September 6, 2011

Telepati

Di dunia ini ada 2 hal yang membuat saya percaya bahwa telepati itu ada, salah satunya papa.

2 tahun saya tinggal di Jogja, orangtua saya bukan tipe orang yang setiap malam menelpon untuk memastikan anaknya selamat dan masih hidup melewati hari di daerah rantau. Juga bukan tipe yang akan dengan antusias mendengarkan hal-hal apa saja yang dilakukan anaknya yang tinggal di lain pulau. Entah sudah kepalang percaya anaknya memiliki kemampuan beradaptasi dan bertahan yang tinggi atau memang tidak peduli. Tapi yang jelas saya sudah bertahan 2 tahun dibiarkan tinggal di tempat yang tidak dapat orangtua saya bayangkan.

Seperti juga banyak hal di dunia ini, hal sepele -namun ada kalanya memicu sisi emosional saya- ini juga punya sisi positif dan negatif.

Kabar baik adalah saya yang tidak perlu merasakan omelan-omelan tentang koper yang dijadikan rak buku ataupun kamar anak perempuan yang tidak punya cermin maupun sisir. Juga tidak perlu susah payah menjelaskan letak-letak tempat seperti Swalayan Gading Mas maupun tempat makan-tempat makan langganan ketika sampai pertanyaan "sedang dimana?"

Enggak enaknya.., yah.. saya anggap saja Anda-Anda sudah bisa membayangkan seperti apa rasa sengsara 2 tahun berkuliah sekalipun tidak pernah dikunjungi orangtua.

Tapi hal itu tidak pernah menjadi masalah sampai saat ini, karena seringkali, kapan pun saya merasa kangen, tanpa minta ditelpon, papa akan tahu bahwa anaknya sedang kangen. Kapan pun saya butuh sesuatu dan harus bicara untuk itu, papa akan selalu tahu tanpa ada yang memberi tahu, tiba-tiba saja, hanya butuh beberapa waktu, panggilan papa akan menari-nari di layar handphone minta diladeni.

Papa selalu tahu kalau memang terjadi sesuatu.

Pernah suatu kali, saya pergi main ke menganti tanpa izin, saking sudah bertahun enggak lihat pantai, saya nekad pergi tanpa bilang-bilang. Menganti itu salah satu pantai di luar kota, di Kebumen tepatnya, sekitar 3jam naik bis dari Jogja, atau bisa 5jam kalau pakai bis Rahardja xP

Pikir saya waktu itu, enggak mungkin ditelpon karena sehari sebelumnya udah ditelpon. Tapi ternyata prediksi saya melenceng jauh. Saya lupa kalau di muka bumi ini eksis yang namanya telepati. Akibatnya, saya ditelpon dan sukses gelagapan ditanyai macem-macem.

Hari ini, saya baru saja berada pada kepingin maksimal balik ke kosan. Kesumat rasa yang cuma saya simpan dan tidak saya utarakan. Saya tidak tega melihat harga tiket yang menukik naik setengah harga dari yang 3hari kemarin saya lihat. Saya tidak bisa merengek-rengek minta pulang dan membuat papa menyesal sebesar rasa kesal saya. "Kenapa tidak jadi pesan tiket waktu itu?"
Dan siang ini, papa pulang dengan sebaris kata yang bikin saya kepingin jungkir-balik saking senangnya sementara mama merepet-repet soal selisih harga yang sampai 1juta.

Tiket sudah dipesan.
Saya pulang besok rabu jam 12 siang.

sekarang saatnya menyelesaikan hal2 yang mesti dituntaskan
beli sepatu yang ditaksir waktu itu, packing, dan yang lain-lain
dimulai dari mandi!

4 comments:

  1. bener banget, telepati does exist. maaf lahir batin mell.. miss you

    ReplyDelete
  2. yuhu.. mba quin.
    i miss u too, hehe.. ;)

    ReplyDelete
  3. ikatan bathin ada korelasinya sama ikatan darah nggak mas? ;p

    ReplyDelete