June 8, 2011

un-forget-able

Saya masih ingat malam terakhir saya di KL waktu itu. Malam ketika saya bisa membayangkan dgn sangat terang bagaimana 5 orang teman saya berlari-lari di malam hari dengan kostum tari rampo mereka, lengkap dengan segala make upnya. Menerobos jalanan basah aspal dan tanah di tengah lalu lintas yang macet parah.

Saya juga masih ingat seperti apa nyerinya ketika melihat teman2 saya itu akhirnya sampai di halaman istana budaya dengan peluh yg berserakan. Menyaksikan bagaimana salah satu yg lain sampai memuntahkan isi perutnya ke rerumputan. Mendengar salah satu yg lain lagi meminta air yg tidak dapat kami sediakan.
Hanya empati, satu-satunya yg kami punya yg sayangnya tidak terlalu berguna.

Ah, terlebih saya tidak akan lupa bagaimana nelangsanya kami semua ketika tahu bahwa kami salah tempat. Bagaimana akhirnya salah satu dari kami menangis saking tidak kuat. Juga pada seperti apa salutnya saya terhadap teman-teman lain karena lebih memilih berjalan kaki berkilo-kilo meter lagi untuk sampai ke tempat acara yang benar.
Dipikir saya saat itu, betapa teman-teman saya ini profesional. Mereka memilih turun dari taksi yg terjebak macet parah kemudian berlari-lari nyaris satu kilometer ke istana budaya dengan kostum yang dapat membuat mereka disangka orang gila. *applause salto panjat tebing untuk mereka.

Saya juga ingat saat2 terkatung2 di depan pintu pagar asrama universiti kebangsaan malaysia karena ditahan masuk oleh satpam yg menjaga. Yg kemudian ketika akhirnya dibolehkan masuk malah mendapati fakta dari panitia bahwa kami baru bisa tampil pukul 11 malam.


Saya ingat betul kekecewaan seperti apa yg saya bayangkan ada di setiap hati yg telah terdzolimi dgn sebegini ini. Bagaimana hati saya juga turut pedih ketika mendengar rahma dan jeni berkata ingin nangis sewaktu di taksi dalam perjalanan kembali.
Saya tahu kemarahan macam apa yg menggelegak dalam dada saya ketika itu, yg bahkan membuat saya lupa mengucapkan terima kasih kepada seseorang yg memberikan saya plester untuk menutup luka di pergelangan. Kemarahan yg kemudian membuat saya berkeliling asrama ukm disaat teman2 rampo duduk melingkar di lantai dekat taman hanya untuk menghindari agar mulut saya tidak menyakiti satu hati yang lain lagi.


Yang bahkan setelah itu membuat saya merasa perlu berputar-putar sendirian entah berapa kali di pasar chow kit dekat stasiun monorel dan membuat cemas neng ana serta teman2 rampo lainnya.
Sekarang pun saya masih ingat! Dan bersyukur semua itu sudah lewat.
p.s: menemukan ini diantara tumpukan draft lama. 19 Maret 2011, 10 menit lewat jam 11. Endingnya nggantung ya? belum selesai kayaknya. Enggak apa, daripada di draft engga ada yg baca. :P Lagipula, sedikit2 saya juga ingin berbagi rasa.

1 comment: