November 8, 2011

Si Biru Udah Ketemu

"Mahasiswa Sastra Arab rajin-rajin ya, bawa kamus kemana-mana"

Ini komentar Lia yang sudah berkali-kali kudengar hingga hampir bosan yang kebetulan diulangnya lagi saat kami jalan pulang dari kampus hari ini.

Sebetulnya kalau mau jujur, bukan soal rajin nggak rajin kenapa tiap hari aku kuliah bawa kamus. Alasan pertama bisa jadi sama rata dengan sebagian besar teman-teman sekelasku; kamus munawwir tebal yang potensial untuk nimpuk makhluk hidup sampe benda mati itu lebih mending dibawa-bawa daripada kena omel Bu Uswah yang menusuk tapi mengundang tawa. Yang kedua, karena memang butuh dan ditunjang lagi dengan rasa tahu diri bahwa kamus setebal itu belum mampu dihapal luar kepala.

Untukku pribadi, keberadaan kamus ini seperti sudah dipaketkan dengan rasa aman yang aku butuhkan untuk melewati kelas Komposisi Arab 2 dan Terjemah. Jadi, membawanya lebih terasa seperti membawa rasa aman itu. Yang aku butuhkan itu.

Memasuki semester 5 membawa kamus ini sudah tidak lagi seberat biasanya. Barangkali sudah menjadi sesuatu yang harus ada dan harus dibawa. Bagaimana pun juga!

ini dia, 2 kamus Al-Munawwir yang fenomenal itu. Kalau lagi sial banget, 1 hari mesti bawa dua-dua nya.

Hari Kamis tanggal 3 kemarin, Al-Munawwir biru yang sengaja kubawa untuk masuk kelas Terjemah 1 resmi hilang. Prediksiku awalnya ia tertinggal di salah satu ruang transit Purna Budaya sewaktu tampil di Korean Days 5 hari lalu. Otak kiri bilang, kamus SEBESAR-setebal itu bagaimana mungkin bisa tertinggal? Sementara Otak kanan bilang, untuk sesuatu yang selalu dibawa kemana-mana semacam itu, bisa sampai tertinggal itu sudah resiko, berbeda jika hanya dibiarkan berdiam tak tersentuh di rak buku.

Tapi terlepas apa yang dikatakan oleh otak kanan maupun otak kiri, fakta bahwa kamus biru itu sudah raib tidak bisa lagi dipungkiri. Maka, ketika papa menelpon kemarin dalam rangka mengomeli anaknya gara-gara nomor yang tidak dapat dihubungi ketika idul adha (kali disangkanya aku pergi ngelayap kemana gitu, main-main ke luar kota yang agak jauh) aku pun dengan polosnya mengadu tentang kepentingan beli kamus baru (sebenarnya ingin mengalihkan tapi ternyata ini pengalihan yang fatal dan salah total karena mengakibatkan prosesi kena omel jadi 2kali lebih panjang).

Rencananya aku mau beli kamus baru itu Hari Minggu kemarin, lalu mundur jadi hari Senin, dan kemudian mundur lagi jadi entah kapan. Tapi di Bonbin tadi waktu mau sarapan, aku yang saat itu lagi sama Tika ketemu salah satu anak 2011 yang mengaku membawa pulang kamus Munawwir biruku. Ternyata eh ternyata si kamus aku tinggal di bangku cokelat waktu buru-buru ke purna bareng Neng Ana. Si anak 2011 ini yang rambutnya keriting dan enggak kutahu siapa namanya nemu tu kamus biru lantas dibawa pulang kerumah.

Alhamdulillah *pake gaya syahrini* enggak jadi tekor 100ribu untuk beli kamus lagi. Besok-besok janji mesti lebih aware sama barang sendiri. :)

No comments:

Post a Comment