December 7, 2011

5:52 - 6:18

Seharusnya aku engga perlu buru-buru mengisi ulang Hape yang habis batre seharian begitu pulang kalau tahu moodku bakal menjadi nista begini begitu bangun pagi-pagi. Seharusnya hari ini menyenangkan; bangun pagi, sholat shubuh dan ikut acara jurusan di ruang A201. Tapi sms tadi malam ternyata masih menyisa dan pengaruhnya masih sama kuatnya. Panjang-panjang dan menyebalkan. Harusnya tadi malam aku pura-pura tidur saja, mengabaiakan bunyi hape yang mengabarkan sms masuk kalau saja aku tahu betapa isinya ternyata begitu busuk.

Yang begini ini sama tidak enaknya seperti membersihkan keranjang sampah di kamar mandi seperti bersama Mita tempo hari. Sejujurnya tidak pernah masalah membuangkan sampah, bahkan meski itu sampah orang lain. Tapi yang sekali ini rasanya busuk berkali lipat.

Kenapa keadaan jadi begitu jahat? Buta. Menutup telinga. Tidak kenal ampun.

Mengeluh ini bukan soal ikhlas tidak ikhlas. Cuma sekotak jeda yang aku butuhkan untuk kemudian bisa mengerjakan. Dan obat kenistaan ini memang cuma satu, terukir tepat pada tulisan di hadapanku; Sabar.

Aku memang bukan tipe orang yang sabar, tapi semoga akan selalu ada yang mengingatkanku untuk bersabar. Dan untuk sekali ini, lewat kotak tidak seberapa ini, menjadi sabar cuma butuh 26 menit.

2 comments: