April 23, 2011

cair



pada akhirnya saya memutuskan untuk membebaskan Anda, kakak. semata untuk membebaskan diri saya juga.

saya lelah menunggu Anda siap untuk memanggil saya duduk bersama membicarakan lubang yang menjengahkan itu. saya lelah menunggu permintaan maaf keluar dari mulut Anda hanya untuk pada akhirnya bisa memaafkan dengan tenang apa yang telah Anda dan teman Anda coba lakukan. saya lelah menunggu waktu, sampai Anda siap mendengar saya mempertanyakan, "mengapa dengan cara seperti ini saya diperlakukan?"

Demi perasaan apapun yang pernah kita bagi dalam petak2 ini, tidakkah Anda, sebagai kakak, punya cukup banyak kata-kata bijak untuk menunjuk ketidaksukaan itu selayak kakak memberitahu adik perempuannya? Pun jika ternyata Anda memilih sekasar-kasarnya cara dengan lemparan kata-kata menyakitkan dan orasi jari jemari tangan, saya rasa tidak akan sesakit ini rasanya. Saya yakin Anda wanita cerdas, kenapa pada akhirnya memilih cara yang tidak hanya kasar, tapi juga rendahan?

mengherankan ya, bagaimana bisa semuanya menjadi sekacau ini sekarang. saya pun heran kenapa Anda, kakak saya, bahkan tidak juga memberi penjelasan yang saya nanti-nantikan. bukankah dengan begitu kita jadi bisa saling memperlihatkan luka dan saling paham dengan situasinya? Atau tidakkah Anda bisa memperlakukan saya seperti seorang wanita memperlakukan wanita? tidak perlu identitas saudara yang kita bangga2kan selama ini, toh seorang wanita pun tidak mungkin dengan sengaja merestui sebilah pedang membuat wanita lain mengerang kesakitan. Tapi fakta bahwa Anda, perempuan yang bahkan sedari awal saya daulat sebagai kakak bisa tega-teganya membiarkan, bahkan turut andil mendorong2 saya ke dalam jurang.

yang Anda perlu tau, kakak, saya tidak pernah sekalipun menganggap orang itu sebagai seseorang yang layak.

siang ini, dengan mencoba mengabaikan luka saya melihat dinding Anda dan mendapati fakta bahwa ternyata lubang itu tidak menahan saya dari merasa rindu pada Anda. setidaknya sekarang saya tahu bahwa sesuatu telah terjadi antara Anda dan orang itu. saya turut berduka jika ternyata cerita Anda dan orang itu tidak seperti dongeng yang diimpi2kan oleh semua anak perempuan. i feel sorry, tapi semoga ada hal2 yang dapat Anda pelajari dari situasi tidak mudah yang harus Anda hadapi ini.

Benar, saya memaafkan Anda.
karena kalau ternyata memendam itu menyempitkan jiwa, kenapa kita tidak memaafkan saja?
lagipula saya juga cukup tau bahwa di dalam hati sana, Anda juga sudah cukup menderita. sudah cukup merasa bersalah sampai2 tidak punya keberanian untuk mengucapkan sebaris kata memohon kemaafan seperti yang selayaknya. Sekarang, Anda sudah bebas, kakak. pun saya juga sudah bebas. saya tidak akan lagi menuntut permintaan maaf itu keluar dari mulut anda. Saya tidak akan lagi meminta keberanian jika ternyata memang Anda tidak punya.

Untuk selanjutnya, semoga saya dan Anda dapat berbahagia. Saya sudah memaafkan Anda meski tanpa melupakan luka. saya tidak akan melupakan karena rasa sakit tidak akan menguatkan jika berkhir dengan dilupakan. tapi satu hal yang saya janjikan, kelak setelah ini, saya sudah akan bisa membalas sapaan Anda dengan tidak lagi sebelah mata. Dan Anda pun sudah boleh menyapa saya tanpa merasa berhutang apa2. sampai akhirnya akan ada saat dimana saya bisa melihat Anda sehormat saya ingin dihormati juga.

Sayang, saya tidak bisa menunjukkan luka ini dengan cara yang benar untuk alasan tertentu. dan Anda, sudah terlanjur pergi entah kemana meninggalkan hutang penjelasan yang saya tidak tahu pada siapa harus menagihnya. Tapi sekarang memang tidak ada lagi hutang, tidak lagi ada lubang. Lagipula, Anda tahu? saya sudah lebih 3 bulan menunggu. Anda mengerti seperti apa kebasnya menjadi mati rasa terhadap Anda selama lebih 3 bulan ini? dan jika pada akhirnya saya memilih cara ini, saya harap Anda mengerti.

Terimakasih kembali.
di kamar tempat kita pernah banyak berbagi.
sebelum pergi mandi

No comments:

Post a Comment