January 22, 2011

Kick Andy, empat februari.

ini pasti akan jadi acara yang membosankan!

itu hal pertama yang terlintas di pikiranku ketika kak fahmi memberitahuku tentang tema acara di kick andy malam itu. tentang pendidikan sex pada anak usia dini, begitu kurang lebih yang kuingat. duduk 2.5 jam hanya untuk mendengarkan hal-hal mengenai bahaya sex bebas yang aku sudah tahu dampak serta bahayanya yg syukurnya tidak ada sedikitpun ketertarikan di kepalaku untuk mencoba-coba sesuatu semacam itu.

paling-paling akan membahas dampaknya pada kesehatan reproduksi, itu yg kupikir pertama kali.
tapi syukurlah aku salah. 2,5 jam taping hampir2 tidak terasa.

di acara itu, kick andy menghadirkan beberapa narasumber. salah duanya adalah remaja berusia 19 tahun bernama justin dan bunga (nama samaran) yang berprofesi sebagai PSK.
miris rasanya, ketika aku bisa bersenang2, mengais pengalaman bersama teman-teman, mengejar ilmu dan berorganisasi di kampus. dan dalam usia yang sama, sama2 19 tahun juga, mereka malah terjebak di dalam dunia yang tidak dapat aku terima. yang mungkin juga tidak dapat diterima oleh hati kecil mereka. kehidupan yang barangkali sangat ingin mereka lepaskan tapi sialnya telah memerosokkan mereka begitu dalam.

dan kick andy juga menghadirkan satu lagi narasumber yang tiba-tiba menjadi seseorang yang, benar-benar kukagumi. Ibu Elly Risman, seorang psikolog keibuan yang merupakan pimpinan Yayasan Kita dan Buah Hati. banyak hal-hal yang kudapati disini. data-data mencengangkan yang sebenarnya tidak lebih mengerikan dari apa yg sesungguhnya terjadi di kehidupan nyata. dan aku tidak perlu berusaha terlalu keras untuk bisa memercayainya.

bahkan, bencana ini sudah memberikan indikasi menjangkiti anak usia TK dan sekolah dasar. tentu saja lewat media-media yang dengan bebasnya membawa partikel pornografi yg seringkali tidak kita sadari. dan aku yakin itu bukan cuma penemuan saat ini. aku percaya bencana ini telah dimulai sejak lama. perlahan2 dengan begitu halusnya, hanya saja sekarang sudah semakin meningkat hingga akhirnya membuat mereka, para orang tua sedikit demi sedikit tersadar dari pingsannya.

aku ingat, sewaktu SD dulu, anak laki-laki di kelasku suka sekali meletakkan rautan bercermin di bawah rok para anak perempuan. memang hanya kelihatan seperti kejailan kecil. sebuah ulah iseng yang membuat para orang dewasa menggelengkan kepala, menggumamkan sesuatu entah apa kemudian mengabaikannya. sebuah respon sederhana untuk menanggapi perkara yang mereka anggap biasa saja.

kurasa, respon seperti itu muncul karena seringkali para orang dewasa berpikir bahwa untuk melakukan sesuatu, anak kecil tidak perlu punya motif apapun. hanya sekedar melakukan tanpa tahu sebenarnya mereka sedang melakukan apa, tanpa tahu bahayanya, tanpa tahu apa substansinya. tapi kurasa, justru itu yang berbahaya, anak2 seringkali tidak benar2 paham mengenai apa yang sedang mereka kerjakan karena sesungguhnya mereka hanya meniru apa yang mereka saksikan.
orangtua hanya seringkali tidak sadar bahwa selalu ada sesuatu yang mendorong kita melakukan hal-hal yang kita kerjakan. ini berlaku untuk semua orang, tidak terkecuali bocah ingusan.

dan aku tertampar-tampar ketika Ibu Elly Risman menyatakan penemuan terbaru mereka yang begitu mengiris-ngiris dada.
ada anak SD yang selalu menggambar alat vital setiap pelajaran menggambar di sekolahnya. anak perempuan yang minta diperkosa. juga sepasang anak TK yang ditemukan berhimpitan di bawah meja.

Allah.. ini kebobrokan macam apa? kemana orangtua mereka? kemana, para orang dewasa?

kedengarannya memang tidak bisa dipercaya. tapi aku tidak perlu apa-apa untuk bisa memercayainya. sebab dulu, berbelas-belas tahun lalu, aku kenal seseorang yang melakukan hal-hal semacam itu. anak kecil. anak perempuan yang masih sangat kecil.
INI FAKTA! dan realitanya, persentasenya terus bertambah.

aku paham tidak mudahnya menjadi orangtua.
tapi anak2 tetaplah anak2. mereka punya rasa ingin tahu yang besar. mereka berimajinasi, menyerap informasi. mereka mencoba-coba apapun, menyerap informasi manapun. mereka hanya tidak mengerti bahwa tidak semua informasi dapat diperlakukan sama. ada hal-hal yang mesti diperlakukan dengan berbeda. mereka tidak tahu, karena tidak ada orang dewasa yang memberitahu mereka tentang itu. orang tua mereka pingsan. tidak sadar!

dan paling menyakitkan ketika aku akhirnya tersadar bahwa ada lebih banyak anak seperti anak perempuan yang kukenal itu. tiga kali lipat dari berbelas tahun lalu.
ada lebih banyak anak kecil yang tidak dapat berbangga atas masa kecil mereka hanya karena 'ketidaksadaran' orang-orang dewasa di sekeliling mereka. ini bukan cuma tanggung jawab orangtua. malahan faktanya, justru orang-orang dewasa di sekitar itulah yang tanpa sadar menanamkan elemen-elemen pornografi di kepala anak2. seringkali tanpa mereka sadari.

sewaktu kecil, aku biasa menemukan cerita berita pemerkosaan yang dituliskan secara vulgar di koran-koran yang bergeletakkan di warung tempat aku biasa membeli chiki. buku-buku TTS yang terpajang dengan cover yang mengeksploitasi bagian-bagian tubuh perempuan. belum lagi iklan-iklan obat kuat dan obat-obat lain yang memenuhi halaman, tidak perlu kudeskripsikan macam apa gambar yang terpajang.
dan sebanyak apa pula pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak kecil di sekitar mereka?
bukankah orang dewasa itu seharusnya memberi penjelasan, bukan menjerumuskan.

well, ini pernyataan, bukan pertanyaan.

aku tahu memang tidak mudah menjadi orangtua. tapi bukankah sama tidak mudahnya menjadi anak kecil yang menerima banyak informasi dan kemudian kebingungan bagaimana harus memerlakukan informasi-informasi itu.
jika keadaan ini terus dibiarkan, 13 sampai 50 tahun kedepan, bangsa ini akan jadi apa?

apa yang dibilang Bu Elly benar, ini ancaman terhadap ketahanan nasional.

sebenarnya aku menyadari ini sejak bertahun lalu. kurasa 11 tahun umurku ketika itu.
dulu, ketika aku masih sering berpikir lebih baik tidak usah dewasa saja jika ternyata harus menjadi seperti orang dewasa yang sering aku dapati. dan yah, kalaupun aku memang harus dewasa, aku tidak akan pernah mau menjadi orang dewasa seperti mereka. dan faktanya apa yang melyn 11 tahun dulu itu takutkan ternyata benar. pada akhirnya aku lupa.

sekarang, aku sadar aku ada dimana. menjadi tua bukan sesuatu yang bisa ditolak rupanya. tapi aku punya pilihan untuk menjadi apa. sekarang aku punya aditya, para keponakan dan sepupu2ku juga. serta putri, qifa, lita. latifa dan semua adek2 TPA. aku hanya harus lebih sadar saja. hanya harus lebih memerhatikan mereka.
dan hey kalian, para orangtua. QUM! Bangun!
sudah tidak jaman setia pada pingsan kalian!

terima kasih kepada Kick Andy, kepada Bu Elly,
untuk kemudian menyadarkanku lagi tentang ini.

ps: kutulis ini setelah membaca lagi coretan-coretan dari spidol biru yang kutulis di booknoteku. malam-malam, di bis menjelang pulang. kata-kata yang kutumpahkan hanya untuk membuat diriku termaafkan. permohonan2 yang tidak tersampaikan.
maaf, dulu itu aku tidak bisa banyak membantu. kau juga tau, saat itu umurku belum lagi sampai sepuluh.

padamu, anak perempuan yang kukenal dulu.
mengenalmu memang bukanlah sesuatu yang benar2 aku harapkan, tapi sekarang aku sadar, darimu aku menjadi paham, darimu aku banyak belajar.

hey teman, sekarang kau apa kabar?

mahendra bayu 14 pukul 7:03
selesai ditulis setelah mengendap di draft begitu lama
menemukan lagi melyn 11 tahun dulu
kembali kesal dengan para orang dewasa
perjalanan panjang dan tiba2 aku sudah 19 tahun saja!

4 comments:

  1. sangat mirip sekali mel :( ikut sedih tapi kabarnya ada henpon jenis baru yang sangat sederhana cuma bisa telpon ke 3 nomer dan sms. ini cocok buat anak2 yang belum dewasa ya

    ReplyDelete
  2. #anyin: iyaa?? wehe.. lbh bagus lg kalo ad ad alat pelacaknya. kalo2 anakny diculik. hehe..

    #kak nova: semangat jugaaa...

    #mas dedek! ;p

    ReplyDelete