December 19, 2011

4 siblings #2 (potongan pertama)

Aku menghitung deretan anak tangga yang menurun curam ini satu-satu. Sudah sampai di hitungan seratus tiga puluh, sudah hampir menyentuh dasar. Kak adhi masih di puncak, menatap ragu-ragu pada anak tangga - anak tangga curam sejauh 64 meter dan berkedalaman 40 meter di hadapannya dengan muka pucat. Siluet Kak Adhi nampak jelas, menghalangi terang matahari tepat di depan liang pintu masuk lobang Jepang. Aku sudah di dasar.

“Kak Adhi, enggak masuk?!” seruku padanya, sangat jauh dari intonasi bertanya.

Dahi Kak Adhi mengerucut, ekspresinya campur aduk. “Kita enggak usah jadi masuk aja yuk.”

“Kasih 1 alasan, Mas,” kata Kak Nadia yang mendadak berhenti di tengah-tengah.

“Perasaanku nggak enak, Nad” jawab Kak Adhi singkat. Klasik seperti biasa, irit kata.

Kontan, aku, Bang Hil dan Kak Nadia mengernyit heran. Apa gerangan?

“Maksud aku alasan yang logis, mas”.

“Iya, ada apa to dhi?” Bang Hilmy kembaran Kak Adhi, kali ini mengambil giliran.

“Kan udah kubilang, Hil. Perasaanku nggak enak.”

Sekarang hening, udara di dasar sini dingin.

“Yaudah, kita ndak usah jadi masuk aja,” putus Bang Hilmy tiba-tiba setelah hening yang lama. Aku dan Kak Nadia sontak tidak terima.

“Tapi kita kan udah bayar untuk tiket, mas.”

“Ya ndak papa, kita kan memang kolektor tiket. Anggap aja udah untung nambah 1 tiket di buku album.”

“Tapi aku udah nyampe bawah, Bang” bantahku kemudian. Mencoba peruntungan.

“Justru itu, mumpung masih di bawah dan belum masuk terlalu jauh, mending kita balik sekarang aja yuk” sahut Kak Adhi, melawan bantahanku yang sebenarnya tertuju ke Bang Hilmy.

Aku terdiam. Memutar akal mencari alasan apa lagi yang bisa kupakai. Dua kakakku ini memang kembar yang 180 derajat berbeda sifat tapi kalau soal merayu adik-adik perempuannya, mereka tahu betul harus bahu membahu seperti apa.

“Satu alasan deh, mas,” Kak Nadia mencari celah “tapi yang logis ya.”

Bang Hilmy berdehem, seolah-olah mau mengatakan sesuatu yang benar-benar serius. “Jadi begini ya adik-adikku...”

“yang cantik-cantik, Bang. Hehe..” sambarku sambil cengengesan. Berusaha mendinginkan keadaan.

“Iya, adik-adikku yang cantik-cantik. Jadi begini, seperti yang sudah kita sama-sama tahu, perjalanan telah membuktikan bahwasanya firasat kakak-kakak kalian ini memang seringkali benar. Contoh terdekat sewaktu kita di solo kemarin. Kalian dengar sendiri kan, aku melarang kalian keluar malam itu. Tapi faktanya? Soal dampaknya juga kalian sendiri sudah tahu seperti apa. Aku rasa ini alasan yang logis untuk kita naik lagi ke atas sekarang juga. Ingat, kita ke Sumbar ini bukan ingin cari masalah,” Bang Hilmy menjelaskan dengan nada final. Titik. Seperti menutup celah bagi kami untuk membantah, tapi aku yang sudah memetakan kaki di dasar lobang betul-betul tahu betapa itu merupakan langkah yang salah. Fatal minah!

“Oh jadi maksud Mas Hilmy, kejadian di solo kemarin, aku yang sengaja cari-cari masalah?”

“Bukan gitu, Nad. Tapi..”

“Terserah ya, tapi kalo memang bener firasat Mas Adhi kali ini ndak enak, berarti memang ada yang ndak beres di sini, dan bagiku, itu justru alasan kenapa aku tetep harus masuk.” Kak Nadia berkata sambil membalik badan, menyusulku yang sudah di dasar.

Sebenarnya aku tidak suka menyaksikan kakak-kakakku bertengkar. Tapi ini Bang Hilmy dan Kak Nadia, 20 tahun hidup dengan mereka, aku sudah paham bahwa bertengkar bagi mereka nyaris seintens bernafas. Mau bagaimana lagi? Tipe keras kepala macam Kak Nadia dipertemukan dengan Bang Hilmy yang agak suka mengatur, hasilnya apalagi kalau bukan adu mulut. Tapi seperti antasida yang dapat menetralkan asam, untungnya kami berempat punya Kak Adhi yang selalu mengademkan.

“Yowis, Hil. Menurutku memang nggak logis juga kalau kita sampai enggak masuk cuma karena firasat yang enggak enak aja sementara kita udah jauh-jauh sampai sini. Lagipula, waktu rembuk kemarin-kemarin kita juga udah sepakat dari awal untuk masuk.”

Aku melihat siluet Bang Hilmy dan Kak Adhi yang bergerak menuruni tangga. Dengan latar belakang cahaya, mereka berdialog tanpa suara. Kata Kak adhi, “Nyenggol nyawa sih kamu, Hil” jawab bang Hilmy, “Memang nasip!”. Aku membalik badan sambil mengikik, mengalihkan kepala menatap lorong di depanku sambil mengira-ngira perlu waktu seberapa lama menelusuri lorong bawah tanah sepanjang 1,47 kilometer ini. Udara terasa dingin.

***

Aku meraba dinding-dinding dingin yang sudah di semen kasar sembari mendengarkan cerita Kak Nadia tentang sejarah Lobang Jepang. Di antara kami berempat, memang Kak Nadia yang paling suka sejarah, Bang Hilmy aja kalah. Spesifikasi Kak Nadia lebih pada bangunan-bangunan tua, sementara Bang Hilmy, mungkin pada tokoh pergerakan dan peristiwa sejarah. Itu lah kenapa dalam setiap perjalanan kami, kunjungan ke museum selalu masuk ittinerary. Ini nilai plus bagiku dan Kak Adhi, dengan begitu kami tidak perlu terlalu sering menyewa guide hanya untuk menceritakan tentang sejarah tempat tertentu.

“Kamu tau ndak, mel, dulunya lobang Jepang ini cuma selebar 20 sentimeter. Seenggaknya itu yang kelihatan pada gambar-gambar di buku-buku sejarah. Beda banget kan sama diameter lobang jepang sekarang yang lebarnya hampir sekitar 4 meter. Itu memang sengaja disesuaikan sama postur tubuh tentara Jepang yang ramping-ramping.”

“Wah, berarti dulu kamu ndak bisa masuk sini, Mel.” Tiba-tiba suara Bang Hilmy menyambar dari belakang, menjeda penjelasan Kak Nadia dengan sempurna. Aku tahu betul, pasti kata ramping itu pemicunya. Kak Nadia dan Kak Adhi di belakangku tertawa. Bang Hilmy memang tahu betul cara mencairkan suasana, dan lagi-lagi kali ini aku yang dijadikannya objek penderita.

“Eh, tapi kalau 20 sentimeter, kita berempat juga nggak bisa masuk, Hil. Iya kan, Nad?” suara Kak Adhi tertangkap telingaku yang berjalan paling depan. Betul kan apa yang kubilang, Kak Adhi memang antasida.

“Celah ini buat apa Kak?” tanyaku heran sambil menunjuk salah satu celah di dinding.

“Itu echo, mel.”

“Oh, ini echo? Tak kira tadi cuma ornamen buat variasi aja, biar enggak terlalu polos,” Kak Adhi menyahut, suaranya kedengaran takjub. Aku membalik badan dengan dahi berkerut, “celah ini namanya Eko? Lucu ya, kayak nama orang Jawa, padahal di Sumatera.”

Tawa Kak Nadia, Bang Hilmy dan Kak Adhi pecah serentak. “Echo itu peredam suara, adikkuuu.... bukan nama," jelas Kak Adhi dengan gemas. "Kalau eko yang kamu sebut itu sih, tetangga kita yang tentara waktu di Aceh dulu. Coba deh lihat, celah itu ada setiap satu meternya, untuk meredam suara.”

“Iya, Mel. Echo itu peredam suara, bukannya nama. Tapi memang iya sih, para pekerja untuk pembuatan bunker ini dulunya memang sengaja dikirim dari luar Sumatera, salah satunya Jawa.”

“Supaya kalau ada Romusha yang berhasil melarikan diri, dia ndak bisa membocorkan rahasia keberadaan bunker ke penduduk setempat karena kesulitan berkomunikasi, kan Nad? Jadi Mel, kalau kamu mau ngasih nama celah itu Eko juga ndak papa. Siapa tahu orang yang buat celah itu dulu orang jawa dan namanya Eko,” sambar Bang Hilmy sambil mesem-mesem cengengesan.

“Iya, Mas. Tumben, Mas Hil pinter. Bunker ini kan dulu dibuat dari tahun 1942 sampai 1945 sebagai pusat segala kegiatan pertahanan selama perang Dunia ke II dan perang Asia Timur Raya. Jadi, lorong-lorong ini dulunya merupakan ruangan-ruangan yang dipakai untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk makan, untuk tidur, untuk rapat, untuk tempat simpan amunisi, tempat penyiksaan, tempat pengintaian, tempat penyergapan, dapur, penjara, juga bilik serdadu militer tentara Jepang. Dan celah-celah di setiap satu meter ini gunanya untuk meredam suara romusha atau tahanan yang disiksa supaya ndak menganggu pekerjaan Romusha lain maupun para tentara Jepang yang ada di sini. Ndak heran, tahun 1946 waktu Lobang Jepang ini akhirnya ditemukan oleh warga sekitar, ada banyak tulang belulang manusia yang berserakan di sepanjang lorong. Serem ya?” Kak Nadia semangat sekali bercerita tentang Lobang Jepang kepada Kak Adhi dan Bang Hilmy yang juga begitu seru mendengarkan sampai-sampai tidak ada yang sadar pada aku yang tertinggal di belakang.

Aku masih di tempatku berdiri tadi, meraba celah kecil yang kata Bang Hilmy boleh-boleh saja kunamai Eko, setengah membayangkan jari-jariku dapat menangkap jerit-jerit penyiksaan yang harus diserap Eko berulang-ulang agar dapat teredam. Lalu bertahun kemudian, ketika bunker ini akhirnya ditemukan, ada tulang belulang Eko di atas tanah yang kupijak, berserak di bawah celah yang ia buat.

to be continued...

3 comments:

  1. hm, asyik sekali....

    ditunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
  2. nunggu lanjutannya..

    oiya, seperti tulisan 4 sibling versi Nad.. tolong buatlah karakterku yang rajin mandi ya hihihi

    ReplyDelete
  3. hehew, masih banyak miss nya tapi. nanti ada revisinya mas, kak.

    ReplyDelete