July 11, 2011

dini hari dengan perut yang terasa nyeri

dan ternyata aku belum lupa.
tidak pernah benar-benar lupa.

aku baru sadar ini di jalan tadi pagi.

faktanya, setiap jejakan langkahku menuju tempat itu selalu membuatku ingat kembali. entah sejak kapan jalanan menjadi anchornya, tapi yang jelas aku selalu kembali ingat. seperti setiap rumah itu ternyata lampu merah dan bahkan angin yang sejuk tadi pagi malah terdengar seperti meneriaki "Bodoh kali! masih mau kau datang ke tempat itu lagi".

Aku tahu ini fakta karena pada akhirnya aku memilih jalan memutar hanya agar lebih lama sampai. Bahwa ternyata sekuat apapun aku berusaha melupakan, kejadian itu tidak pernah benar-benar hilang. Bahwa ternyata aku tidak pernah benar-benar "sudah memaafkan". Bahwa ternyata pernyataan "enggak apa, mel! ini bukan salah mereka" tidak pernah benar-benar membikin lega. Bahwa ternyata malam-malam panjang tanpa tidur yang benar itu belum juga aku lepaskan dengan rela, tidak pernah hilang dengan berganti barakah.

Siapa sangka betapa ternyata rasa enggan itu sebegitu kuatnya.
Dan bukankah ini juga tanda bahwa sebetulnya aku sebegitu pengecut, kan?
jejak-jejak yang lebih panjang sekaligus memutar itu lebih seperti kompensasi karena tidak bisa lari lagi. betul-betul pengecut tingkat tinggi.

Salah siapa kalau ternyata aku tidak berani bilang? Kalau faktanya keadaan tidak nyaman ini terus berkelanjutan? Oh, bukan! situasinya sekarang bahkan cuma aku yang merasa tidak nyaman. Yang lain biasa-biasa saja, bahagia-bahagia saja, bahkan hampir tidak merasa. Yap! karena aku tidak bilang apa-apa. dengan alasan apa?

belum waktunya. enggak tepat momennya. lihat, mereka semua baik-baik aja kenapa aku mesti mempermasalahkannya?. enggak apa, bisa ditahan, lama-lama juga terlupakan.

Faktanya kalau aku benar-benar mampu menahan, postingan ini tidak mungkin ada, kan?

Oh, melyn! Kenapa kamu pengecut sekali?

ps: Abaikan saja! cuma sedang benar-benar kesal pada diri sendiri yang pengecut ini!
Aku heran kemana larinya Melyn yg pemberani. Melyn yang dulu memutuskan mengirim email untuk menyatakan dia tidak suka dan dengan hebat menerima kesemua konsekuensinya.

bukannya yang sekarang menerima saja semua kemarahan orang-orang karena terlalu pengecut untuk sebuah penjelasan maupun pengakuan.

baiklah mel, lanjutkan saja! biarkan, dan abaikan.
begini ini sudah membuatmu merasa cukup, kan?

menuju tengah malam di mahendra bayu
menjelaskan, mel, kalau begini ini malah kamu yang dzalim sama dirimu.

2 comments:

  1. Hadapi apa yang ada di depanmu, sehingga kau pun tahu seberapa hebat dirimu... seberapa jauh pengalaman yang kau dapati...apa yang ada di depan itu adalah takaran hidup

    ReplyDelete