November 9, 2011

Kehujanan

Di dalam kehidupan dimana rutinitas itu nyata, kehujanan adalah sebuah kata ajaib yang seringkali kujadikan alibi. Terlebih pada bulan-bulan ujung tahun seperti ini.
Kehujanan.
Lebih merupakan sebuah cara melakukan hal menyenangkan tanpa dituduh terlambat dewasa atau bahkan sakit gila.

Dan musim hujan di tahun ketiga ini datang membawa ingatan yang nyata-nyata sudah satu paket dengan rindu. Tentang masa-masa berjaya di semester 1 dulu, waktu-waktu sering kehujanan dulu.

Pada payung yang sering kujadikan kamuflase demi menyamarkan pakaian basah kuyup dibawah rangka-rangkanya, bukan melindungiku dari hujan, tapi dari pandangan orang-orang. Pada cipratan air dalam kubangan tanah becek, juga pada bagian lantai licin lapangan basket yang seringkali membuatku terpeleset.

Ah, juga seorang partner lomba lari saat hujan yang kebetulan satu kelas dan satu kosan. Teman mengambil langkah dan berteduh bersama begitu sampai pada hitungan ketiga. Berlarian di dalam hujan dan menghindari genangan, kemudian, ketika telah sampai, berjingkat naik ke lantai atas dengan air menetes-netes, lantas menggigil di kamar mandi.

kelihatannya kehujanan, padahal kan dia mandi hujan ;p

Atau pernah juga pada suatu malam ketika menemani Azka nyari kosan. Lari-larian dalam gang-gang perumahan Swakarya sambil kesenangan dalam dalih kehujanan. Yang kemudian kepergok seorang kakak angkatan yang entah bagaimana ceritanya bisa neduh di teras kosan. Yang terang-terangan menolak percaya pada penjelasanku soal kehujanan. Kemudian masuk kosan dengan irama yang belum juga berubah, berjingkat naik ke lantai atas dengan air menetes-netes, lantas menggigil di kamar mandi.

Dan musim hujan di tahun ketiga ini sudah kulewati dengan kehujanan 2 kali. Meski masih jauh dari cara seperti dulu, tapi setidaknya sudah membuatku kembali ingat.

Bahwa pernah, pada suatu masa, dengan intensitas tidak biasa. Aku terus-menerus menggunakan "kehujanan" itu sebagai penukar tuduhan terlambat dewasa dengan dalih sedang tergesa-gesa.

Aku kangen bisa kehujanan dahsyat macam dulu, lari-larian sepanjang jalan di salah satu gang selokan mataram; pura-pura kehujanan.
Merasai air langit yang jatuh ke muka dan rambut yang perlahan basah, melintasi lapangan basket sambil takut terpeleset. Lalu, ketika sampai, berjingkat ke lantai atas dengan air menetes-netes, lantas menggigil di kamar mandi.

hari kesembilan bulan november
23:10,
saatnya matikan lampu

No comments:

Post a Comment