September 18, 2011

Pulang Kembali

Akhirnya sekarang tinggal aku dan malam. Disini, sekarang, dalam kamar nomor 14ku yang nyaman. Dalam rasa segar dan wangi apel yang melengketi kulit seusai mandi. Baru saja mengakhiri aksi searching sana-sini mengutipi beberapa hal tentang istilah stilistika, yang dipesankan Ibu Zulfa tempo hari.

Senang rasanya bisa berkesempatan mengobrol lagi dengan Biam, melarikan jari-jemari di keyboardnya, bercerita.

Seminggu pertama aku di Jogja, sepertinya belum cukup luang untuk mempersiapkan berbagai hal. Maksutku tentu saja, berbagai hal menyangkut perkuliahan. Kepinginnya aku belajar ngulang-ngulang apa gitu yang udah kupelajari di semester 4 dulu, tapi mau gimana, kesempatan bersenang-senang dengan anak-anak kosan terlampau menggiurkan. Mana bisa kutolak?

Bahkan menit pertama begitu aku sampai kamar, aku sudah lari kelayapan ikut gerombolan Lia, Ifa, dan Riska berburu tempat makan manapun yang buka disaat banyak tempat makan lain yang masih tutup pasca hari raya. Sepulang makan, mataku menangkap Dame yang akan pergi ke studio1, mengembalikan kaset film yg ia pinjam. Padalah saat itu sudah sekitar pukul 10 malam, tapi senang luar biasa karena akhirnya sampai di jogja ternyata memberikan energi lebih yang mau tidak mau memang harus dilepaskan.

Senang rasanya tidak harus terjebak lagi dalam dapur nenek dan merasakan dingin yang menggerahkan serta mulut yang gatal kepingin menjelaskan.

Dan hari-hari selanjutnya di Jogja kulewatkan dengan bergembira bersama keluarga-keluargaku yang lain, mereka yang terhubung tanpa ikatan darah sepercik pun. Menonton film setan sehari 3kali sama Bamby, Mita, dan Azka, duduk berjejer-jejer di atas kasur sepanjang 153 sentimeter lebih dua setengah jengkal dengan lampu kamar yg sengaja dimatikan, ketakutan, jejeritan, masing-masing memeluk bantal =D

Ini moment langka yang hanya bisa dilakukan pada saat libur kuliah. Sebelum semuanya pada sibuk dan jadi macam selebritis yang baru bisa ditemui hanya jika sudah membuat janji, dengan jadwal-jadwal kelas yang saling bertabrakan juga serangkaian agenda dan rapat-rapat yang dengan sendirinya mencuri waktu seperti penjahat.

Lalu minggu-minggu berikutnya menjadi persis seperti apa yang kubayangkan. Berangkat kuliah jam 7 pagi setiap hari Senin, Selasa, Kamis dan Jum'at, duduk di barisan paling depan dengan motivasi antara kepingin paham dan agar tidak ketiduran, sungkem-sungkem lebaran sama temen-temen, berantem sama Hanif, ketawa-ketiwi sama Tika, kesal sama Doni, rapat-rapat, kumpul-kumpul di BangCok sambil ngeliatin makhluk-makhluk kampus yang lewat, termasuk bule-bule angkatan baru yang kelihatan masih pada cupu, latihan nari intensif sama Jeni, Nike, Noura, Dian, Haroh, mba Isti, Rohman, neng Ana dan mba Eva sambil haha-hihi becandain Yogi yang salah-salah nyanyiinya, pulang hampir jam setengah 8 malam, kardioan, mandi lantas mematikan lampu kamar untuk mengulang rutinitas sama esok harinya.

Tapi yang seperti ini, rutinitas yang macam begini, entah kenapa lebih terasa seperti cara hidup yang normal :)

*melanjutkan tulisan entah kapan yang tidak selesai karena ketiduran

3 comments:

  1. jadi inget masa2 muda akuuuu huhuhuu...

    ReplyDelete
  2. *kak mila: masa muda ngapain aja kak? xP
    *mas aziz: normal itu relatif mas, :p

    ReplyDelete