July 25, 2011

tiket

sekarang aku baru paham kesenangan macam apa yg didapat kak nadia dari mengumpulkan tiket yang banyaknya sudah nyaris 2 album itu. sampai-sampai dia rela membuang 10 ribu hanya untuk tiket pura wisata tanpa masuk ke dalamnya. benar, sampai-sampai punya ide gila naik kereta tanpa tiket dan rela membayar berkali lipat hanya demi memiliki tiket suplisi.

barangkali, kesenangan bagi kak nadia adalah jika bisa memiliki semua tiket yang pernah ada di dunia. tiket kereta, tiket pesawat, tiket bis, tiket musium-musium, bahkan tiket masuk MRT yang bentuknya berupa kartu mirip tiket untuk naik transjogja.

padaku, tiket-tiket memberi kesenangan yang sama dengan cara berbeda.

aku mengumpulkan tiket sesuai urutan kapan aku mendapatkan. dan setiap kali aku melihat tiket-tiket yang terpajang itu, mereka selalu bercerita, membuatku ingat pada banyak peristiwa.

karcis peron masuk stasiun lempuyangan ada di urutan pertama. aku mendapatkan ini ketika pertama kali kesana bersama mba iftin dan bang hilmy. kunjungan pertama yang selanjutnya membuat aku jatuh cinta pada stasiun. yang selanjutnya membuatku keranjingan mendatangi lempuyangan hanya untuk duduk2 di luar sambil mendengarkan bunyi-bunyian khas dari dalam.

dan kesemuanya memang punya cerita. tiket air asia ke kuala lumpur dari yogyakarta yang bersebelahan dengan tiket suplisi kereta ekonomi membuat aku ingat tentang perjalanan aneh itu. aku bisa membaui lagi kegembiraan kami ketika akan ke malaysia dulu dan bagaimana kemudian kami pulang sebagai penumpang progo ilegal selama separuh perjalanan. tertidur-tidur di koridor kereta, di langkahi orang-orang lalu lalang yang menjual segala macam barang.

di halaman sebaliknya ada tiket kereta progo yang asli, yang bukan suplisi. pertama kali aku ke lempuyangan dengan satu tujuan maha mulia dan bukan untuk sekedar duduk2 saja; membeli tiket kereta :D

melihat deretan huruf dan angka pada bagian nomor tempat duduknya bagiku sama seperti melihat aku, kak fahmi, kak adhin, dan tika yang melakukan perjalanan ke jakarta suatu kali. duduk berhadapan-berdampingan sembari bernyanyi-nyanyi, diganggu banci, makan pecel tabur mahkota bunga yang memberikan sensasi rasa luarbiasa. jangan ditanya betapa tidak enaknya xP

dan karcis masuk mangkunegaran waktu di solo itu, bersebelahan dengan tiket masuk musium karaton yang seharga sepuluh ribu. tiket masuk musium paling mahal kalau mau kubilang. tidak sebanding dengan apa yang dijual. tapi yang jelas, setiap kali melihat itu aku jadi ingat dengan mas aji, guide kami. juga jadi ingat pada kami yang duduk-duduk di keraton surakarta waktu itu, pada aku yang membenamkan kaki ke dalam pasir yang terasa sejuk dan nyaman sekali. Berusaha keras membuat piramida, ditontoni asti dan kak nadia.

2 tiket prameks pulang-pergi, tiket masuk vredeburg, musium kereta, taman sari, tiket logawa, bahkan karcis retribusi masuk terminal giwangan yang cuma seharga dua keping receh 100an.

semua tiket itu bercerita, lebih dari gambar-gambar yang ditangkap kamera.

aku menghitung lagi tiket-tiketku dalam album bergambar kupu-kupu bersayap ungu, semua ada dua puluh.

pukul 21:22 satu hari jelang trip sumatera
saatnya menyelesaikan urusan dengan baju-baju rendaman =D

1 comment:

  1. salam kenal melin..

    senang membaca "muntahan2" mu itu..

    hehe

    ReplyDelete