June 8, 2011

menggali draft lama

senang rasanya setiap selesai membereskan kamar. lantai sudah lebih cemerlang, kertas-kertas di meja juga sudah dirapikan, seprai juga sekarang minus kericuhan. kamar yang kata mereka lebih luas dari kamar-kamar lainnya ini akhirnya bisa meraung-raung macam bayi singa. paling tidak, mitos "di-kos-mahendra-bayu-kamar-yg-paling-luas-adalah-kamarku" sekarang tidak seberapa lagi meragukan dibanding hari-hari belakangan.

pagi ini aku terbangun dengan perasaan entah apa yang susah dijelaskan. mimpi tadi malam aneh. obrolan semalaman dalam kotak biru yahoo itu aneh. petualangan dari blog ke blog menjelajah tumblr tadi malam juga sama aneh. aku menemukan gambar-gambar cemerlang yang mampu membuatku tercengang-cengang dalam perasaan terwakilkan, aneh menyadari bahwa segenap hati bisa berkesah semaunya tanpa sepatah pun kata yang biasa. membaca sebuah surat tak tersampaikan gabrielle kepada cameronnya yang ditulis dengan sebegitu putus asa ternyata berkemampuan dalam sekejap mengebaskan hati.

dan perasaan-perasaan yang menjejak-jejak sebelum lelap itu rupa-rupanya terlalu kuat sampai-sampai mengikut juga ke dalam mimpi dan sialnya masih menyisa sampai aku bangun pagi ini. aku tidak senang, sekaligus juga merasa senang. tidak mengizinkan perasaan semacam ini tetap tinggal tetapi di satu sisi ingin dia bertahan. pagi ini aneh. berdiri diantara dua cermin memang semestinya terasa aneh. melihat, dalam hal ini merasakan, dua hal yang saling berlawanan tentu rasanya tidak lucu. it's weird, but exist indeed.

ada hal tentang tadi malam yang sedikit aku sesali. memang cuma sedikit.
kenapa aku harus jadi selepas kontrol itu masih jadi pertanyaan besar yang aku belum paham. tapi bukankah untuk bisa menjadi jujur pada hati kita adalah sesuatu yang mestinya mendatangkan kesyukuran? bukankah di buku the alchemist itu dikatakan bahwa tak banyak orang yang masih bisa mendengarkan apa yang dikatakan hatinya. maka bergembiralah! bersyukurlah siapapun yang masih mampu mendengar hatinya bicara.
tapi hilmy juga pernah bilang, betapa kata hati tidak perlu selamanya dituruti karena ada hal bertolak belakang lain yang membuatnya terpisah setipis jaring laba-laba. hal semacam ini membingungkan. sepertinya aku memang perlu membaca lebih banyak buku sebelum akhirnya terlalu memercayai sesuatu.

yang jelas, satu hal yang tidak lagi ambigu. apa yang aku lakukan saat itu cuma bagian dari usaha tidak melakukan hal kurang menyenangkan yang pernah dia lakukan. atau juga untuk membayar perlakuan-perlakuan tidak terduga yang terlampau manis untuk kubayangkan akan dia lakukan. tidak perlu menyebutkannya satu per satu hanya untuk membuat diriku meleleh lagi tapi yang jelas, aku bertahan karena aku paham rasanya ditinggalkan ketika aku menginginkan dia tetap tinggal. aku cuma ingin menjadi kopi dalam kesadarannya menghadapi malam-malam melelahkan yang mau tak mau mesti dilewati . apa memang terlalu salah untuk memberi contoh bagaimana bersikap semanis cokelat?

fakta bahwa sekarang aku gusar adalah bukti bahwa ini bukan sesuatu yang aku inginkan. barangkali memang tidak seharusnya malam itu aku sekeras kepala itu. bisa jadi, tidak seharusnya malam itu aku kehilangan kendali dan membuat keadaan menjadi semenjengahkan ini.
akustik those dancing days are gone, musikalisasi puisi dari karya william butler yeats yang kudengarkan sekali sebelum berangkat tidur semalam bergema-gema di kepala. Persis seperti bau parfumnya yang lengket di hidungku dan belum mau hilang-hilang juga. dan pagi ini jadi semakin aneh saja.

p.s: lagi2 postingan lama. pada akhirnya punya cukup keberanian mempublishnya. Devil

No comments:

Post a Comment