July 8, 2011

di restoran

Restoran itu namanya portdiablo. Lebih mirip nama perlabuhan dibanding restoran. Tapi di dalam restoran itu memang ada pelabuhan. Dermaganya tepat menghadap pulau.
Di Gazebo restoran itu, ada aku duduk di salah satu meja yang letaknya tepat di tengah, mengunyah roti eropa yang mahal untuk sarapan, di depanku ada laut dan pulau. Seperti lukisan yang hanya bisa dibuat dengan tangan penulis dongeng.

Kemudian seseorang dengan rambut warna matahari pagi datang menarik kursi. Tepat di sebelah, menontonku mengunyah, aku mengabaikannya. Tapi rambut warna matahari paginya dan mata biru elektriknya ternyata mempunyai sihir yang membuatku beralih juga.

"Ada apa?" tanyaku dengan angkuh.

Dia diam, menatapku tajam. Percampuran yang berdampak melenakan menjengahkan.

Kemudian tubuhku sudah menjadi seperti kapas yang dilayangkan angin, bergerak tanpa menginjak. Di luar Gazebo restoran itu, ada bangunan-bangunan mirip rumah korea dan jepang, atau rumah-rumah panggung penduduk di pesisir pantai kalimantan selatan. Dari atapnya menggantung origami bangau warna-warni, persis seperti yang kubuat di kamar ifa bersama lia. Dan tiba-tiba tubuh kapasku bergerak dengan meloncat seperti kerudung merah yang mulai kehilangan akalnya, melayang dan menari dalam dunia tanpa gravitasi.

Ini bukan di bumi.
Yipe!

Aku senang ini bukan di bumi.

Ada sebuah batu landai besar di dekat dermaga, berjejer-jejer dengan batu-batu lainnya. Di salah satu bagian batu besar itu terukir tulisan dengan huruf latin dalam bahasa luar angkasa. Barangkali artinya "dilarang duduk disini", tapi ini ditulis dalam bahasa luar angkasa dan aku tidak paham bahasa luar angkasa jadi anggap saja aku tidak mendapatkan instruksinya.

Lalu aku duduk di atasnya, memeluk kaki karena dingin yang menyergap tiba-tiba.
Tapi ini jenis dingin yang aku gilai, persis dinginnya udara pada malam-malam bulan juni di bumi yang pelan-pelan mulai membuatku kecanduan.

Dan tiba-tiba saja, jas hitam seseorang telah menyampir di pundak. Ingatanku bilang ini jas hitam yang familiar. Mungkin ini jas hitam yang dipakai Kim Joo Won dalam serial Secret Garden, atau yang dipakai Will Smith si pembasmi alien dalam Man in Black. Tapi bukan! Ini jas hitam seseorang yang kutandai di gazebo restoran.

"Udara pantai pagi hari di musim kemarau memang selalu sedingin ini," kata pemilik rambut matahari pagi itu.

Aku mendongak menatap sosoknya yang berdiri di sebelahku. Sebisa mungkin menampilkan ekspresi angkuh dan merasa terganggu.

"Kamu tidak seharusnya memakai baju semacam itu," katanya padaku.

Aku melongok apa yang kupakai. Baju mirip pakaian olahraga papa berwarna hijau terang dan celana tidur garis-garis orange. Mati saja! cuma jemaah himono-onna yang memakai fashion macam ini.

"Kamu mau ke pulau itu?" katanya lagi tiba-tiba sudah duduk di atas batu, menghentikan kutukan-kutukan atas baju yang meng-arus dikepalaku.

Pulau itu besar dan ideal, bagian puncaknya tepat di tengah, kanan-kirinya daerah landai, dengan pohon-pohon hijau serta rumah dan tanah warna tembaga. Untuk sejenak, batu besar berukir huruf latin dgn bahasa luar angkasa ini menjelma menjadi seperti sycamore tree bagi july.

"Percaya atau tidak, kita bisa kesana dengan hanya berenang saja."

Pemberitahuan sarat godaan itu masuk telingaku tanpa pengaruh. Aku mereaksinya dengan gelengan kuat bersama senyuman yang terlihat sama manisnya dengan senyum Gil Ra Im yang mempesona.

Dari ujung mata aku melihat si rambut matahari pagi menoleh dengan rasa tidak percaya yang menguar terang dari mata biru elektriknya. Kecewa karena ekspektasinya tidak tersentuh.

"Sesuatu semacam ini barangkali cuma bisa indah kalau dilihat dari jauh," kataku mengawang.
"Sama kayak bulan, dilihat dari jauh kelihatan memukau. Aku bisa percaya cerita apa aja tentang kehidupan disana. bahkan aku bisa bikin ceritaku sendiri. tapi setelah bulan itu kita datangi, di bulan cuma ada lubang."

Aku menceracau, pemilik rambut matahari pagi itu diam.

"Tapi sekarang kamu di bulan," katanya pelan.


22 hari menjelang ramadhan
sebelum cari sarapan

1 comment:

  1. (Lanjutan) tiba-tiba aku ingin kembali ke Bumi karena tahu di Bulan tidak ada Rumah Makan Padang. Hahahaha... Peace, Mel...
    Ceritanya keren, deskripsinya itu lho... Mantap!

    ReplyDelete