December 15, 2010

kereta

ingatan pertamaku tentang naik kereta ada sekitar 13 tahun lalu. entah waktu kelas berapa aku lupa. barangkali masih usia tk.
tak banyak yang kuingat, sekarang rasanya hanya seperti mimpi saja.
aku berlari-lari diantara kursi2 yang memiliki renda pada sarungnya. bermain petak umpet dengan adik lelaki pertamaku. aku tidak ingat apakah fitri sudah lahir atau belum waktu itu. aku bahkan tidak yakin apa kenangan bermain petak umpet diantara kursi-kursi biru itu benar2 ada atau hanya bayanganku saja. kejadiannya sudah terlampau lama, sudah terlalu mengabur jika sekarang aku ingin mengingatnya.

kali lain ingatanku sampai pada kereta ialah sewaktu berombongan dengan saudara-saudara mama. tentu saja sepupuku juga. entah sd kelas berapa aku waktu itu yang pasti kami dalam perjalanan ke rumah adik mama di siantar. dan satu2nya pemandangan yang kuingat hanya sewaktu melewati sungai ular, kebingungan dengan bisik-bisik di sekitar tentang putusnya gerbong atau entah apa yang dengan bersemangat dicerocoskan oleh salah satu kakak mama.

dan ingatan sisanya hanya sebatas sampai pada stasiunnya saja.

yang pertama waktu aku masih awal sd. masih berupa bocah perempuan kecil cengeng yang sangat bergantung pada orang dewasa.
aku ingat waktu itu, di stasiun yang hanya berjarak 10 menit dari rumahku, didudukan papa di atas sebuah meja bersama tio, dikerubungi orang banyak seperti sepasang anak kembar yang hilang dari orangtuanya. dan kami diatas meja, menangis bersama, menunjuk2 kereta jurusan tanjung balai yang mulai bergerak perlahan. papa masih di dalam.

faktanya saat itu ialah, papa sedang memperjuangkan tempat duduk untuk saudara kami yang akan pergi. anaknya banyak, barangnya banyak, jadilah papa masuk ke gerbong itu untuk mengurusi kepentingan mereka sebentar sementara aku dan tio di dudukkan diatas salah satu meja tanpa pengawasan. ah, kalau saja aku yang sekarang ada disana, tentu sudah kujitak kepala papa sambil berteriak padanya, "kalau aku dulu diculik bagaimana papaaa?" sebab aku tidak akan lupa seperti apa rasa takutnya. antara mendiamkan tangis adik lelakiku dan mengabaikan sahut2an peluit yang semakin membuat panik, juga menahan tangisku sendiri. di tambah lagi, waktu itu aku masih kecil sekali.

dan ingatanku yang lain ialah saat aku awal smp dulu. waktu itu kami sekeluarga dengan keluarga kecil om eko, spesial trip dari banda aceh, medan, pematang siantar, rantau sampai pekanbaru. mengantar papa ke stasiun kereta entah di siantar atau rantau karena harus segera kembali ke medan untuk suatu urusan. sedang kami menetap disitu, dengan mobil Isuzu Panther LM th 2004 warna silver kaya kenangan milik kantor. mendadahi papa sembari brdoa semoa selamat dalam perjalanannya. dan sudah, sebatas itu saja.

aku ingat, waktu di aceh dulu aku begitu bangga karena menjadi segelintir anak yang pernah merasakan naik kereta, tapi sekarang aku bahkan tidak lagi ingat seperti apa rasanya.

selesai ditulis setelah ketiduran tadi malam
mahendra bayu 14, 10 menit sebelum jam 6
menahan iri membaca postingan hilmy disini

3 comments:

  1. ayo abang traktir naek kereta,
    tapi kamu harus janji traktir abang naek mak itam di sawahlunto!
    hayo!

    ReplyDelete
  2. aku suka naik kreta api :D
    tapi ga suka naik kreta api ekonomi senja utama , berisiiiik :P

    salam kenal ;)

    ReplyDelete
  3. #ipah: kereta api-kereta api di jawa ada namanya yaa..aku gak ingat apa kereta api di sumatera ada nama-namanya juga. salam kenal.. =D
    #abang: yahaa.. beneran? abang traktir aku kereta api jurusan papua nugini, bisa? ;pp
    kalo mak itam nanti penampakan abng jadi itam2 begitu keluar terowongan. =p

    ReplyDelete