June 8, 2011

Wedding Dress


Jang So-Ra merupakan sosok anak kecil tipikal mawar. Cantik menggemaskan namun berduri tajam. Tumbuh dengan hanya dibesarkan oleh seorang ibu yg sibuk bekerja membentuk So-Ra menjadi anak yg mandiri di usia dini, manja tapi dewasa sekaligus juga keras kepala dan tukang membantah.

Seo Go-Eun, ibunya sangat mirip dengan ibu Ji-Suk di Film A Long Visit yg kutonton tempo hari. Barangkali tipikal ibu-ibu korea memang seperti ini. Sangat penyayang dalam tingkatan yg keterlaluan terhadap putri mereka sehingga menyebabkan anak-anaknya tumbuh menyebalkan dan terkesan tidak sopan.

Di sekolahnya, So-Ra tidak memiliki teman, bahkan cenderung bermusuhan dengan seorang anak bernama Gina. Ketidak-akuran mereka berawal ketika Gina meminum tanpa izin air minum So-Ra.

So-Ra merupakan representasi sempurna dari orang-orang yang beranggapan bahwa berbagi sendok ketika makan, berbagi gelas serta mencampurkan makanan dalam satu piring merupakan hal yang jorok dan menjijikan. Langsung saja, ketika air minumnya diminum Gina, So-Ra merampas botol air minumnya dan menyebut Gina pengemis. Gina yang merasa terhina selanjutnya mengambil sikap memusuhi So-Ra.

Sementara itu, Go-Eun yang diam-diam ternyata menderita Kanker Lambung stadium awal mulai lebih banyak meluangkan waktu untuk So-Ra.Ia membelikan apapun yg So-Ra inginkan dan menghabiskan semalaman membuat kimbab untuk bekal piknik So-Ra. Sesuatu yg sejak dulu tidak pernah dilakukannya.

Suatu hari, Gina kembali mencari gara2 dengan So-Ra. Anak itu meminum separuh jatah jus pisang makan siang So-Ra kemudian menyuruh So-Ra menghabiskan sisanya. Tidak tahan dengan itu, So-Ra dengan berani mendatangi tempat duduk Gina dan menumpahkan separuh jus pisang yg Gina sisakan kedalam makanan Gina dan menyuruh anak itu menghabiskannya. Ini adegan yg paling kusuka sekaligus alasan kenapa mnyebut So-Ra bocah tipikal mawar, cerdas dan tahu cara membela diri. Atas kejadian ini, Go-Eun dipanggil ke sekolah.

Ibu Guru memberitahu Go-Eun bahwa S0-Ra tidak memiliki seorang pun teman. Anak itu selalu menyendiri. Selain itu, Go-Eun kemudian tahu bahwa selama ini So-Ra tidak pernah masuk kelas balet. Alasan So-Ra tidak lain karena disitu ada Gina. Mendengar ini, Go-Eun menyuruh So-Ra mengundang teman-temannya ke rumah mereka pada hari ulang tahunnya.

Pada hari ulang tahun So-Ra, tak seorang pun temannya menampakkan muka. Go-Eun kemudian berinisiatif mengajak So-Ra belajar bersepeda. Disana mereka bertengkar kemudian berbaikan. Ketika akhirnya So-Ra berhasil mengendarai sepedanya, Go-Eun yg berlari mengejar di belakang malah jatuh kelelahan. Sesampainya di rumah, So-Ra melihat ibunya meminum banyak obat dan terlihat begitu kesakitan.

So-Ra anak yang cerdas, ia tahu bahwa obat yg banyak, rumah sakit besar serta ibunya yg seringkali tampak meringis kesakitan merupakan bukti2 kuat yg menyatakan bahwa ibunya sakit parah. Kekeras-kepalaannya akhirnya berhasil membuat bibinya memvalidasi hal itu. So-Ra meminta kepada bibinya untuk jgn menyampaikan kepada ibunya bahwa dirinya sudah tahu. Sampai disini, segalanya sudah akan membuat kita terharu.

Paginya, So-Ra bangun dengan kesadaran bahwa segalanya tidak lagi bisa disikapi sama. Dirinya tidak boleh lg bersikap manja. Pagi itu, So-Ra menyisir rambutnya sendiri dan dengan ceria memilih pergi sekolah sendiri sementara ibunya muntah-muntah menahan sakit di kamar mandi.

So-Ra sering menangis diam2 karena tidak tahan melihat ibunya kesakitan, tapi So-Ra harus tetap berpura-pura ceria untuk meyakinkan ibunya bahwa dirinya baik-baik saja, agar ibunya tidak perlu mengkhawatirkan apa2.

Sampai suatu hari, penyakit ibunya tidak bisa lagi diajak berkompromi. Pada akhirnya, Go-Eun kembali jatuh dan benar-benar harus diopname.

Selama ini So-Ra memang anak mandiri yg selalu mampu mengerjakan semuanya sendiri, tapi bagaimanapun Go-Eun sadar, tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar mampu hidup sendirian. Disamping hidup sendiri itu juga menyedihkan. Jadi, ketika So-Ra bertanya tentang hal yg paling diinginkannya, Go-Eun bilang bahwa ia sangat ingin melihat So-Ra bermain dgn teman2nya dan menari balet. Sejak saat itu, hidup So-Ra hanya berputar pada satu arah; permintaan ibunya.

Film ini benar-benar membuatku kehilangan kontrol menahan isakan ketika menontonnya di kali pertama. Melihat anak sekecil So-Ra dan mengingat sebelagu apa ia dulu tiba-tiba menjadi sosok yg mampu mengorbankan sesuatu. Dan akting Kim Hyang Gi, pemeran So-Ra dalam film ini, benar2 menjadi sepotong pisau kecil yg menggoras-gores hati penontonnya. Membuat retakan-retakan kasat mata kemudian meremukkannya sempurna. Tepat di titik akhirnya.

Film ini membuatku teringat lagi pada pikiran yg tiba2 melintas di atas sebuah bis malam.
tidak ada duka bagi orang yang meninggal. yang luka itu mereka yg ditinggalkan.

Ahs! kenapa orang Korea jago sekali bikin film beginian!

No comments:

Post a Comment