February 11, 2011

di dekat loteng

menangis itu, barangkali memang pelepasan emosi paling purba yg tidak memberi solusi.
tapi ia menjernihkan, dan mungkin juga sebuah pintu masuk untuk apa yg kita sebut ikhlas dan tawakal. serta sebuah proses untuk bisa memaafkan.
ini yg skg baru kusadari.

sementara menulis itu seperti perjalanan untuk menemukan kesadaran baru. ketika kita bisa menulis benar dan salah sepuasnya. dan kemudian tahu perbedaannya.

itu yg kusadari sejak dulu.

dan seperti apa yg pernah mbak hani bilang, bukankah semuany hanya perlu berada di titik seimbang?

-beberapa puluh meter diatas tanah, ketika eg0isme saya perlahan lenyap entah kemana-

1 comment:

  1. kamua hanya perlu tenang sejenak, dan komunikasi dengan dirimu sendiri...

    ReplyDelete