May 14, 2011

*11: ditempa

malam ini aku kembali banyak mengoceh tentang trip sumatera. target sebelum umurku 20 itu. rancangan-rancangan menyinggahi jakarta, lampung, padang hingga sabang.

di keluargaku selama ini, berlaku satu hukum yang sudah sering terbukti.
apa-apa yang telah dipersiapkan dari jauh hari seringkali malah tidak jadi. rancangan-rancangan yang sejak jauh hari dibicarakan seringnya berujung gagal. kejadian rencana trip ke toraja itu cuma contoh sederhana. selalu begitu, terlalu bersemangat merancang, namun mendadak tidak menarik lagi untuk diwujudkan.

ini yang paling banyak aku takutkan dalam merancang. tepat di detik pertama begitu aku menetapkan rencana perjalanan, menyinggahi jakarta, padang hingga sabang dengan abang dalam sebuah bis-lemari-es destinasi jakarta pada suatu malam. saat itu baru beberapa hari lewat pertengahan januari, dan rencana trip kami di awal juli.

setengah tahun! saat itu aku sadar betul bahwa ada banyak hal yang bisa terjadi dalam waktu setengah tahun. masa enam bulan itu singkat, tapi tidak ada jaminan rencana trip ini akan selamat. peluang sukses dan batal itu sama besar. tidak ada jaminan.

jadi, yang akhirnya kuisikan ke kepalaku saat itu ialah bagaimana mempersiapkan dengan serius segala sesuatunya tanpa terlalu banyak memikirkan hasil akhir. menepis kengerian-kengerian yg ditanamkan dengan tidak sengaja oleh bang hilmy, lebih banyak lagi oleh pikiranku sendiri. tentang bis ekonomi, asap rokok, rambut yang lembab karena tdk bisa keramas, tidur di stasiun, sampai bayangan perjalanan panjang menggendong ransel sebesar galon dan dispenser.

jadilah, sejak saat itu aku belajar tahan.
belajar tahan untuk tidak mengeluh tentang asap rokok. belajar tahan menggendong ransel berat. bahkan juga belajar tahan 4 hari tidak keramas (ini sih karena malas :p).

di pikirku waktu itu, yang penting belajar dulu. mempersiapkan semua yg dirasa perlu. soal batal atau jadi, itu perkara nanti. manusia memang jatahnya merencanakan-mempersiapkan, Allah yang memutuskan. lagipula kata orang2, kemenangan itu menyukai persiapan. Victory loves preparations, kalau macam yg di film the mechanic bilang.

dan belakangan aku sadar, bahwa Tuhan juga mengajariku tahan dalam perjalanan-perjalanan yg sebelumnya mana terbayangkan. perjalanan-perjalanan yg tiba-tiba diadakan (dibuat ada) Tuhan hanya agar aku bisa belajar tahan tentang lebih banyak hal. sekaligus lebih banyak belajar sabar.

di atas kereta progo sepulang dari malaysia ba'da fesco, aku belajar tahan berdiri semalaman dari jatinegara sampai stasiun kebumen. melawan kantuk yang mengetuk-ngetuk, mendahulukan teman2 yg lebih butuh duduk. belajar shalat di atas kereta dengan debu sebagai media bersucinya. baru disitu aku tau betapa sebentar2 meliukkan badan demi memberikan ruang hanya agar pedagang asongan muat untuk lewat di koridor kereta yg penuh sesak benar-benar membutuhkan kesabaran yang banyak.

di atas mad joe, bis maju utama yg kami sewa untuk mengantar kami pulang sampai jogja, aku baru tau betapa ketika bis sedang ngetem itu, udara bisa menjadi begitu panas dan lengketnya. seperti sarden di dalam kaleng. keadaan dimana setiap mulut gatal mengutuk-mengamuk.

dalam perjalanan pulang paling miserable itu pula, aku jadi mengerti betapa tidur di lantai mesjid yang keras ketika di luar sedang hujan deras bisa jadi sebegitu nikmat. perasaan tidak ingin bangun yang sama yang kudapati ketika jatuh tertidur di sebuah mushola dalam gang sempit sekitar stasiun manggarai.

juga pengalaman berinteraksi dengan penduduk hingga dihisapi nyamuk saat terdampar di sebuah desa penuh sawah di subang sana.

bahkan belajar lebih banya lagi tentang watak manusia. yg rakus macam pak agus sampai yg baik macam pakcik supir taksi di malaysia. termasuk juga laki-laki ngapak yang menjahiliku di bis raharja, setidaknya membuatku berpikir lagi bahwa tidak semua orang bisa diajak beramah-tamah.

rasanya benar-benar seperti ditempa.
untuk tahan tidak mengeluh dan tahan tetap berdiri di batas sabar. di batas senang. di batas syukur. di dalam batas untuk tidak mengutuk, untuk tidak mengamuk.

di batas merasa cukup.

kamar 14 mahendra bayu pukul 00:21
saatnya mandi, dan memulai tugas panjang hari ini
selamat pagi ! :D

6 comments:

  1. kayaknya ngga cuma dikeluarga mel, dikeluarga kosanku juga gitu kalo direncanakan malah sering batal

    ReplyDelete
  2. pagi melyin....
    wew kok sama ya... aku juga sering gitu. udah jauh - jauh hari di rencanain
    eh taunya gatot. alias gagal total.
    kalo pergi dadakan malah takutnya berantakan. hehehe
    kemarin pas jalan pingin beli novel kek melyin juga. tapi ga jadi. aku lebih tertarik sama serial anak-anak mamak. ada 4 buku tapi yang terbit baru 3.

    ReplyDelete
  3. makanya meningan ga usah di rencanain aja. nge-dadak. kan lbh seru tuh. lbh memacu adrenalin hahaa..

    klo aku pny cita2, di umur 30 -an awal nanti, bakal ambil liburan sebulan & nongkrong di Paris. heheee

    ReplyDelete
  4. #abang: hayuk!
    #kak mila: paris? aku juga punya cita2 soal paris. atau barangkali semua org juga punya?
    #rakun: kalau begitu, ini jadi semacam kutukan yg harus dipatahkan. :)
    #mba dwina: hehe.. apapun itu, novel tere liye mmg bagus2.
    #mba anyin: hohoho.. tp kata org2, victory loves preparation, kak. hhaa.. * ini sih menenangkan diri sendiri ;p

    ReplyDelete