December 12, 2011

Buton

Agak-agaknya aku sudah mulai menetapkan pilihan pada Buton. Sebuah nama yang kali pertama kudengar dalam buku Meraba Indonesia. Lagi-lagi ini seperti loncatan rencana-rencana yang tidak terduga. Sebuah contoh target yang meleset namun malah digantikan dengan hal lain yang kelihatan lebih baik. Sepertinya akan lebih baik.

Yang mau aku katakan ialah bahwa betapa merelakan mimpi itu tidak mudah. Merelakan mimpi memang tidak pernah mudah. Bagaimana mungkin bisa mudah? Apalagi mimpi sejak bertahun-tahun.

Tapi yang harus tetap kuingat ialah bahwa manusia memang cuma bisa membuat rencana. Membuat target-target. Memasang mimpi-mimpi mereka. Sedang yang memutuskan? Tidak perlu dijawab, nenek-nenek makan lolipop juga tahu soal itu.

Jadi, sudah bisa disebut ikhlas, ya mel? Merelakan mimpi umur 20 itu. Janji bertahun lalu.

Dan kupikir nanti memang akan menyenangkan. Insya Allah akan menyenangkan.
2 bulan tinggal di sudut selatan sebuah pulau, dalam desa yang mesti ke jalan aspal hanya untuk nyari sinyal. Yang setiap kali ada acara perayaan cuma akan berlangsung satu jam, terpusat di satu titik sementara sisanya mati, yang untuk ke pasar saja mesti pakai kapal boat, dan selama 2 bulan akan terus-terusan makan seafood.

Jadi nanti selama 2 bulan yang akan kupijak adalah batu karena tanah berada jauh di dalam perut pulau itu. Air cuma akan menyala selama beberapa jam, tidak bisa dihabis-habiskan. Kalau beruntung, mungkin aku akan ditempatkan di mawasangka pesisir, tempat listrik bahkan belum mengalir.

Kedengaran seperti KKN yang benar-benar keren. :P

2 comments: