February 5, 2011

jawa-sumatera

Sewaktu di banjarmasin dulu aku pernah mencetuskan ide untuk pulang kampung dengan mobil pada papa. Oke, mungkin lebih tepat kalau kita sebut ini memprovokatori. Harus kuakui bahwa aku memang sudah begitu teracuni dengan film Runaway Vacation yg kutonton jaman smp dan sangat menikmati perjalanan menyenangkan berkendara dari aceh sampai pekanbaru juga saat aku masih smp.
Kupikir akan menyenangkan seandainya bisa menelusuri pulau jawa dan sumatera dari ujung ke ujung.

Tapi akhirnya Ide pulang-kampung-naik-mobil-dari-banjarmasin-sampai-binjai ini hanya menjadi wacana yang sebenarnya sudah disetujui papa namun menjadi agak tidak jelas karena penentangan mama yg keras. Harapan untuk bisa menelusur ini pun pada akhirnya, mau tidak mau harus aku lepas. Bahkan kemarin, sewaktu papa bilang mau kirim mobil kuda ke medan, sesuatu dalam diriku yg dulu dibungkam itu terusik lagi. "hah??? Ongkos kirimnya 10 juta? Udah pa, mending kita bawa aja!" seruku waktu itu. Iseng saja, tanpa secuilpun ekspektasi. Dan jawabannya tepat seperti yg sudah ku estimasi. Bahkan bonus diomeli,"kita bawa? Kamu mau nyetirnya?" "...."

Sewaktu akhirnya pindah ke jogja, aku bertekad sebelum umur 20, atau setidaknya sekali sebelum aku mati aku harus udah pernah rasain pulang kampung naik bis. Alasannya sederhana, aku ingin melihat banyak tempat meski judulnya cuma lewat. Hal ini udah pernah aku sampaikan ke papa yang kemudian malah berujung pada tantangannya. Dampaknya tidak ada selain menambah terbakar semangatku sekaligus merupakan restu yg semakin mendekatkanku pd cita2 mulia itu. Gohoho.. Amboi lebainyooo...

Di binjai, aku punya calon kakak ipar yang cantik berambut panjang yg ternyata sangat suka jalan2 juga. Asalnya dari tebing tinggi dan saat ini bekerja di rantau (rantau ini nama tempat). Biasanya, kalau libur agak panjang dia suka ke binjai dengan bang in, abang sepupuku yg juga pacarny itu. Menjenguk besan sekaligus jalan2. Dia juga sering ikutan piknik keluarga besar. Badannya kecil, terkesan rapuh dan rentan diganggu, tp dia sdh pernah berbis ria sendiri sampai langsa, bahkan juga sampai jakarta.

Banyak pengalaman yg dibaginya, dari mulai diintip saat ke kamar kecil, nyaris ditinggal bis, kecopetan dan hal2 lain yg tidak menyenangkan. Tapi prinsipnya waktu itu, dunia ini indah jadi dia harus melihat sebanyak mungkin wajah dunia sebelum dia menikah. Aku percaya pada sebagian kata-katanya, tapi menurutku menikah tidak seharusnya menjadi batas dimana kita harus berhenti melakukan apa yg kita senangi. Yah, aku hanya menolak apa yg tidak ingin kupercaya betapapun masuk akalnya. Silahkan menilai.

Tapi yg jelas darisini aku sadar, setidaknya aku harus cari teman. Paling nggak untuk saling menjaga kalau ada apa-apa. Maka mulailah sejak itu aku melancarkan misiku. Memprovokasi tika ditolak mentah-mentah, naik avanza dari solo ke jogja aja dia muntah-muntah.

Di kampusku ada dian yg sama-sama anak binjai. Tapi dia lelaki, berbeda jurusan, teman sebatas kenal tempat saling melempar ledekan. yg ada kalau sama dia bukannya saling menjaga malah aku yg mesti jaga2. *hiyaaattt.. pasang kuda2 Gym
Nama dian pun kucoret dari daftar. Dampaknya, harapanku untuk bisa trip jawa sumatera pelan2 pudar.

Semangat trip itu muncul lagi waktu kutau resa kuliah di jogja. Bersiap melancarkan serangan untuk memprovokasinya menjadi teman seperjalanan. Rasanya sedikit lebih aman karena entah kenapa, kelihatannya dia lebih berpengalaman. Atau Cuma perasaanku saja? Hahaa..
Yang pasti aku selalu iri pada perempuan2 seperti calon kakak iparku itu, seperti mita yg sendirian keliling jawa, seperti resa yg sendirian di belantara zurich sana. Ah yaa.. Dan kak mexi juga.
Bukankah mereka pemberani sekali?

Beberapa minggu lalu. Dalam perjalanan jogja-jakarta untuk rihlah ilmiah. Pembicaraanku dengan bang hilmi mengantar kami pada trip mimpi ini. Ternyata dia juga punya mimpi pengin ke sumatera. Gayung bersambut. Kunyatakan saja mimpi lusuh itu.

Dulu kupikir, bisa selamat menyusuri ujung ke ujung sumatera saja sudah untung. Sudah merasa sangat bersyukur. Tapi bang hilmi, abangku yg paling ganteng sedunia kodok itu, menawarkan untuk singgah di padang. Rute sudah disusun. Kami memilih ambil jalan siang, agar bisa melihat banyak tempat, biar tak cuma gelap. Singgah di jakarta, padang, dan medan. Kemudian ke banda aceh lalu terus ke sabang. Orang yg bisa ditumpangi sudah ada di bayang-bayang. Semoga segalanya di mudahkan. Mulai februari ini udah mesti nabung yang benar! Cheers

Wohoo.. Dan sekarang rasanya anxited. Ini mengutip istilah resa, anxious n excited.
Aku rasa ini dia kekuatan mimpi yg dituliskan. Mimpi yg didengar dan dimudahkan Tuhan. Walaupun rasanya sedikit ngeri juga waktu bang hilmi bilang, "kamu harus siapin fisik sama mental." berusaha tidak terpengaruh dengan kata-kata "siapin sleeping bag buat jaga2." maakk.. Macam naik gunung saja! Gahaha...

Tapi sejauh ini, aku udah mengukur potensiku, aku kuat jalan kaki jauh (walaupun kuyakin berjalan kaki dengan ransel berat di punggung akan beda sensasinya *mengabaikan keyakinan ini*), tahan nggak keramas sampai 4 hari, tahan sehari nggak mandi (asal boleh sikat gigi), tahan asap rokok. Di bandara kemarin aku udah belajar, duduk ditengah serbuan asep rokok dari kanan kiri belakang dan masih bisa bersabar, uhuuiii.. Bisa tahan lapar, tahan panas, tahan... hei, ini mau pulang kampung apa mau wajib militer? Wakwakwak.. Ciplah, pokoknya akan kuusahakan agar tidak terlalu merepotkan!
hei abang, tolong jgn ngeri begitu. xixixi.. hee hee

4 februari, 13.14 wita.
Masih beralas selimut lumba-lumba.
Hari ini bolos masak, mau nulis yang banyak.

1 comment: