May 28, 2011

*15: kala insomnia

Hari ini aneh kali.

Pagi-pagi aku bangun dalam keadaan demam. Pada akhirnya menyerah dan berusaha menerima bahwa memejamkan mata tidak lantas akan membuatku tertidur sebagaimana mestinya. Waktu itu sudah jam setengah 7 kurang, aku menghabiskan 3 jamku dengan memejam dan membolak-balikkan badan, tapi nyatanya kesadaran itu masih tetap tinggal.

Lalu menghabiskan lima belas menit berikutnya dalam dilema antara masuk kuliah atau membolos saja. Matakuliah penyuntingan teks bisa jadi satu-satunya matakuliah dimana kemalasan samasekali tidak memberikan ruang, tapi demamku pagi itu sedikit-sedikit membuatku sangsi apa mungkin bisa melewati hari itu tanpa akhirnya terjatuh pingsan.

Kemudian yang aku tahu, aku bergerak ke kamar mandi seperti zombi sampai akhirnya tersadar bahwa aku belum sholat subuh pagi ini. Rasanya bodoh sekaligus aneh! Bagaimana bisa aku mendadak amnesia pada ritual yang bahkan dengan ritual bangun tidur sudah menjadi satu paketan.

Pagi itu dingin. Dingin yang lagi-lagi aneh. Bukan dingin yang sejuk atau pun dingin yang membuat malas mandi, tapi dingin yang membuatku merasa semakin sakit. Merasa semakin demam. Begitu pun tetap saja, bolos matakuliah penyuntingan bukan pilihan untuk sesuatu yang ingin kulakukan. Lagipula, aku toh tau bahwa saat itu aku tidak benar-benar sakit. Ada perbedaan yang jelas antara hanya merasa dan benar2 mengalaminya.

Dan akhirnya, aku masuk kelas 1 jam terlambat dari jadwal. 30 menit terlewat dari waktu biasanya kelas dimulai. Kemudian menghabiskan 60 menit dalam kelas itu dengan separuh kesadaran. Kewalahan, tenggelam-terbenam. Lebih sibuk menangani sms-sms yang masuk. Penjelasan2 bu elis tentang distribusi buku dalam dunia penerbitan cuma sepintas-sepintas masuk telinga. Aku duduk di kelas itu belum cukup lama, tapi rasanya sudah kepingin cepat2 pulang ke rumah.

Matakuliah menulis kreatif tadi selesai tidak sampai jam dua. Masuk kelas, isi absen lalu boleh pulang. Di satu sisi rasanya menyebalkan mengingat seperti apa aku tertidur-tidur di bangku cokelat depan mushola menunggu waktu sampai pukul satu. Tapi di satu sisi senang, karena setidaknya tidak perlu menghabiskan waktu satu jam lebih lama sampai akhirnya dibolehkan pulang ke rumah.

Sekarang aku baru pulang dari purnabudaya. Jam setengah 9 tadi anak rapa-i geleng tampil di forum budaya pemuda asean yang ke sembilan. Sampai kamar ini, rasanya semuanya semakin terasa salah. Semakin aneh. Semakin membuat sebal. Webcam yang hilang, cd laptop yg tidak ikut dikirimkan, kamar berantakan, pakaian-pakaian bergelantungan, lapar, serta hal-hal kecil lain yang secara magic berkemampuan ribuan kali lebih mengusik.

Pernah, merasakan tumpukan perasaan yang tidak terdefinisikan? Seperti dihadapkan pada gumpalan benang ruwet dan tidak tahu harus menarik ujung yang mana untuk dapat mengurainya.

melelahkan ya?

ditulis 25 jumadits-tsaani 1432
mahendra bayu pukul 10 menit lewat pukul 2

p.s: setidaknya, hari aneh itu sudah berakhir. dan pagi ini terbangun dengan perasaan lebih baik. selamat datang tanggal 28! ini jadwal kiriman datang. :D

2 comments:

  1. tak ada yang aneh...
    semua berlaku normal...
    hanya saja...
    selalu ada yang tidak kita ketahui..
    selalu ada itu...

    ReplyDelete
  2. sayang sekali ya, km udah menguatkan diri masuk kelas, ternyata dikelaspun tidak belajar maksimal.

    ReplyDelete