May 1, 2011

hari ini

transjogja hari minggu ini enggak meriah macam biasa. hari memang sudah terlalu siang untuk berharap bisa mendapatkan kesenangan dari tatapan bingung bocah-bocah dalam pangkuan ibu mereka yg kusapa diam2 dengan lambaian tangan. tapi kemeriahan itu digantikan dengan berderet-deret kaleng cat serta gerombolan manusia yang melambai-lambaikan kuas di tembok tanah kosong entah apa yang berada tepat di depan shelter transjogja smp lima.

kemeriah-kemeriahan seperti ini selalu menyenangkan, selalu bisa membuat perasaanku ringan dengan cara yang aku sendiri belum paham. jadilah, akhirnya sepanjang jalan shelter-stasiun kereta aku berjalan riang macam kerudung merah yg mau ke rumah neneknya.

aku menandai jalan kecil tanpa trotoar ini sebagai anchor pertama kali aku kenal stasiun kereta ekonomi sehabis mengantar pulang kak iftin dan bang hilmy. iya, petualangan mengobrak-abrik 4musium dalam waktu beberapa jam itu. pertigaan yang kapanpun aku melewatinya selalu membuatku ingat pada perasaan-perasaan penasaran tentang rencana menjelajah solo, kebumen, juga purwokerto. baiklah, aku memang belum cerita. ini salah satu hutang tulisanku diantara sekian banyak hutang-hutang tulisan lainnya.

dan ketika akhirnya sampai di depan stasiun, ini seperti petrichor hujan yang lain lagi. kali ini tentang segerombolan orang dengan koper2, travel bag dan backpack di punggung. kami seusai fesco waktu itu, kucel, lapar, kurang tidur, dan belum mandi. jadi, setelah mendatangi loket tiket kereta api progo jurusan pasar senen tadi siang, aku menghabiskan sisa waktu menuju jam tiga dengan duduk2 di depan teras stasiun kereta. terlalu sayang mengeluarkan 2500 perak untuk karcis peron hanya demi melamun sambil menontoni kereta2 dan para penumpang yg naik-turun gerbong.

akhirnya, setelah lama duduk disana hanya untuk memikirkan jawaban, "sekarang mau apa?" seorang ibu turun dari becak dan menitipkan barang bawaannya yg begitu banyak di depanku dan kemudian tidak smpai 120 detik ketika akhirnya dia kembali dan menggotong barang bawaan itu dengn bersusah payah ke dalam peron. ibu itu menolak keras ketika aku ingin menolong. tapi aku hari ini memang mendadak keras kepala dalam hampir semuanya, jadilah, akhirnya ibu itu hanya bisa berterimakasih tanpa mampu menolak kekeraskepalaanku hari ini. ibu itu cukup tau betapa saat itu anak perempuan dihadapannya ini benar2 keras kepala tapi yang tidak ibu itu ketahui ialah sebenarnya dirinya lebih berjasa. aku yg lebih layak berterima kasih. karena setidaknya, pada akhirnya keberadaanku disana ada gunanya.

jadi akhirnya, setelah berhasil berdamai dengan keadaan aku memeta langkah di trotoar. masih bingung mau kemana. taman pintar sesiang ini seharusnya sudah sepi. lagipula, awal bulan bukan merupakan saat yg tepat dimana godaan buku baru dapat dilawan dengan gampang. barangkali memang lebih baik dihindari.
tapi di tengah jalan ketika sedang memerhatikan seorang nenek yang sedang menyapu halaman. tiga orang bocah laki-laki lewat di depanku dengan memanggul layangan. iya, layangan! terakhir kali aku melihat layangan entah beberapa bulan lalu, ketika ridho, salah satu santri di TPA Az Zahra bermain layangan di lapangan basket dekat kosan. aku teringat adit yang entah kapan dulu pernah merengek minta dibelikan layangan ketika menelponku malam2, dan lagi2 ketika itu aku membuat hutang.

aku mengikuti 3 bocah itu memasuki gang kecil tempat mereka bermain. disana sudah ada seseorang yg badannya lebih besar, mengadu layangannya dengan layangan lain. kemudian aku melihat layangan lawan itu putus, kehilangan nyawa dan diterbangkan angin. aku berteriak menunjuk2 arah layangan yg putus itu, seolah mengomando tiga anak laki-laki yg kuikuti tadi untuk berlari mengejar layangan yg kehilangan darah melayang ke pohon asam. dulu, aku juga begitu, sangat senang mengejar layang-layang meski tak pandai menerbangkan. hahaa..

beberapa saat kemudian, aku lanjut berjalan. berbelok ke kiri. entah itu jalan berakhir kemana dan aku pun tidak berniat bertanya. tidak mau melewati jalan yang sama. hanya malas pulang, masih ingin terus berjalan. yang aku tau, entah dibelokan keberapa di jalan itu, aku menemukan sebuah jalan yg agak mendaki, langsung belok saja, tanpa berpikir meski sekali.
berjalan lurus sampai bertemu pertigaan, kali ini belok ke kanan. merasa senang melihat bayangku sendiiri pada cermin cembung bulat yg tertanam di seberangnya, di kananku ada sekolah: smk muhammadiyah.

sekarang tinggal lurus, kemudian melihat ada pasar berpagar hijau disebelah kanan. disebelahnya ada gang. masuk sana, ragu-ragu, tiba-tiba tersadar bahwa aku sudah berjalan terlalu jauh. berbelok terlalu banyak. baiklah, aku memang tersesat.
tapi ternyata saat itu kepalaku masih sekeras batu. tidak ingin berbalik, tidak mau lewat jalan yg sama. jadi aku tetap berjalan lurus saja. lagipula, panoramanya tidak biasa. melewati jalanan becek dan tempat sampah berbau busuk. truk2 pengangkut gula dan berkarung-karung beras, juga kuli-kuli ramah meski berwajah keras.

ada layangan putus menari-nari di atas sebuah gang yg mau kulewati. menyangkut di dahan sebuah pohon besar, bocah laki-laki keluar dari gang itu, menyapaku ramah diatas sepeda yang di kayuhnya. aku belok saja, masuk ke gang itu, kemudian menemukan sesuatu yang mencengangkan: KALI CODE!

jadi akhirnya disitulah aku, di bagian paling atas tangga. bisa melihat semuanya. di belakangku batu-batu kali hitam bertumpuk-tumpuk. rumpun bambu di sebelah kanan, daun-daunnya bergesekan. ada sebuah bangunan tingkat semacam rumah susun di depan, tepat di seberang sungai. barangkali memang rumah susun. dan diujung sebelah kanan sana, ramai anak-anak lelaki memainkan layangan, di atas jembatan kuning tempat aku sering terpana mengira-ngira apa rasanya hidup di bantaran sungai bawah sana. dan pemandangan paling mengesankan itu ada dekat dibawahku, atap-atap rumah. atap rumah paling dekat di tutupi guguran daun-daun bambu. seorang bapak yg rumahnya tepat dimuka tangga memandangi tivi nya yg menyala.

aku memutuskan duduk. di atas beton yng menyangga tangga batu di sebelahku. bisa melihat semuanya sejelas dan sedekat ini, rasanya tidak mau pulang. kurasa tepat seperti ini perasaan juli dalam film flipped setiap kali berada di atas sycamore tree. angin, gemerisik bambu, anak kecil bermain layangan, gabungan semuanya adalah dua potong kata tentang rasa tenang dan nyaman yg saling berjodohan. seperti lukisan. dan selanjutnya yg aku tau cuma ingin tetap disitu. membantah sinyal langit yg mulai hitam menyuruhku untuk cepat pulang. tapi aku tidak mau pulang. lagipula, juga tidak tau jalan pulang.

aku tetap disitu entah sampai berapa lama. dengan mudah mengabaikan suara-suara dari dalam awan yg mulai bergemuruh ramai. barangkali kugy si penulis dongeng dalam perahu kertas itu juga akan sama denganku. dari sini bahkan dia bisa menyampaikan salam kepada neptunusnya hanya dengan tatapan mata, tanpa perlu kertas dan tinta. kali code yang akan menyampaikannya. dan rosemary kesauly juga. di tempat ini dia pasti akan tergila-gila.
darisana, rasanya kita sudah melihat seisi dunia. rumah2, jemuran, bocah2, burung, sungai, org dewasa, pohon bambu, jembatan, bis, motor, mobil, langit, toko, awan, matahari. rasa2nya kita tidak perlu apapun lagi.

di banjarmasin dulu aku juga punya tempat macam ini. sebuah lorong buntu yang aku sebut pojok kenangan di gedung sekolahku. dulu, kalau sedang kangen aceh dan teman-teman, aku biasa kesana hanya untuk memandangi awan berjam-jam sampai kangenku hilang.

dan akhirnya setelah entah untuk beberapa lama aku berdiam disana. anak laki-laki yg menyapaku tadi kembali, dengan sepeda yg sama dan menyapaku sama ramah. kemudian adzan ashar berkumandang tiba-tiba. seketika itu aku tahu, aku tidak boleh lagi keras kepala.

jadi kemudian aku berdiri dan bersiap membalik-badan, lalu kebingungan. aku belum tau jalan pulang. yang aku tau cuma harus mencapai jembatan kuning kali code tempat banyak bocah menerbangkan layang2 mereka. tapi juga belum tau caranya. akhirnya aku memutuskan ke rumah pak rt dan bertanya disana, ternyata aku cuma harus turun menyusuri rumah-rumah ini dan menemukan tangga yg akan membawaku naik lagi. sekali lagi ini kesempatan bersenang-senang. jadi akhirnya aku turun kebawah dan menyapa bapak2 tanpa baju yng sedari tadi menonton tv nya. berjalan saja mengikuti jalanan kecil yg mirip pematang diantara petakan-petakan sawah, seperti yg senang kulakukan ketika sd.

menyusuri rumah-rumah yg bertumpuk2 di sekitaran kali code seperti masuk ke dalam labirin beton mirip relikui dalam novel harry potter, atau seperti labirin teka-teki untuk algernon, si tikus percobaan dalam novel daniel keyes. hanya saja yg berbeda, labirin beton ini dipenuhi manusia, gelantungan pakaian dan tivi yg menyala. kali code waktu itu hampir penuh. aku mengikuti petak jalan dan tersesat satu kali dalam labirin beton. nyasar di ujung buntu dekat rumah seorang bapak berperut buncit yg tengah menjemur tnpa memakai baju. lagi-lagi malas bertanya, cuma mengikuti naluri saja. berjalan beberapa meter ke belakang dan aku menemukan tangga menuju atas sana.

aku menyusuri jembatan kuning itu dengan perasaan takjup bisa berada dalam ketinggian yg sama dengan merpati yang sedang mengepakkan sayapnya. di trotoar jembatan seberangku ada segerombolan ibu dan anak yang membawa hadiah. salah satu anaknya, yg terkecil melihatku dgn tidak sengaja. aku melambaikan tangan mendadahinya, tidak mau membuang kesempatan. dan kemudian anak itu membalas. haha.. di jogja ini, terlalu mudah menemukan bocah-bocah ramah yang tidak merasa terancam meski diramahi oleh org asing yg tidak mereka kenal, bahkan meski org asing itu adalah kakak-kakak cantik gila anak kecil yg terancam didiagnosis pedofil macam aku.

aku masih melambai2kan tangan dan tersenyum2 riang sambil memerhatikan deretan toko trophy di kanan kiri, ketika akhirnya aku membaca nama jalan di sebuah plang dekat pertigaan: jalan mataram!

hujan masih tertahan gumpalan di awan, aku duduk diatas kursi bis nomer 4ku dengan perasaan ringan.
akhirnya, jalan pulang. aku yang enggak tau utara-selatan akhirnya tau bahwa aku harus menyebrang untuk naik bis yg menuju ugm. the way home!


di kamar 14 pukul 01.16
setelah hujan deras.
teringat tempat sycamore tree tadi,
apakabar kali code pagi buta ini?

p.s: sore nanti ke jakarta, besok pagi smpai sore padahal kuliah dan belum mengerjakan tugas pula. yg paling parah, aku belum packing2 juga.

3 comments:

  1. Kereeeenn.. tulisan yang keren.. kayak lagi baca novel ni aku hahaa

    ReplyDelete
  2. wah ayo semangat kerjain tugas secara ekspress mesti begadang dong lyn hihi resiko mahasiswa itu mah

    ReplyDelete
  3. kak nida: udah kak.. ngerjainnya ngebut di kampus. hohow..

    kak mila: heheh.. liputan kak mila yg kemaren juga kereenn ><

    ReplyDelete