December 17, 2011

cemas

Kadang-kadang aku pikir, merasa cemas itu ada gunanya juga. Seringkali merasa cemas menjadi indikasi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ini bukan berarti rasa cemas memiliki sihir atau semacamnya yang berkemampuan dapat menenangkan badai. Tapi dengan rasa cemas itu, aku mengusahakan sesuatu. Rasa cemas membuatku berbuat sesuatu. Rasa cemas menjelang ujian akan memaksaku untuk membaca buku, belajar. Cemas sebelum tampil menggerakkanku untuk mengulang-ulang gerakan. Merasa cemas tentang nilai yang buruk membuatku mau tidak mau mengerjakan tugas-tugas komposisi yang banyak itu, menerjemahkan 6 lembar teks berbahasa arab setiap minggu.

Sebaliknya, tidak merasa cemas malah seringkali merujung prahara. Chaos ba'da UTS itu contohnya, dan selanjutnya memang tidak ada hal yang baik-baik saja. Ketika tampil juga biasanya begitu, dalam kasusku, performa justru tidak lebih baik ketika tidak ada nervous yang mengiringinya. Karena itu tadi, tidak ada persiapan untuk menghadapi yang terburuk.

Jadi, cemas itu baik karena mengingatkan kita tentang yang terburuk. Menyiapkan hati kita untuk menghadapi badai. Memaksa kita melakukan hal-hal yang dapat membuat kita bertahan sampai akhirnya kita menemukan baik-baik saja itu di ujungnya. Cemas mengingatkan kita tentang antisipasi.

Kemarin sore, aku menemukan kartu ATMku yang memang cuma satu-satunya itu tidak ada di tempat biasa. Entah kemana. Terakhir kali ambil duit mungkin sekitar satu minggu lalu. Atau mungkin 2 minggu? Entah. Awalnya kupikir mungkin terselip di suatu tempat, ada di salah satu tas atau malah tertinggal di sela kantong celana. Baru pagi ini aku membongkar kamar dan ternyata tetap tidak ada, tapi perasaanku sama saja, tidak cemas sama sekali, apalagi panik. Malahan sedikit penasaran dengan respon papa kalau mendengar aku menghilangkan ATM atas nama kami berdua itu, yang berwarna gold mewah itu, yang sudah dengan sengaja repot-repot dibuatnya sedikit lebih spesial dibanding kartu ATM merah punya mama, lebih spesial dari kartu ATM milik Tio juga.

Rencananya aku hari ini mau me-time ke malio. Nongkrong di taman pintar sambil makan soft es krim depan shopping yang dijual di dalam mobil. Memperhatikan bocah-bocah main setelah membeli beberapa buku yang aku mau, lalu makan siang di McD dengan tujuan awal mendayagunakan voucher gratis french fries dan float cola yang aku dapat dari talkshow sastra. Tapi tentu saja enggak jadi. Mana mungkin jadi, sementara aku harus hemat-hemat sampai hari senin nanti karena duit yang sudah tentu enggak bisa ditarik. Lagipula, mungkin saja aku bakal diomeli karena sudah tidak hati-hati. Ngomong-ngomong aku agak berbunga-bunga juga dengan prediksi akan dimarahi ini. Kapan ya terakhir kali aku diomeli? #gila.

Sebenarnya aku enggak segila itu juga. Aku cuma senang karena akhirnya punya kesempatan menyampaikan pesan. Bahwa sehati-hati apapun anak perempuan mereka ini, aku tetap bisa ceroboh juga. Masih perlu terus diperhatikan juga.

Oh, ini pathethic ya? atau malah manja?

Baiklah, jadi kita lihat saja ketidakcemasan ini selanjutnya akan berbuntut bagaimana.
Selamat hari Sabtu.

menikmati hari sabtu,
besok mau diajak Mita sepedaan sampai pantai Depok #jogetjoget

1 comment:

  1. cemas itu kekuatan dari orang-orang beriman. baca selengkapnya dengan follow blogku.

    ReplyDelete