September 6, 2011

surat fiksi #1

Hei kamu! Sayangku! Sedang apa?
Seperti biasa aku tidak suka menutup blog dengan postingan menyedihkan terhampar menjadi yang pertama di page awal. Aku lebih suka menutupnya dengan menulisi tentang kamu, menyurati kamu, meski aku tahu kamu enggak tahu. Tapi kamu memang merupakan bahan menyenangkan untuk ditulis. Sesuatu yang membuat pikiran-pikiran yang membuat sedih itu jadi terasa tidak pernah eksis. Dan surat ini kuyakin suatu saat akan dapat kamu baca juga.

Jadi mumpung aku sedang ingat, kutulisi kamu sebuah surat saja. Ini yang pertama.
Kamu sedang apa? Sampai saat ini takdir sudah membawamu sejauh mana? Sudah semakin dekat kepadaku kah? Atau masih beribu-ribu kilometer jauhnya?

Tenang saja, tidak perlu merasa harus terburu-buru mendatangiku. Saat ini masih terlalu pagi, 21 tahun toh masih lebih setahun lagi. Justru kalau kamu datang sekarang, mungkin saja akibatnya bisa fatal.


Jadi kamu...baik-baik ya, disana. Di manapun kamu berada. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja, bagaimana pun kesehatanmu harus dijaga. Sebenarnya ada yang mau aku sampaikan, tapi kurasa sekarang belum saatnya. Lebih baik nanti saja, kalau kamu sudah sedikit lebih nyata. Aku janji nanti akan kutulisi kamu sebuah surat lagi, kalau kamu sudah tidak lagi terlalu fiksi.

Ah, dan Sayang... jangan lupa banyak minum air putih. :)

p.s: Sstt.... aku menulis ini sebagai bukti bahwa kamu memang pernah melintas di pikiranku. Kamu yang aku enggak tahu ada di mana itu, yang enggak aku tahu siapa namanya itu. Kalau sudah begini kamu tidak akan bisa membantah kan? Bahwa kamu memang pernah aku pikirkan.

hari yang panas di bulan sembilan
sekitar pukul setengah 2 siang.

3 comments:

  1. surat untuk kekasih di masa depan? hihi :D

    ReplyDelete
  2. *dhanist: ehem, ciutt ciuutt..
    *faye: eheheh.. lagi kepingin aja teh. (kepingin nulis surat maksutnya. ;p)

    ReplyDelete