September 6, 2011

SAYA MAU PULANG!

Ini yang seharusnya saya teriakan kepada papa atas pertanyaannya ketika mendapati saya menangis di kamar tempo hari.

Bagi saya sekarang, tempat ini bukan lagi rumah. Bukan lagi tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu yang cocoknya disebut liburan. Tempat ini sudah asing! Sudah menjadi dingin! Sudah tidak cocok lagi disebut kampung halaman.

Keluarga menurut saya selalu berarti mereka yang peduli. Mereka yang tidak pernah takut dikatakan ikut campur jika memang merasa yakin perlu ikut campur. Mereka yang selalu bertanya tanpa prasangka, mendengarkan kemudian percaya. Lantas menerima, Apapun yang terjadi!

Tapi barangkali ekspektasi & definisi saya terhadap keluarga ini yang terlalu tinggi.

Terus terang saya tidak akan peduli jika mereka bukan keluarga saya. Jika bukan sekumpulan orang yang jelas-jelas saya terikat darah dengan mereka.

Saya paham betapa justifikasi dalam rancah sosial merupakan sesuatu yang wajar. Saya juga enggak menyalahkan mereka dari awal atas justifikasi-justifikasi itu. Bagi saya, kata orang merupakan sesuatu yang layak didengarkan tapi tidak perlu dijadikan beban pikiran. Sesuatu yang bisa dijadikan pertimbangan tetapi bukan dasar utama dalam pengambilan keputusan. Sebab orang-orang hanya sekedar melihat dan menilai, dan semua orang -tidak peduli siapa pun itu, baik saya, mereka, maupun kamu- sedikit atau banyak, positif atau negatif, pasti menilai orang lain. Sebab sedikit atau banyak, percaya atau tidak, diri kita sendiri yang memicu terciptanya serangkaian judgements.

Tetapi apa yang dilihat itu memang selamanya belum tentu merupakan apa yang sebenarnya, seluruh penilaian-penilaian itu barangkali cuma ada di kepala, hanya cocok menetap di sana sebagai prasangka, tapi tidak benar-benar terealisasi di dunia nyata. Dan menurut saya, ini yang paling harus diingat dari metode justifikasi di belahan bumi mana pun.

Sedangkan yang paling membuat sakit dari  menjadi seseorang yang dinilai adalah ketika justifikasi itu sudah mengakar dan dianggap sebagai sesuatu yang benar. Ketika apa yang awalnya hanya ada di kepala sudah dipercaya sebagai apa yang terjadi sebenarnya. Sampai-sampai tabayun yang seharusnya dilakukan malah dianggap sebagai jalan menciptakan kebohongan yang lebih panjang, dan jawaban-jawaban yang dilontar bahkan atas nama Tuhan tidak menjadi lebih dipercaya dibanding omong kosong yang sudah terlanjur diimani.

Dan justifikasi macam ini membuat saya merasa tempat ini tidak seperti rumah lagi.
Sudah asing! Sudah menjadi dingin!
Tapi toh saya selalu punya Dia dengan justifikasiNya yang Maha Adil.

akhirnya memuntahkannya juga,
saya cuma engga mau pikiran ini terbawa-bawa sampai ke jogja

1 comment:

  1. Wah wah, ada masalah apa sih, sampe segitunya... *shock*

    ReplyDelete