March 20, 2011

mesin penenun hujan




"kamu pulang aja duluan, aku mau nonton frau" itu kata yang kulontarkan pada tika ketika dia mengajakku pulang tadi malam.
sebuah alasan utk menutupi motif sebenarnya yg aku tau akan dipandang aneh olehnya. persoalannya hanya sesepele aku ingin jalan kaki pulang sendiri. aku perlu jalan kaki pulang sendiri. sama seperti malam2 lain yg sudah-sudah semenjak aku percaya bahwa jalan kaki bisa jadi semacam refleksi dan relaksasi yg berkemampuan seperti air dlm larutan gula.

aku ingat satu malam ketika aku berjalan berputar-putar sekitaran chow kit. mengira-ngira seperti apa cemasnya neng ana dan teman-teman lainnya ketika mendapati aku tiba-tiba menghilang begitu mereka siap keluar untuk makan. aku cuma tidak mau tika merasa cemas seperti itu. itu kecemasan yg tidak perlu.

bisa jadi kebiasaan ini, kebiasaan berjalan kaki seperti ini, berarti berlari dari pertanyaan-pertanyaan semacam "kamu kenapa?" yg memang aku hindari. pertanyaan yang bisa memiliki 2 jawaban sebaliknya jika ditanyakan di dua waktu berbeda.
pun begitu malam itu,
aku perlu menjauh sebentar agar bisa memberi jawaban "udah nggak kenapa2" dan bukannya "(akan) baik2 aja" untuk pertanyaan yg sama. aku perlu berjalan-jalan sendirian hanya agar aku bisa menggenapkan permohonan maaf yg orang itu lontarkan. aku perlu paham bahwa, seseorang yg pernah begitu hebat di mataku, yg pernah aku banggakan dulu2 itu juga tetap manusia yg tidak berbeda dgn manusia-manusia2 lainnya: selalu punya bakat alami berbuat dzalim terhadap manusia lain. entah sengaja atau tidak sengaja.

aku perlu menerima bahwa sedikit atau banyak, seseorang itu turut berkontribusi dalam kesengsaraan yg harus teman-temanku alami, yg suka atau tidak suka pada faktanya memang menguras hati.
aku perlu duduk di halte bis dekat UKM sambil memandangi plester di pergelangan tangan hanya untuk kemudian sadar bahwa kepada seseorang yg telah memberikannya, aku belum mengucapkan mengucapkan terima kasih.

pun seperti apa yg terjadi malam tadi.
ketika aku di pagar beton plaza duduk sendirian menyaksikan hujan. menggoyang2kan kakiku yg saat itu sedang kesemutan, melayang diatas tanah dan kehilangan kemampuannya untuk menopang, berharap kekuatannya cepat kembali sebelum hujan berhenti dan aku bisa berjalanan pulang kehujanan. sesuatu yg akhirnya tidak jadi kulakukan karena tiba2 disamperin tika, mbak eva dan neng ana dan tertahan oleh mereka sampai hujan berhenti pada akhirnya.

dan sehabis menonton frau malam tadi, aku kembali duduk di beton plaza menunggu hujan agar bisa pulang.
berharap hujan yg deras bisa memenuhkan hati -yg kata bang hilmy- sudah sedemikian terkuras ini.

tapi toh selama itu aku tetap terus menarik pipi, menciptakan senyum untuk diriku sendiri, salah satu cara merapal mantra bahwa aku akan baik-baik saja begitu sampai kosan setelah main hujan, senyuman untuk meredakan cemas tika, untuk mengelus gores yg diciptakan oleh orang yg sama.
saat itu aku tidak sedikitpun takut, tapi fakta bahwa kehilangan kendaliku atas mulut barangkali telah menciptakan semacam gores pembalasan, membuatku merasa menyesal.
makian yg dia lontarkan itu yg membuatku sadar.

aku ingat bagaimana aku pernah juga merasa sangat ingin memakinya saat mendengar rahma dan jeni berkata ingin nangis, di dalam taxi dalam perjalanan kembali sehabis dari asrama UKM untuk penampilan rampo yg tidak jadi. aku ingat sebesar apa muak dan bencinya aku atas orang itu. betapa ingin memakinya meski cuma di dalam hati saja. aku bersyukur keinginan itu memang cuma sampai di batas keinginan tapi tidak untuk dilakukan. setidaknya setelah ini, setelah makian yg dia lontarkan di sebelahku dengan cara seperti malam tadi, aku semakin paham bahwa betapapun kesalnya aku pada seseorang, memaki bukanlah tindakan yg pantas untuk dilakukan. untuk apa? hanya akan semakin merendahkan diri kita.




dan jeritan oscar pada lagu mesin penenun hujan yg dibelai frau di lapangan kampus td malam, yg memerindingkan sekujur badanku di tengah gerimis dan himpitan manusia yg membuatku pekak dgn tepuk tangan, memiliki kemampuan nyaris sama seperti hujan yg sampai saat ini masih begitu aku inginkan.

kepada oscar, kepada frau, terima kasih, untuk membuatku merasa terwakilkan.

ps: pelajaran yg aku dapatkan malam itu, dikritik itu nggak enak tapi mengkritik juga sama nggak enak. kalau ingin mengkritik, tolong karena orang itu memang perlu dikritik. jangan mengkritik karena kita dikritik, karena rasa nggak enak dari kritikan dengan motivasi semacam itu, sama seperti nggak enak keduanya digabungkan jadi satu. dan aku memang perlu belajar menyampaikan kritikan dengan cara yg tidak menyakitkan. membenarkan tanpa menyalahkan, supaya tidak perlu ada makian.

hari minggu di kamar 14 mahendra bayu
setengah jam lewat jam 1.
waktunya mandi, masih berharap hujan turun deras sore ini.

7 comments:

  1. wedew.. kamu mungkin org yg punya bakat dzalim sama org lain, tapi juga pny bakat merangkai kata2 indah hihihiii *ga nyambung

    ReplyDelete
  2. #yanuar catur: tipe yg mana nih? wihiiiww.. :PP
    #kak mila: ahaa.. saya juga ga nyambung ini sama komentarnya. ;p

    ReplyDelete
  3. hahaha... sebelum ngeliat orang lain, becermin saja dulu...

    kirakira begitu bukan pesannya??? hehehe...

    salam kenal yah...

    ReplyDelete
  4. abang: yuhuu..
    irham: hehe.. gitu bukan ya pesannya? mungkin lebih tepat kalo, mau mengkritik orang dasarnya emang mesti kasih sayang. pengen diia berubah. bukan karena dia mengkritik kita, jadinya kita mengkritik dia. kalo kyak gitu niatnya udah kontradiktif, nggak lagi assertif.
    salam kenal kembali :)

    ReplyDelete
  5. aku suka ngebolang setiap lagi gak enak hati. berjalan sendiri, mengitari kota Jogja, window shopping, belanja buku, makan es krim. :)) dan setelah itu, alhamdulillah hatiku bisa plong lagi. \m/

    ReplyDelete