April 3, 2011

*03: my number one man

dia memang bukan laki-laki yang akan membangunkanku sampai kali ketigapuluh untuk sholat subuh macam ayah tika. bukan pula seseorang yang akan sholat dan mengaji di kamarku seperti papi kak ela ketika ia kangen anak perempuannya.
bukan jenis ayah yang akan selalu bertanya "kamu kurang apa?" tapi jelas adalah yang selalu mencukupkan jika kukatakan "papaaa, melyn kurang itu, karena ini, ini dan ini". lelaki yang pernah mengeluarkan nyaris satu juta rupiah dalam semalam di hari terakhir liburanku hanya untuk membayar segela repetan tentang chinese food pinggir jalan, burjo dan angkringan. Juga demi mengurai rasa iri atas ketiadaanku dalam cerita abadi keluarga ketika adik-adikku membangkrutkannya lewat rumah makan padang mahal di suatu malam. satu-satunya orang yang paling bisa kuandalkan di seluruh jagad semesta alam.

laki-laki yang tak peduli seberapapun lelahnya ia sepulang kerja, selalu mengajakku keluar untuk sekedar beli martabak terang bulan atau bahkan hanya berkendara tanpa tujuan.

aku ingat suatu malam ketika pesawat yang akan membawaku ke jogja batal terbang. saat itu, akhirnya papa memutuskan untuk me-refund penuh tiketku. membuatku harus melupakan keinginan untuk bisa ikut merasa terlantar dengan para penumpang lainnya.

dan pada akhirnya kami memang pulang ke rumah. berkendara dari bandara sampai jantung kota. hanya kami berdua, benar2 cuma berdua, tanpa aditya yang biasanya ada. berhenti di rumah makan padang dan mendapati dompet papa ditipu habis2an. 72ribu untuk satu orang sekali makan. benar2 sinting, kan?

dan yang selanjutnya kudengar ialah suaraku sendiri. mendongenginya tentang seperti apa kehidupan di jogja. tentang kuliah, tentang kosan yang sudah kemalingan dua kali, tentang jamur2 di lemari, tentang kakak angkatan yg ngajak tinggal satu kontrakan, tentang apa-apa saja yang biasa kumakan. aku enggak pernah tau apa papa bisa menangkap semua ceritaku. aku juga nggak peduli apa kata2 itu cuma masuk kuping kanan dan kemudian keluar lewat kuping kiri, atau malah masuk kuping kiri dan kemudian mental lagi. tapi satu hal yang pasti, di malam terakhir itu, aku merasa semua alasan kenapa aku ngotot pengen pulang padahal jogja lagi hiruk-pikuknya berhasil kulunaskan.

memang tidak banyak yang tau bahwa diam-diam aku mensyukuri malam itu. momen ketika aku, pada akhirnya bisa melunaskan rindu.

dia.. memang bukan laki-laki yang akan dengan sabar membangunkanku sampai kali ketigapuluh untuk sholat subuh. bukan pula yang ketika sedang kangen, akan sholat dan mengaji di kamarku. tapi yang aku tahu, sekujur kepalanya memutih untuk menyayangiku.

u just the guy that no matter how many more guys i go through
i'll always have a thing for u.

pada gerimis yg lebih besar di kamar 14
mahendra bayu pukul 17:51
tulisan ini, terinspirasi postingan mas nuran disini.

8 comments:

  1. wah melyn tulisanmu bagus sangat^^

    ReplyDelete
  2. senangnya tulisan saya bisa menginspirasi orang lain :)

    ReplyDelete
  3. iya mel... aku suka gaya tulisan kamu sekarang... ^_^ serius... aku jd terinspirasi juga nih gara2 kamu...

    ReplyDelete
  4. menyentuh kalbu banget nih *lap air mata

    ReplyDelete
  5. #kak mila: wowowo.. mungkin karena dari lubuk hati yg paling dalam kak. wkwkkw xp *elap ingus sambil sodorin tisu.
    #uda ferdi: wewewe.. disatronin mahasiswa tingkat akhir. ;p
    hehe.. soal tulisan, iya ya? aku kok lebih suka yg jaman dulu. terkesan tnpa beban. ringan. tapi iya sih, tulisan tiap org kan berevolusi. hehe.. btw, senang rasanya bisa menginspirasi. terima kasih. :)
    #mas nuran: harusnya sekarang senangnya dobel mas. itu uda ferdi terinspirasi juga. haha.. yg kayak begini, kayak efek bola salju ya ternyata :D
    #kak nova: wehee.. bagus dimananya? apanya? biasa aja kok kak iniii.. banyak tulisan2 blogger lain yg bikin iriii.. tulisan kak nova juga, ada ciri khasnya. sukaa :D

    ReplyDelete
  6. what a nice posting mell.. Terharu bgt bcny

    ReplyDelete
  7. mampir k4 blogger sebelah, salam kelan ya mbk xixix

    ReplyDelete