July 26, 2011

Sebenarnya aku enggak mau nangis bi, aku enggak pernah mau tertangkap menangis oleh laki-laki itu. Tapi kamu tau, laki-laki itu, adalah satu-satunya titik dimana aku bisa menjadi yang paling lemah. Menjadi yang paling gampang mengeluarkan air mata bahkan untuk sebuah alasan yang begitu bukan apa-apa.

Terlebih lagi, aku paling benci pada apa yang seperti biasa dilakukannya ketika dia sudah mengacau seperti ini. Aku paling benci melihat dia pusing dan pontang-panting membersihkan kerusuhan-kerusuhan yang diakibatkan oleh tangannya sendiri. Aku paling benci melihat dia mengupayakan segala usaha yang bagaimana pun juga tidak menunjukkan apa-apa selain fakta bahwa dia menyesal dengan sungguh-sungguh.

Karena itu selalu berhasil membuatku merasa bersalah setelah marah. Setelah berteriak menyalahkannya serupa itu. Seperti tadi itu.

Ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan Mr. Bradstone kepada Sally. Meminta maaf yang seperti ini, aku enggak terbiasa bi, ini terlalu manis, terlalu romantis. Telalu luar biasa untuk dapat diterima olehku terlebih dari dia yang kupandang seperti itu.

Tapi barangkali kami memang ditakdirkan untuk menjadi seperti ini. Aku yang begitu gampang dibuatnya menangis serta dia yang paling enggak bisa liat aku nangis. Takdir sama yang mengikat aku yang paling tidak bisa dijanjikan dengan dia yang paling payah dalam menjanjikan.

Seharusnya ini kombinasi tepat jika ingin menghancurkan berbagai hal dengan cepat. Tapi dia memang seperti gabungan racun dengan obat, mematikan, tapi juga memberi kesembuhan.
Jadi aku bisa apa?
Aku yang tidak suka dia sekaligus juga mengidolakannya. Yang sebegitu memujanya karena seumur hidupku memang cuma dia super hero yang kukenal dan benar-benar nyata. Yang bahkan eksistensiku bisa tercipta lewat eksistensinya yang telah lebih dulu ada. Yang ternyata tidak peduli seberapa pun kecewanya, kesalnya, marahnya, bahkan bencinya aku pada apa yang dia lakukan tidak akan pernah bisa membuatku benci dia sebagai personal.

Terlebih-lebih, karena aku entah kenapa belum juga bisa untuk berterima kasih, atau meminta maaf di hadapannya, dengan selayaknya. Bahkan untuk menceritakan aku memuja dia seribu kali lebih dahsyat dari apa yang bisa ia kira.

Jadi,
apa boleh aku meminta maaf dan berterima kasih lewat kamu saja, bi?
Kepada laki-laki yang mengubur ari-ari ku itu. Yang berkewajiban mengumandangkan adzan di gerbang telingaku begitu aku keluar dari gerbang rahim ibuku. Yang dengan mulutnya lah ketika flu aku bisa membuang ingus karena masih terlalu bayi untuk mengerti bagaimana cara paling benar untuk membuang ingus. Yang bahkan mungkin panggilan kepadanya lah morfem pertama yang paling pertama kali aku kuasai; papa.

hari selasa nyaris jam dua
melarikan jari di keyboard kamu, bi
somehow selalu bikin segalanya terlihat lebih jernih
terimakasih ya
jangan lupa sampaikan maaf dan terimakasihku pada laki-laki itu juga

No comments:

Post a Comment