February 28, 2011

jatuh saja

beberapa hari ini, sakit di lututku kambuh lagi. ternyata luka akibat jatuh di lapangan es skating dulu itu tidak seperti dugaanku : ia belum benar2 sembuh.
aku rasa memang tidak akan pernah benar-benar sembuh. dia cuma akan reda sebentar, diam, tenang, dan pelan2 kita akan melupakannya seolah tidak pernah benar-benar ada, sudah setahun lebih tapi dia tidak hilang. tidak pernah benar-benar hilang.

aku rasa seperti itu juga luka saat kita jatuh cinta.
tidak perlu memar atau lebam hanya untuk meyakinkan sesakit apa itu di dalam. tidak ada orang yang tau kecuali kita yang merasakannya. cuma mereka yang melihat seberapa keras jatuh kita lah yang bisa membayangkan seperti apa luka itu kira-kira. sesakit apa kemungkinan lukanya.
dan aku ingat bagaimana aku jatuh di lapangan es skating dulu. mungkin jatuh bukan kata yang tepat. di indonesia ini, jatuh dengan cara seperti itu disebut terbanting. dan begitulah saat itu aku, terbanting berkali-kali di lapangan es yang keras dan dingin.

cuma yang baru kusadari sekarang, betapa waktu itu aku begitu keras kepalanya. tidak peduli dengan abang2 penjaga lapangan es yang sudah geleng-geleng kepala melihatku lebih sering terbanting dibanding benar-benar bermain es skating. tidak peduli pada jari-jari kakiku yang terasa sakit karena terjepit. bahkan juga tidak peduli pada lutut yang kupikir telah berdarah-darah saking sakitnya. tapi ia tidak berdarah. sama seperti hati yang tidak akan pernah berdarah meski berkali-kali terbanting ke tanah betapapun sakitnya.
kita cuma dapat merasa, ada retak disana.

dan aku memilih menciptakan satu lagi retakan ketika aku mulai sadar,

aku memilih membanting sendiri sebelum apapun ini membawaku terlalu tinggi.



kalau saja ini bisa seperti es skating.
meluncur saja dengan sedikit kehati-hatian kemudian jatuh tanpa melawan.
tidak perlu merasa bersalah, tidak perlu merasa jera


gambar dari http://lovequotesrus.tumblr.com

3 comments: