nanti-nanti, toh kalo aku sabar, barangkali ujianku hari ini bisa lebih lapang.

rasanya sudah beratus-ratus menit ketika menyiar kabar bahwa ruang ujian dipindah pak jawat ke ruang sidang.
maka, berbondong2 lah anak manusia yg belum dapat giliran melakukan transmigrasi besar2an menuju selasar jurusan. big grin

setelah entah berapa jam menunggu, tiba juga giliranku.
aku masuk ruang sidang bertiga dengan irul dan cinta sebagai arus peserta paling terakhir.
diantara mereka bertiga, aku yg dapat giliran paling terakhir.
dan hasilnya? kacau balau mengenaskan.
kosakata2 yg aku hapalkan dengan semena-mena menghilang.
kacau, kacau, kacau!
kalau gelas jatuh pecahnya berupa potongan, gelasku jatuh langsung menjadi serpihan. benar2 tidak tertolong lagi.
jangankan menjawab pertanyaan yg disodorkan ustadz jawat, mengerti maksutnya saja tidak. irul dan cinta saja iba melihatku dihabisi begitu rupa.

keluar dari ruang sidang saja aku sudah ingin menangis. tapi seorang melyn mana boleh menangis, di depan khalayak umum. ya, jadinya kutahan-tahan saja. sampai di luar, kulihat tika tersenyum2 mencurigakan.
yahaa.. ternyata seseorang yg iseng2 kami taksir berjama'ah menitipkan salamnya untuk tika.
sial! sial! sial! di titik itu, airmataku sudah hampir jatuh.

normalnya, dalam keadaan jiwa yg sedang tidak labil, yg aku lakukan adalah ngecie-cie in campur sesumbar2 gak penting. tapi situasi kali ini bener2 sedang tidak ramah. membuat segala prasangka baik yg berusaha kupercaya dengan susah payah seketika pecah.

kenapa hari ini sial sekali?
runtun beruntun.
seolah seisi bumi ini berkonspirasi, berlomba2 bikin aku kesal.
untuk satu hari di dalam hidupku, belum pernah aku merasa sesial itu.

gimana enggak?
pertama hp ku ilang.
kedua, UTS percakapan arab yg seharusnya ditanyai oleh sesama teman, tapi giliranku malah ditanya langsung sama dosen. dapat giliran paling terakhir pula. hapalan2 kata hilang semua. entah berapa kali aku berkata "khalas ustadz," pada pak jawat, mengemis2 belas kasihan. sebuah kalimat yg tidak hanya membikin malu, tapi diam2 juga menjatuhkan mentalku.
jangankan aku, irul dan cinta pun barangkali kepingin menangis melihat betapa sialnya aku waktu itu.
dan ketiga, soal salam-salam an. lihat kan, bahkan hal sepele macam begini pun tak mau kalah membikin aku kesal. benar2 minta ampun!

rasanya setelah itu aku cuma ingin cepat sampai di rumah, mematikan lampu kamar, cukup aku sendirian, menangis sampai puas, tertidur sampai pulas.

tapi barangkali, wajah menahan nangis ku waktu itu sudah terlalu aneh ditangkap oleh galuh dan tika, sampai2 mereka tidak mau melepasku begitu saja. mereka mendesak mati2an. aku mati2an melawan. tapi ternyata, selamanya dua akan selalu berarti lebih dari satu.
untuk kali pertama dan pertama kalinya aku menangis di kampus, menangis yg benar2 parah. sampai tersedak dengan hebohnya. kepergok mbak mexi pula.
sejak itu, aku bertekad untuk enggak lagi menangis di depan apapun yang bukan bayanganku.
tidak akan dan tidak akan. pasti sebisa mungkin ku tahan.
begitu sampai di kosan. lagu bad day daniel powter menguar dari kamar mbak (entah-siapa-yang-aku-lupa-namanya). seperti menemukan pelarian dan penghiburan, aku menyanyikannya keras-keras di dalam hati. menyindir diriku sendiri, menghibur diriku sendiri.

dan UTS percakapan arab semester ini, lagi2 aku sama ustadz jawat.
juga ujian lisan, aku menggigil ketika menyadari hari giliranku ternyata hari jum'at.
uts percakapan arab, ustadz jawat, hari jum'at, ditambah lagi ujian lisan dan semester ganjil. semuanya pas. iya, aku memang menghubung2kan semuanya, dan ini bikin firasatku gak enak.
aku tau sugesti ini dari diriku sendiri.
sugesti yang sudah terlanjur bertumbuh yang sedang berusaha kuabaikan dengan sungguh2.

satu kutipan yg sudah kuhapal diluar kepala membuatku tersadar, kemudian memberi efek menenangkan.

"Kekhawatiran tak menjadikan bahayanya membesar! Hanya dirimu lah yang mengerdil! TENANGLAH! Semata karena Allah bersamamu. Maka tugasmu hanya berikhtiar"

ps: untuk seorang teman yg selalu melarangku mengucap kata sial.
aku tau, bilang sial menjauhkan kita dari kesyukuran, dan sebanyak apa kata sial yg aku sebutkan sebanyak itu pula keinginan abang menjitakku, kan? big grin
cuma untuk hari ini aja. besok2 enggak bilang sial lagi. janji dah janji. peace sign


selesai ditulis hari kamis.
mahendra bayu 14 pukul 9.
lagu bad day-daniel powter.

4 comments:

  1. dan hei... siapa yg skrg udh jago bahasa arab...? pasti lah si melyn ini... tetap semangat, mel!

    ReplyDelete
  2. weheyy.. gak juga uda. masi paling bego di kelas. heheyy..
    inget bgt waktu dulu chatting ma uda, aku yg mahasiswa sastra arab ga tau banyak kosa kata. jagoan uda.
    wkwkwk..

    ayoo.. kapan2 chatting pake bahasa arab lagi. skg aku dah bisa jawab kalo uda tanya "ma dza taf'alina?" ;p

    ReplyDelete
  3. setiap orang pernah merasakan seakan-akan hari itu sangat buruk baginya, tapi jika kita kuat menahannya, esok senyum cerah akan sangat cerahnya terpancar bahkan mereka yang disekeliling kita ikut merasakan...
    sukses dengan bahasa arab dan jurusan arab...:)

    ReplyDelete