May 12, 2011

*07: mencintai yang spektakuler

karena mencintaimu adalah mencintai engkau tanpa alasan

seseorang yang baru aku temukan ini bisa jadi merupakan representasi sempurna dari lelaki dalam lagu the man who can't be moved - script yang merupakan salah satu lagu favoritku.

aku baru tahu ada cara mencintai yang seperti ini. mencintai yang seperti ombak. barangkali memang susah dipahami. sama seperti keherananku melihat ombak pantai menganti tempo hari.
bukankah melelahkan? apa tidak bosan?
aku tidak habis pikir bagaimana sesuatu semacam ini bisa bertahan.

dulu, aku sering prihatin melihat seseorang, terlebih lagi laki-laki yang dikutuk stuck pada satu perempuan. rasa2nya gatal kepingin berteriak di telinga mereka, "hey, agam! hidup harus tetap dilanjutkan!"
tapi sekarang, aku melihat mereka yang stuck pada satu perempuan tidak lagi dengan pandangan meremehkan. ajaib, mendapati aku sekarang memandang ketidakmampuan untuk melupakan itu sebagai sesuatu yang sangat berpendirian.

well, bisa jadi ini karena sekarang aku mulai paham bahwa ketika ada seseorang yang menyatakan suka, 'sampai kapan' adalah pertanyaan selanjutnya.
dan menemukan seseorang yang bisa seteguh ini dalam mencintai, yang tetap bertahan dalam sebuah perasaan tanpa peduli meski hatinya remuk disana sini, entah kenapa sepertinya begitu pemberani.

aku ingat percakapan singkat diatas kereta progo antara aku, tika dan kak adhin. waktu itu entah kenapa obrolan kami sampai pada cerita kakak angkatan boi yang pada akhirnya berhenti mengejar maupun menyediakan hati untuk seorang teman sekelasnya yang sudah lama ia sukai. padahal dulu, kakak tingkat boi ini sempat dinominasikan sebagai pejuang cinta tanpa tandingan.

aku ingat komentar tika yang waktu itu ikut kuamini juga. bahwa mengejar perempuan itu seperti terus melempar lumpur pada tembok putih. tidak mungkin bisa merobohkan, dan pengabaiannya memang menyakitkan. tapi lumpur yang terus dilemparkan toh akan ada jejaknya. berbekas. mau tidak mau, suka tidak suka. laki-laki cuma perlu tidak menyerah.

mendengar itu, kak adhin menimpali. "bagaimanapun kita harus melihat impactnya. menguatkan atau malah melemahkan. membahagiakan atau malah menyiksa. membebaskan atau malah membelenggu. kalau ternyata terus mengejar itu melemahkan, membelenggu dan tidak membahagiakan barangkali memang harus disudahi, karena selalu ada batas dimana kita harus berhenti."

saat itu aku sadar, dalam mencintai setiap orang memiliki pilihannya sendiri. ada yang memilih bertahan, lebih banyak yang memilih melepaskan. semua tergantung kapasitas. mana yang kesakitannya lebih dapat kita tahan. melepas? atau tetap tinggal? aku percaya keduanya tidak ada yang mudah.

dan untuk kalian yang memilih setia, yang paling paham apa itu rasanya tertolak, yang pada hatinya telah terdapat banyak retak dan koyak. yang memilih untuk tetap bertahan dan mengejar, mengejar dan bertahan. kalian itu BRAVO ! Sungguh!


kamar 14 mahendra bayu lewat pukul 10
malam ini gerah sekali
berkhianat lagi pada tulisan mandi dua kali sehari


2 comments:

  1. mungkin kesetiaan seperti itu bisa dimiliki, ketika kita sudah bisa berkata "yes, you're the one. no matter what they said"

    ;)

    ReplyDelete