July 12, 2011

bad

*gambar dari suatu tempat

hari ini semua orang marah sama aku bi. yah, sebenarnya enggak semua, tapi beberapa orang yang marah itu faktanya sebegitu ada artinya sampai-sampai aku merasa semua orang marah.

sebelumnya aku enggak pernah masalah soal berbuat salah. menurutku, melakukan kesalahan itu fitrah. macam yang aku pernah bilang sama seseorang, dari kesalahan kita belajar tentang berbuat benar. tapi sesuatu yang aku paling enggak bisa tahan ialah perasaan merasa bersalah itu. fakta telah mengecewakan itu.

ini sama sekali berbeda ketika mendapati semua anak rapa-i marah perihal insiden kirim imel kemarin. yang dampaknya bikin yogi mendadak jadi hobi ngebentak dan segala hal dariku jadi seringkali ditanggapi sedingin es batu.

yang ini rasanya berbeda.

yang dulu itu rasanya seperti Anna dalam film My Sister's Keeper yang membuat marah ibunya demi kakaknya. yang biar pun dia tahu yg marah itu ibunya tapi setidak-tidaknya dirinya sendiri mengerti demi siapa dia melakukan ini. setidak-tidaknya dia punya alasan untuk melakukan apa yang dia lakukan, bahkan meskipun itu kesalahan. dan dia menerima itu.

rasaku sekarang lebih mirip Andrea dalam The Devil Wears Prada. perasaan bersalah yang rasanya lebih mirip tamparan dan memberi kesadaran betapa ternyata dia telah menjadi orang yang benar-benar menyebalkan, membuat marah semua orang, pacarnya, teman-temannya.

dan yang paling bodoh, aku bahkan bertindak menyebalkan sampai akhir.

aneh ya bi. ternyata kita bisa lebih menerima kemarahan orang lain ketika mereka salah menilai kita yang bertindak benar ketimbang ketika kita benar-benar bertindak salah.

beberapa hari kemarin rupa-rupanya aku terlalu banyak mengabaikan sampai-sampai ada banyak hal penting yang terlupakan. aku terlalu fokus sama diriku sendiri. terlalu meMAHAkan kesenanganku pribadi.

tapi kamu tau apa yang paling menyedihkan dari semuanya bi?
yang paling sedih itu ialah ketika salah satu orang diantara mereka yang kuabaikan itu menarikku ke parkiran, dan bertanya "kamu kenapa?"
dan rentetan kata-katanya kemudian hanya menenggelamkanku semakin dalam ke perasaan bersalah. sampai-sampai yang sanggup keluar dari mulutku waktu itu cuma kata maaf yang itupun kumuntahkan dengan cengengesan.

kamu tau itu artinya apa, biam?
itu aku yang lagi-lagi mengabaikan orang padahal dia sudah repot-repot mengkhawatirkan.
sama seperti balasan "mabok tempe mendoan" yang kukirimkan kepada seorang teman membalas sms "kamu kenapa toh, mel" nya pagi tadi. yang mengetikan kata maaf saja mesti pakai hehehe macam itu. lihat kan kamu, mana ada orang yang mau memaafkan seseorang yang konsisten menyebalkan sampai akhir macam aku.

hingga akhirnya sebaris kalimat penutup itu sampai juga ke mataku. berdenging di telinga dan tidak mau hilang dari kepala. persis menjadi puzzle terakhir yang menyempurnakan segenap potongan.

sekarang, kepinginnya aku bisa seperti Mr. Bradstone dalam The Chaperone, atau seperti Rebecca "the green scarf" macam di film The Confessions of a Shopaholic yang kutonton barusan. Mereka melakukan kesalahan, merasa bersalah, lalu memperbaikinya dan taraaa.. orang-orang memaafkan mereka berdua.

tapi bagaimana bisa aku berjuang untuk sesuatu yang aku sendiri enggak yakin layak untuk itu.

Jadi sekarang harus bagaimana?
begini saja dan kembali berpura-pura seperti tidak pernah terjadi apa-apa?

menceracau di depan biam
mahendra bayu sepi, malam ini aku cuma punya kamu bi.
lagipula, kurasa memang cuma kamu yang enggak akan marah sama aku di seisi bumi ini.

No comments:

Post a Comment