February 5, 2011

hari libur

Berada di rumah pada hari libur hampir selalu jadi hari yang tidak menenangkan sama sekali.
Entah kenapa papaku itu selalu saja punya sesuatu untuk di kerjakan di setiap hari libur kerja. Sewaktu liburan panjang semester yang lalu, papa sukses membocorkan selang pemanas air di kamar mandi utama saat membongkar salah satu temboknya dengan tujuan entah apa yang menyebabkan pemanas air otomatis di kamar mandi tersebut tidak dapat dipakai selama beberapa bulan. Maka jadilah, selama hari libur hari libur selanjutnya papa habiskan untuk membereskan kekacauan yg yah.. (mau bagaimana lagi?) terjadi karena ulah papa sendiri.

Hari libur pertama aku di rumah, papa membongkar sebuah kalkulator yg beliau temukan di dalam laci hanya dalam beberapa menit dan kemudian menghabiskan sepanjang sore untuk merakitnya lagi yg kemudian menjadikan informasi yg diberikan kalkulator tersebut mjd tdk valid.
Yah, kami sekeluarga rata-rata sudah paham bahwa barangkali mengacaukan sesuatu kemudian membereskannya kembali sudah menjadi semacam stress healing bagi papa setelah lima hari menghadapi sumpeknya pekerjaan. Sebuah kegiatan yang untukku memiliki efek sama dengan jalan2, menggambar, mengacaukan dapur ataupun tidur.

Sewaktu dinas di aceh dulu, ketika kami di fasilitasi rumah yg cukup besar dengan banyak kamar. Papa bahkan punya sebuah ruang khusus untuk menyimpan segala perkakas serta balok-balok kayu yg entah papa dapat darimana. Dan jadilah, karena situasi konflik yg tidak memungkinkan kami untuk menghabiskan hari minggu dgn menelusur jauh smpai ke pelosok desa, papa lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan yg kami sebut gudang itu dan berhasil menciptakan 1 set kursi yng meskipun lebih mirip kursi pantai, tapi kami jadikan kursi untuk meja makan (bisa juga dipakai untuk tiduran karena posisi sandaran yg dapat disesuaikan batting eyelashes)

Selanjutnya, ketika aceh sudah mulai aman dan balok-balok kayu itu sudah bertransformasi menjadi bentuk2 yg berbeda kami memutuskan untuk memindahkan perkakas papa ke kamar yg lebih kecil agar kamar bekas gudang yg faktanya merupakan kamar paling luas di rumah bisa menjadi kamarku dan fitri. Dan selama beberapa waktu, hari libur menjadi hari yg damai dimana kami menghabiskannya dengan berjalan2 dan bermain di pantai.

Ketika kami pindah ke banjarmasin. Rumah dinas yg kami tempati tidak terlalu luas yg bahkan rasanya begitu ngepas untuk ditinggali 6 orang. Dan dikarenakan banjarmasin merupakan kota yg minim tempat wisata dimana mall yg hanya satu biji itu yg mnjadi hiburan biasa dicari bagi masyarakatnya dan karena keluargaku bukanlah keluarga yg sangat hobi berjalan2 di mall selain untuk belanja bulanan ataupun belanja hari raya, jadilah hari libur menjadi hari yg cukup memenderitakan dimana suara mesin2 perkakas papa berdengungan dgn nyaring di seantero rumah.
Itulah kenapa kami paling suka menyambut ajakan papa berkendara sampai ke banjarbaru, martapura, pelaihari bahkan pernah sampai ke batas provinsi dgn tanpa tendensi.

Untunglah di makassar ini ada banyak tempat wisata tempat wisata yang tidak habis2 untuk di kunjungi. Dari yg tidak sampai 2 jam perjalanan macam bantimurung, yg 6 jam lebih macam bira smpai yg memakan waktu hampir seharian perjalanan. Maka jadilah, hari libur menjadi hari yang menyenangkan dimana kami sekeluarga mengemas beberapa barang (termasuk makanan) dan pergi piknik ke suatu tempat. Tapi ada juga hari libur seperti minggu lalu ketika papa memutuskan untuk main badminton bersama teman-temannya sampai siang, lalu kemudian membongkar sebuah barang yg sedang sial baru sorenya memenuhi rengekan aditya berkeliling kota, melewati losari dan tanjung bunga dan menikmati pantainya dari jalan raya.

Dan di hari libur imlek kemarin, kami tidak kemana-mana. Ternyata papa memutuskan untuk membongkar kursi mobil bagian depan dan belum dipasang kembali hingga sekarang. Mobil yang malang.
Rencananya, hari sabtu dan minggu ini kami mau ke toraja atas ajakan papa. Toraja. Aku melihatnya sebagai kota yg jauh yg kaya akan ritual-ritual. Yang katanya upacara kematian jauh lebih megah dibanding kawinan. Tempat kerbau2 merah muda berbercak hitam diperlakukan macam raja, yang pamongnya saja diupah sampai 600ribu per bulannya.

Bermacam jajanan sudah dibeli untuk teman perjalanan yg panjang, dari permen smpai kacang, biskuit juga beberapa roti-rotian. Bahkan aku dan mama sudah bersemangat mau bikin brownis segala juga mempersiapkan untuk makan beratnya karena menurut kabar yg beredar di toraja agak susah menemukan tempat makan yg terjamin kehalal-annya. Kami akan berangkat hari sabtu pukul lima pagi.

Tapi ternyata, dua hari sebelum hari H, kami menyadari fakta bahwa hari sabtu adalah hari dimana seluruh pelajar di wilayah indonesia harus masuk sekolah. Begitu juga dengan fitri dan tio. Dan karena sangat tidak mungkin menyuruh mereka izin dengan alasan piknik terlebih karena fitri ada ujian hari sabtu itu, maka diputuskanlah piknik ke toraja TIDAK JADI! Huaa...huaa.. *nangis darah.
Alasannya, ini piknik keluarga jadi percuma saja jika jadi pergi tapi tidak ikut semua. Yah alasan yang dapat diterima.

Hahaa.. Kalau dipikir2 bodoh juga.
Terlalu bersemangat terkadang membuat lupa pada hal-hal sederhana.

No comments:

Post a Comment