December 19, 2010

tentang nasi putih serta apa yang berkeliaran di kepala mereka

sebelumnya tidak pernah terpikir di kepalaku bahwa menjadi seseorang yang tidak menyukai nasi putih di negara dimana nasi lah yang menjadi makanan pokoknya merupakan beban sosial yang lumayan juga.
dan seperti apa yang aku bilang di postingan sebelumnya, nggak semua orang bisa menerima apa yang justru membuat kita merasa nyaman, enggak semua orang bisa percaya pada alasan-alasan yang kita sampaikan.

lantas aku bisa apa sekarang?
mengutuki kenapa aku malah lebih suka roti daripada nasi.
ahaa.. melyn-sentris sekali, lagipula ini bukan solusi.

dari dulu aku tau, di dunia ini banyak orang2 yang pada sok tau. suka menilai orang semau-mau.
aku nggak bilang menilai orang itu salah. semua orang menilai apa yang mereka saksikan. aku juga menilai, semua orang menilai. menilai orang adalah hak prerogatif masing-masing dari kita. Hanya saja terkadang rasanya terlalu melelahkan untuk tetap berusaha nyaman ditengah penilaian orang-orang, tidak peduli apakah itu jelek atau baik. sebab yang pertama bisa jadi caci-maki, sedang yang kedua berarti ekspektasi.
bagiku, keduanya sama2 tidak nyaman.

kamar 14 mahendra bayu pukul 10:21
teringat percakapan di tempat makan bapak waktu itu.

5 comments:

  1. melyn tak suka nasi!
    kebalikan ku,,,hohooo
    aku suka sekali nasi,,:)

    ReplyDelete
  2. hehe.. kita tukeran aja mbak. nasinya kukasihin mbak, lauknya buatku semua. ;D

    ReplyDelete
  3. bole2,,tapi sisain lauknya dikit dek'
    gkgkgkgkkkk

    ReplyDelete
  4. @all, dua orang yang aneh. aku suka semuanya.
    haha

    apapun penilaian orang, itu hanya cover.

    ReplyDelete
  5. abang: kalo abang memang pemakan apa saja kan? =p
    ahaa.. iya, dan kita mesti tau penilaian macam mana yang bisa kita percaya.

    mbak meta: hehe.. mbak makan nasi pake garem sama kecap aja. ;p

    ReplyDelete