January 29, 2011

i'm home, finally...

Masih butuh waktu untuk mencerna ini semua. Aku disini, di bagian atas tempat tidur tingkat dengan pilar2nya yang berwarna cokelat tua, mengetik, diam, tenang, menghadap dinding berwarna krem keemasan. Menoleh ke kanan, mendapati jam dinding, malam mulai menua. menoleh ke kiri menemukan AC yg jaraknya hanya beberapa jengkal dari ujung kepala.

Sekarang aku di kamar. Di kamarku yang nyaman.

rasanya tidak terkata sewaktu tau seluruh keluarga, dalam formasi utuh ramai2 ikut menjemputku. Aditya bahkan sudah tertidur di pangkuan mama sewaktu aku memasuki mitsubishi kuda keluarga kami yg tidak terganti. Benar2 mirip aku jaman dulu. Begitu jam 9 berdentang, ngantuk pun segera datang. Tidak bisa ditawar2. persis kakaknya.

Sepanjang perjalanan waktu itu rasanya aneh sekali. Baru beberapa hari lalu aku merasa begitu rindu pada orang-orang ini. Merindu dgn kerinduan yg tak tertahan. Yang bahkan membuatku menangis nyaris setiap malam. Mengutuki jarak yang jauh memisahkan kami. Tapi sekarang?
Aku baru saja menahan iri melihat tio yg telah diizinkan papa mengemudikan mitsubishi kuda kami. Ah, aku ingin bisa nyetir mobil juga.
Well, sekarang dia jadi supir keluarga. Yah, aku paham, begitulah anak lelaki tertua seharusnya.

Dan papa disebelahnya. Semakin tua, semakin lelah, tapi semakin berwibawa juga. Semakin arif tampaknya. Yah, semoga..

Di mobil waktu itu ramai celotehan kami. tentu saja selain suaraku sendiri menceritakan kehebohan adegan 'dewi motik dan tatty elmir keluar studio' sewaktu taping kick andy tempo hari.
Dari mulai harga durian yg mulai musim sekarang, pisang dirumah yang telah berhari2 di peram tapi tak matang2 hingga cerita bangkrutnya papa beberapa hari lalu di rumah makan padang.
Tapi yg pasti aditya mendominasi topiknya. Tentang dia yang telah bisa mengetik password di laptop papa. Yang katanya sekarang lebih pintar main laptop dibanding mama. Tentang ocehan-ocehannya kala memainkan game yang susah. Tentang suatu malam ketika semua orang mulai beranjak tidur tapi dia malah menyeret selimut ke ruang tv dan menonton tv sendiri dengan berani, kemudian malam itu papa pergi ke ruang tamu dan mematikan aliran listrik, lalu dia pun menjerit.
Tentang dia, yang merindukanku. Tentang dia yang mirip aku.

Dan kericuhan di mitsubishi kuda ini selalu berdampak aneh terhadapku. Di satu sisi rasanya ikut senang juga, mendengar segala keseruan hang out mereka. tapi sedetik kemudian berkaca-kaca begitu mengalihkan muka.

Yah, tidak perlu usaha keras untuk bisa mengidentifikasi sebabnya. Aku hanya iri saja. Benar2 berharap, andai saja disana ada aku juga!

Dan semuanya tidak berhenti sampai disitu. Aku masih harus terkaget-kaget ketika menemukan inova hitam cemerlang terparkir di tempat biasa si mitsubish damai diparkirkan.
Dan ternyata itu mobil baru papa. Fresh from oven, haha.. Terkadang kupikir keluarga ini keterlaluan juga. Beli mobil baru macam tak ada intronya. Ngobrol2 dulu kek, minta pertimbangan atau paling nggak ada announcement nya lah.

Liburan kemarin aku sudah cukup terkejut dengan sepeda gunung polygon heist 4.0 yg tiba-tiba tergeletak di ruang tamu. Dan kali ini ada lebih banyak yang berubah. Banyak yang bertambah. Selain fakta bahwa aditya semakin tinggi dan fitri mendadak jago menyusun seluruh warna rubiks dalam hitungan kurang dari 30 detik atau bahkan sekedar keberadaan lampu malam baru di kamarku. Segala hal itu mengejutkan. Membuatku mau tak mau merasa tertinggal.

Tapi yang jelas. Satu hal yang masih tetap bertahan. Yang kuharap akan terus bertahan. Ritual hampir setiap malam yang kami lakukan beberapa jam setelah makan malam, segera setelah papa mandi bebersih diri sepulang dari tempat kerjanya. Lalu kami berkeliling kota, sambil menidurkan aditya.

Tidak apa meski yang kami naiki bukan lagi mobil kuda, aku bersyukur benar mendapati tradisi ini tetap tidak berubah.

Ah, aku pasti akan kangen pada wangi sabun mandi yang nyaris tiap malam aku baui.

2 comments:

  1. sukaaaaa...
    selamat berbirulwalidain melyn..
    kirim salam yaaah

    ReplyDelete