April 18, 2011



rasanya menderita untuk selalu menjadi saksi atas kehancuran hati orang yang kita sayangi. lagi dan lagi. sesak, menyaksikan serpihan-serpihan hatinya terserak dan seperti apa dia terlunta menambal-nambal retak.

saya merasa tidak becus sebagai teman. yang bahkan hanya untuk sekedar rajin menasehati saja merasa begitu kewalahan. merasa begitu capeknya cuma untuk sekedar berkata "berhati-hatilah terhadap kemanisan-kemanisan itu karena selayak permen yang merusak gigi, ia juga merusakkan hati". yang bahkan ketika teman saya butuh uluran tangan, saya malah bisa-bisanya menjadikan dia kaca dan berusaha keras agar kami tidak menyerupa. saya malah egois dengan pergi mencari bantuan sendiri untuk hati saya yang saat itu sedang berada dalam krisis yang sama.
mengambil langkah bersusah payah memasukkan hati saya kedalam lemari kaca agar tidak pecah tapi membiarkan dia memain-mainkan hatinya dalam ayunan2 tanpa perhitungan di ujung gantungan .

dan sekarang, ketika semuanya seperti sudah terlanjur, daya saya juga sudah terlanjur teruap hanya untuk sekedar menabahkannya. speechless. tidak tau mau bilang apa walaupun sebenarnya saya punya banyak kata-kata yang ingin saya muntahkan saat itu juga. yang kemudian kembali tertelan saking tidak tega melihat wujudnya dlm mengobati hati yg berdarah2.

saya cuma bisa berharap hatinya yang babak belur itu sudah bersiap tabah tanpa perlu ada kata-kata yang menyuruhnya tabah. berharap dia dapat bersegera pulih tanpa saya harus memintanya untuk jangan bersedih. berharap dia mengerti bahwa apa yang akan dia dapatkan sgt bergantung pada proses dan ikhtiar, berharap dia dapat belajar tanpa harus mendengar "seharusnya, seharusnya dan seharusnya..", tanpa perlu menceracauinya lagi dengan kata-katanya sendiri untuk tidak lemah menghadapi hati, tentang ini, ini dan itu, tentang hal2 sama yang sudah pernah kami diskusikan pada malam-malam dulu.
ah, saya sungguh tidak tega.

faktanya saya memang segitu tidak berdaya sampai2 cuma punya pelukan untuk dia membuang isakan sementara airmata saya yang juga basah di bahunya dapat mengartikan bahwa dia tidak sendirian. dan barangkali, baru disini daya saya cukup untuk bisa menitipkan pesan buat dia.

living is learning. life is a lesson. slow and steadily revealed. be humbled. be inspired.
be hurt. BE HEALED.
u ever face it before so i swear u'll be fine.

u know i mean it


pukul 0:45
dalam genggam perasaan tidak tega dan tidak rela
entah saya harus melakukan apa

5 comments:

  1. Friendship sometimes brings tears too..

    ReplyDelete
  2. tentu saja. tapi airmata toh tidak selamanya salah. :)

    ReplyDelete
  3. saya kira, mendampinginya juga sudah cukup berarti :)

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete