September 30, 2011

Entah dari siapa pertama kali aku mendengar ini, bahwa retak yang diakibatkan oleh orang-orang yang kita sayang bisa beberapa kali lebih menyakitkan.

Kenapa?

Tidak tahu! Tahu-tahu rasanya memang sudah seperti itu.
Misalnya saja seperti menerima alasan-alasan seorang adik perempuan yang menolak ajakan kita untuk pergi ke suatu tempat. Katakan saja misalnya, salah satu alasannya, sakit pinggang. Awalnya tidak ada masalah. Kita menerima, dan pergi sendiri setelah berdoa semoga sakit pinggangnya cepat sembuh. Tidak ada masalah meski sebenarnya, di hati kita, ada gores tipis disana. Setuju atau tidak, aku percaya bahwa sesedikit apapun, penolakan pasti membuat bekas. Sementara hidup adalah tempat dimana meng'iya'kan dan men'tidak'kan saling berpacu, beradu, menggores, mengompres. Dan setuju atau tidak, dalam hidup kita memang tetap harus menolak, juga terkadang kita harus tetap menerima.

Tapi retak sebenarnya ialah ketika kemudian kita menemukan sebuah foto yang diambil disaat bersamaan dengan ajakan kita untuk pergi ke suatu tempat. Dan seorang adik perempuan itu ada disana, yang katanya sakit pinggang dan ingin di rumah saja, ia ada disana. Begitu saja ada di sana.

Apa rasanya?
Sudah pasti patah hati. Tanpa kata-kata, tanpa wajah, tanpa maaf, cuma lewat selembar foto.

Saat ini rasanya juga seperti itu.
Patah hati seperti itu. 
Dan karena kali ini lagi-lagi karena kamu.

Untuk pertama kalinya, aku akan memilih merasakan saja, tanpa ingin mencari-cari sebabnya.

No comments:

Post a Comment