May 17, 2011

*12: malam-malam

bulan malam ini bagus sekali.

aku menyadari keberadaannya kali pertama lewat teriakan rahma ketika kami berjalan pulang selesai latihan. bulat, besar, terang dan sakti. cukup sakti sampai-sampai mampu membuatku bertahan duduk di pinggir lapangan membelakangi gedung sekolah dasar yang seram. menyeruput es teh manis kelewat dinginku yg membuat gigi ngilu.

malam ini dingin, tapi entah kenapa aku kepingin es teh. dingin dan manis, kali ini seleraku memang menyimpang. sama seperti mbak anyin, biasanya aku tidak akan suka pada manis gula yang mengacaukan kelat pada tehku yg miskin rasa. juga tidak suka dingin karena membuat gusiku terasa ditusuk tiba-tiba. tapi sama seperti bulan. es teh manis yang kuseruput itu pun kali ini berbeda. gulanya tidak larut, tidak mengacau, tapi mengendap di dasar, pun masih kasar.

dan ternyata rasanya menyenangkan.
duduk tepat menghadap bulan, dijaili semut hitam besar yang berulangkali naik ke tangan. merasai pahit pada teh yg dingin dan membikin ngilu itu, lalu mengunyah gulakasarnya, kemudian merasakan manis leleh di lidah. teringat seorang teman yg saat ini sedang menuju lapangan kasihan. "bulannya..." ketikku padanya, antara berseru dan terpana.

angin menghembus frontal, meneriakiku untuk segera pulang. persis seperti telepon2 dari rumah semasa sekolah yg menyuruhku cepat pulang karena matahari sudah terbenam. tapi sama seperti masa-masa smp itu, aku pun enggan pulang. bahkan meski rumah yg kutuju sekarang jauhnya cuma beberapa meter di utara dari tempatku saat ini terpana.

melirik jam pada hape yang bergetar mengirim sinyal sms balasan. 19:15, masih boleh bertahan 15 menit lagi, setidak-tidaknya sampai es teh ku habis. dan ternyata yg merasa bulan malam ini bagus tidak cuma aku saja. terpikir mengirimkan sms yg sama pada dewi, pada kak nad, pada.. entahlah, barangkali seisi indonesia. pasti rasanya menyenangkan jika bisa memandang bulan seindah ini bersama-sama meski dari tempat berbeda-beda. bulan sebesar dan sedekat ini, benar2 sakti hingga bisa membuat jarak kehilangan arti.

dan ternyata rasanya memang menyenangkan mendapati kepalaku penuh dengan kekosongan.

dulu ketika sd, di saat-saat bulan kelihatan suram dan tidak sebegini menyilaukan, mata bocahku seringkali menangkapi keberadaan kawah-kawahnya kemudian berimajinasi. bahwa kawah-kawah itu menyerupai muka seorang puteri, dia dikutuk, diasingkan sendirian di bulan mirip pendosa yg dipasung di dalam gudang. kemudian ada kawah yg mirip becak. itu becak terbang, dengan pak tua yg memakai topi jerami seperti yg dipakai petani, dia datang beberapa minggu sekali membawakan makanan untuk puteri.

malam ini, aku memandang bulan yg keemasan dan menyilaukan itu seperti disana ada orang, melambaikan tangan.

selesai ditulis pukul setengah tiga.
mengutuki efek kopi torabika.

1 comment:

  1. kamu kyknya berbakat deh jd penulis, kata2nya bagus bgt pdhal cm ceritain hal sehari2 gitu.

    ReplyDelete